Lupakan Semifinal, Timnas U-22 Diminta Fokus Hadapi Myanmar

GN/Istimewa
Para pemain timnas U-22 Indonesia diharapkan tidak terlarut dalam suasana kesedihan setelah kekalahan melawan Malaysia.

KUALA LUMPUR (global-news.co.id)–Timnas Indonesia U-22 bakal bertanding di laga perebutan medali perunggu SEA Games 2017, melawan Myanmar. Laga ini bakal diselenggarakan, Selasa (29/8/2017), di Stadion Majlis Perbandaran Selayang (MPS).

Keputusan perebutan tempat ketiga bermain di Stadion MPS baru saja diambil lewat rapat koordinasi yang digelar di Hotel Hilton Petaling Jaya. Rapat ini dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Dato Lokman Hakim Ali, Minggu (27/8/2017).

Dari rapat tersebut, diputuskan final antara Malaysia versus Thailand digelar di Stadion Shah Alam, Selasa (29/8/2017), pukul 20.45 waktu setempat. Tiket dibanderol RM21,2 atau setara Rp66 ribu.

Sementara, laga Timnas U-22 kontra Myanmar dihelat pada pukul 16.30 waktu setempat atau 15.30 WIB. Stadion MPS diketahui hanya memiliki kapasitas 16.000 penonton.

Stadion MPS sebenarnya sempat digunakan Timnas U-22 saat menghadapi Timor Leste dan Vietnam. Namun, pelatih Timnas U-22, Luis Milla Aspas, merasa kecewa dengan kualitas stadion ini. Lebar lapangan tak sesuai. Kualitas rumputnya pun tak bagus.

Seperti diketahui, timnas Garuda Indonesia kini mengincar medali perunggu cabang olahraga sepakbola SEA Games 2017. Ini setelah target emas terlepas setelah timnas Indonesia dikalahkan timnas Malaysia 1-0 di Stadion Shah Alam, Sabtu (26/8/2017).

Memperoleh medali perunggu tentunya menjadi pelipur lara bagi timnas Indonesia. Kekalahan dalam laga melawan Malaysia di semifinal memang sangat menyakitkan. Betapa tidak, sepanjang pertandingan, anak asuh Luis Milla menguasai bola. Tapi gara-gara kelengahan sedikit saja, gawang timnas yang ditukangi Satria Tama, harus kebobolan pada menit 87, oleh tandukan Thanabalan Nadarjah.

Semua pemain Indonesia sangat kecewa, tak terkecuali pelatih Timnas U-22, Luis Milla Aspas. “Saya sedih, semua pemain sedih. Kami kebobolan di menit akhir. Malaysia memiliki keunggulan fisik, mereka unggul bola mati,” kata Luis Milla.

Menghadapi Myanmar, Timnas U-22 bertekad tampil mati-matian untuk bisa meraih medali perunggu. “Kami harus bawa pulang medali saat pulang. Tak ada kata lain. Kami ingin fokus untuk menghadapi laga melawan Myanmar,” ujar gelandang Timnas U-22, Evan Dimas Darmono.

Tim sepakbola Indonesia sudah sangat lama puasa emas di SEA Games. Terakhir, mereka menyabetnya pada SEA Games 1991, Manila, Filipina. Kala itu, Timnas Indonesia digawangi oleh Ferril Raymond Hattu cs.

Sementara itu, Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria di Kuala Lumpur, Minggu (27/8/2017), mengungkapkan, meski gagal ke final SEA Games XXIX/2017, para pemain Timnas U 22 Indonesia diminta tetap semangat. “Kita memang kalah dan itu harus diterima. Cara menerima yang paling baik adalah berjuang lebih maksimal lagi. Para pemain harus kembali fokus dan semangat melawan Myanmar untuk dapatkan perunggu,” ujar Ratu Tisha Destria.

Selama tampil di SEA Games 2017, pasukan Garuda Muda tampil cukup impresif. Mereka hanya sekali kalah saat ditumbangkan Malaysia 0-1 pada babak semifinal.

Selebihnya, pasukan Luis Milla tak pernah kalah. Indonesia imbang lawan Thailand (1-1), Vietnam (0-0) dan tiga kali menang kontra Filipina (3-0), Timor Leste (1-0) dan Kamboja (2-0).

Dari segi pertahanan, Indonesia hanya dua kali kebobolan, satu dari Thailand dan satu dari Malaysia. Penampilan brilian penjaga gawang Satria Tama Hardianto dan Kurniawan Kartika Ajie mengamankan gawang Indonesia bersih selama 522 menit dan tak kebobolan selama empat laga beruntun.(faz)