Garam Impor dari Australia tiba di Pelabuhan Tanjung Perak

 

GN/Istimewa
Kapal MV Golden Kiku sandar di Dermaga Jamrud, Pelabuhan Tanjung Perak, Sabtu (12/8/2017) dini hari tadi.

SURABAYA (global-news.co.id)-Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta kepada pihak yang menentang agar tidak alergi terhadap kebijakan impor garam kalau memang sudah sangat dibutuhkan akibat kekurangan produksi, termasuk di wilayah Jawa Timur. Sementara itu, sebanyak 27.500 ton garam impor dari Australia tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Sabtu (12/8/2017).

Kapal MV Golden Kiku yang mengangkut 27.500 ton garam impor dari Australia sudah datang di Dermaga Jamrud Pelabuhan Tanjung Perak pukul 18.00 WIB, Jumat (11/8/2017). Kapal kemudian baru bisa sandar dini hari 02.00 WIB, Sabtu dini hari.

Dolly Parlagutan Pulungan, Direktur Utama PT. Garam (Persero), mengatakan, 27.500 ton garam yang tiba di Pelabuhan Tanjung Perak merupakan bagian dari impor 75 ribu ton garam konsumsi dengan kadar NaCl paling sedikit 97 persen.

“Kami siap menjalankan penugasan dari pemerintah,” ujar Dolly Parlagutan Pulungan dalam rilis yang diterima redaksi Global News. “Kedatangan dua kapal tersebut dapat mendistorsi harga garam di end user menjadi berkisar Rp. 4.500 sampai dengan Rp. 5.000 per kilogram,” ujar Dolly.

Selain di Tanjung Perak, kapal pengangkut garam juga sudah sandar di Pelabuhan Ciwandan Banten dan Pelabuhan Belawan Medan.

Sehari sebelumnya kapal MV. Eco Destiny sudah tiba, Kamis (10/8/2017) pukul 03.00 WIB dini hari di Pelabuhan Ciwandan Banten dengan garam impor sebanyak  25.000 ton.

Sedangkan satu kapal lagi, MV. Uni Challenge dijadwalkan datang pada tanggal 21 Agustus 2017 di Pelabuhan Belawan Medan. Kapal tersebut mengangkut  22.500 ton. Dengan datangnya kapal ketiga tersebut diharapkan harga garam di end user dapat terdistorsi menjadi Rp. 4.000 per kilogram.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur H Soekarwo mengatakan, Indonesia harus membiasakan jika kekurangan maka diperlukan impor, kemudian kalau kelebihan maka ekspor.

Menurut dia, khusus garam di Indonesia saat ini memang sedang kekurangan karena dari segi teknis produksi yang mengandalkan cuaca tidak sesuai dengan harapan.

Pakde Karwo, sapaan akrabnya, juga meminta semua pihak tidak anti, terlebih terjangkit sindrom kekhawatiran terhadap impor produk yang di Indonesia sudah sangat kekurangan.

Bahkan, orang nomor satu di Pemprov Jatim itu beberapa waktu lalu mengirim surat ke Kementerian Perdagangan RI untuk meminta agar mempertimbangkan pembukaan kran impor garam guna mengatasi kelangkaan komoditas itu saat ini.

Sekadar diketahui, tahun 2017, PT. Garam siap memaksimalkan produksi garam bahan baku sebesar 300.000 ton pada periode bulan September hingga bulan November 2017. Untuk produksi garam rakyat nasional tahun ini diprediksi akan menghasilkan garam bahan baku sebesar 1.000.000 ton, sehingga total supply garam nasional pada tahun 2017 sebesar 1.375.000 Ton.

Dengan total supply garam nasional tersebut diatas harapannya dapat mencukupi kebutuhan garam konsumsi nasional di luar kebutuhan industri aneka pangan yang diprediksi berkisar kurang lebih 450.000 ton serta dapat menstabilkan harga garam di end user. (ant/faz)