Kisah Pak Tani Indonesia di Negara Paman Sam: Sambil Bertani Mengajarkan Pendidikan Karakter

 

GN
Kebun Haiqal Garden milik pasangan suami istri Syarif Syaifulloh dan Ummu Hani.

Warga negara Indonesia di Amerika Serikat mengikuti pro-kontra penguatan pendidikan karakter di Tanah Air. Salah satunya pasangan suami istri Syarif Syaifulloh dan Ummu Hani yang tinggal di Philadelphia, Pennsylvania, AS. Yang menarik pendidikan karakter diselipkan lewat simbol-simbol bertani.

————————————–

Laporan Gatot Susanto

————————————

SYARIF SYAIFULLOH sibuk melayani warga yang ingin memasak ala masakan Tanah Air. Dua orang ibu yang mendatangi Haiqal’s Garden–lahan pertanian milik pasangan suami istri Syarif Syaifulloh dan Ummu Hani– terlihat meminta sayur kangkung, daun pepaya, dan lain-lain. Semua tanaman itu ada di kebun Haiqal yang seluruhnya organik.

Hasil panen kali ini melimpah ruah. Sayur kangkung, kubis, kol, tomat, mentimun, buah cerry, atau pepaya, semua berukuran jumbo. Segar menawan, sedap dipandang, sehingga menyenangkan setiap warga yang datang, baik yang sekadar melihat-lihat, atau meminta sayur untuk dimasak di rumah. Dan semua gratis.

BERTANI: Syarif Syaifulloh dan putranya di depan banner promo Haiqal’s Garden.

“Saya ingin memasak bubur Manado,” kata Watty, tetangganya yang sesama WNI.  “Hati-hati Mbak Ati  Amiati tangannya gatal. Tapi ndak apa-apa gatal demi dapat sayur organik,” kata Watty kepada tetangga lain sesama WNI yang juga antre sayur organik.

Lain lagi Putri Mulyani. Perempuan ini juga antre sayur untuk inovasi minuman es cendol. Mungkin bagi orang lain sudah umum membuat cendol terbuat dari daun Suji, tapi Putri Mulyani ingin membuat cendol  terbuat dari daun Kale organik yang masih segar langsung dipetik di kebun #haiqalsgarden. “Rasanya sangat lezat, lembut dan nikmat. Inovasi Mbak Putri ini bagus,” kata Syarif.

Bukan hanya tetangga sesama WNI, orang bule pun banyak yang mampir ke Haiqal’s Garden. Salah satunya Danie. Selain menikmati mentimun dan sayuran segar, Danie juga datang untuk mengambil foto dan video produk pertanian tersebut, sekaligus wawancara dengan Pak Tani—julukan yang diberikan komunitas WNI di Philadelphia, AS, kepada Syarief. Sukses Haiqal’s Garden memang sudah banyak menjadi bahan liputan media, baik cetak maupun televisi, khususnya media di negeri Paman Sam.

Pujian pun datang dari teman sesama WNI dan para bule yang datang. Neneng Chairunisa Lahmuddin misalnya menilai tangan Pak Tani superdingin sehingga menanam apa saja hasilnya akan bagus. “Syarief menanam apa aja tumbuh subur. Dia selalu sukses,” katanya.

Syarief tak hanya memberikan sayur secara gratis, tapi juga mengajari teman-temannya bercocok tanam. Cara menanam mentimun, misalnya, sebenarnya mudah. Bisa di pot atau ditanam di tanah, lalu dirambatkan ke pagar dengan dikasih kayu sebagai rambatannya.

“Untuk  hasil yang bagus, tanah sebelum ditabur bibit terlebih dahulu digemburkan lalu dikasih pupuk, bisa kompos atau pupuk kandang,  ke dalam bibit 1 inchi. Selamat mencoba. Salam gardening,” katanya kepada warga yang meminta saran cara menanam sayur.

Syarief mengatakan, kebahagiaan dirinya adalah ketika panen telah tiba dan hasil panen bisa dinikmati oleh para diaspora—WNI yang bermukin di Amerika. Dia bersyukur setiap kali hasil panen bisa dinikmati semua orang dengan perasaan gembira sebab memang tidak mudah mendapatkannya di Amerika.

“Syukur alhamdulillah. Banyak juga yang meminta kepada saya untuk membukukan kiat dan cara-cara bercocok tanam tapi sampai saat ini saya belum sempat. Tapi setiap kegiatan awal untuk berkebun saya sudah mulai memvideokan dan mudah dicerna serta dimengerti secara praktis.  Insya Allah dalam beberapa minggu ini saya akan share. Salam gardening,” katanya.

Dengan kaos merah, celana pendek selutut, bercaping, dan berkaca mata hitam, Pak Tani lalu meneruskan aktivitasnya mencangkul lahan di sekitar rumahnya itu dengan telaten. Dan tentu dengan perasaan gembira.

 

 

Pendidikan Karakter

 

Bertani di negeri orang bukan untuk tujuan ekonomi, tapi untuk memetik kebahagiaan bersama semua orang. Menikmati lezatnya senyuman bersama semua warga. Lebih dari itu Pak Tani juga ingin mendidik anaknya dengan pendidikan karakter lewat simbol-simbol alam di lahan pertaniannya.

Dua putra pasangan ini, Haiqal dan Putra, adalah warga negara Amerika Serikat sebab keduanya lahir di negeri Paman Sam, sementara orang tuanya tetap warga negara Indonesia. Sejak kecil kedua bocah itu menyerap kultur Amerika. Dengan bertani ala Indonesia, keduanya bisa tetap memiliki karakter leluhurnya yang orang Indonesia.

Baik Syarif Syaifulloh maupun Ummu Hani mengatakan, bahwa Haiqal dan Putra yang lahir di Amerika sengaja dididik ala karakter Indonesia sejak usia dini.  Keduanya punya niat untuk anak-anak supaya tinggal di Indonesia sejak usia 4 dan 5 tahun, karena usia yang masih balita akan mempermudah mengajarinya pendidikan karakter. “Biar karakternya, kulturnya, menyambung dengan tanah kelahiran kami,” katanya.

Syarief ingin  mengenalkan karakter pada anak agar lebih dekat dengan Indonesia, soal kebudayaan Indonesia, tentang sopan santun, tata krama, menghormati pada yang lebih tua, dan paling penting adalah pendidikan agama. Sebab agama adalah pondasi utama. Ketika lingkungan mempengaruhi anak, agama akan melindungi mereka.

“Nah kalau soal kultur Amerika yang bisa diterapkan pada anak, antara lain soal belajar disiplin, menghargai waktu dan tegas jujur serta berani tampil memaparkan pendapat,” katanya.

Namun, hidup di Amerika  tentu berbenturan kebudayaan sebab warga di negeri Paman Sam dikenal individualis, hedonis, glamor, dan sejenisnya.  Namun Syarif dan Hani sejak dini  menanamkan kesederhanaan pada anak-anak, karena pada dasarnya kasih sayang orang tua bukan hanya diperlihatkan dengan memberi apa saja yang mereka minta, tapi dengan menanamkan cara hidup yang benar. Gaya hidup sederhana. Sebab dengan cara itu anak akan bisa menghargai  orang tuanya.

“Selama hidup di Amerika saya juga menanamkan kesederhanaan itu, untuk bekal anak. Saya jarang menuruti permintaan yang berkaitan dengan mainan, tidak membiasakan jika jalan keluar lalu membeli barang yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan. Saya tidak memperkenalkan anak-anak ke tempat bermain yang menggunakan transaksi uang. Saya lebih senang memperkenalkan anak-anak pada taman bermain umum, jalan- jalan ke hutan kota dan sungai,” katanya.

Saat berada di taman, anak akan bermain dengan temannya. Kadang anak ingin meminjam mainan milik temannya. Untuk itu dia mengajarkan untuk berani meminjam tapi sekaligus segera mengembalikannya kembali dengan baik.

“Jadi jangan merasa memilikinya. Kalau kata bahasa orang tua : Jangan kemilikan yang bukan miliknya, ” katanya.

Begitu juga soal pendidian patriotisme dan nasionalisme. Jika ditanamkan di sekolah pendidikan  kebangsaan ini secara otomatis tertanam pada jiwa anak, tapi jika tidak, maka akan dengan sendirinya luntur, apalagi anak tinggal di negeri orang.

“Pendidikan karakter bangsa sangatlah diperlukan di masa usia anak- anak, karena akan lebih cepat tersimpan di memorinya,” kata pria yang ahli pantomim ini.

Untuk mendapatkan pendidikan karakter pada anak, kata dia, harus ada kerja sama antara orang tua dan sekolah, karena tanggung jawab bukan hanya di sekolah, tapi juga di rumah. Bahkan keluarga menjadi yang pertama dan utama menanamkan pendidikan karakter.

“Pendidikan karakter bisa ditanamkan oleh orang tua lewat  mendongeng kepada anak di sela anak santai. Orang tua bisa menceritakan sejarah para pahlawan, kisah Nabi, dan perjuangan nenek kakeknya di masa perjuangan. Jika anak sudah tertanamkan pendidikan karakter dengan baik ,maka untuk terjun ke masyarakat pun akan lebih mudah,” katanya.

Lalu apakah untuk pendidikan karakter sekolah di Philadelphia menerapkan full day school? Ternyata tidak. “Sekolah anak saya tidak menerapkan full day school, hanya saja anak saya banyak mengikuti kegiatan ekstra kulikuler,” katanya.

Banyak mengikuti ekstrakurikuler tujuannya agar anak tidak beraktivitas di tempat yang salah dan negatif.  Anak-anak di Indonesia sudah banyak dipengaruhi tayangan TV, game, dan internet. Tapi alhamdulllah Haiqal dan Putra belum mengenalnya. Belum “disandera” oleh teknologi itu.

“Anak-anak belum terpengaruh internet, TV, dan game karena memang dari kecil saya tidak kenalkan dengan itu. Untuk menghadapi anak yang sudah keranjingan TV dan gadget tugas orang tua mengarahkan kegiatan yang lain, karena jika tidak tetap saja anak akan terpengaruh. Nah, jika dari awal memang tidak diperkenalkan maka anak akan bisa mencari alternatif kegiatan yang lain.  Orang tua harus tanggap dan mencari alat permainan baru, saya pikir banyak kegiatan buat anak yang tidak mengandalkan TV dan gadget,” katanya.

Penguatan pendidikan karakter hingga sekarang menjadi isu hangat di Tanah Air. Pro-kontra mewarnai kebijakan Mendikbud Muhadjir Effendy tersebut. Banyaknya protes dari masyarakat soal penguatan pendidikan karakter  yang dikaitkan dengan penambahan jam belajar (full day school) membuat kebijakan ini dipending sementara menunggu keputusan presiden. Syarief berharap agar pendidikan karakter ditanamkan dengan baik kepada anak-anak Indonesia. (*)