Dikenal Supel dan Periang, Ramisya Tewas Digigit Anjing Peliharaan

GN/detik
Foto korban Ramisya Bazigha semasa masih hidup dikenal ramah dan periang.

MALANG (global-news.co.id) Ramisya Bazigha, bocah kelas 2 SDN Blimbing 3 Malang, meninggal diduga kehabisan darah akibat gigitan seekor anjing pitbull, dikenal lingkungan rumah dan sekolah sebagai sosok yang supel nan periang.

Titin Utaminingsih, tetangga korban yang juga Ketua RT 02 RW 03 Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, masih teringat betul begitu riangnya Ramisya bermain. Hampir tiap pagi, ia melihat Sasa bermain sepeda bersama anak-anak seumurannya. Bahkan Minggu pagi, sebelum ditemukan bersimbah darah setelah digigit peliharaan orangtuanya, Sasa terlihat bersepeda dengan riang, berputar di sekitar rumahnya. “Anak itu sangat ramah. Kalau bersepeda, dia selalu menyapa saya,” ucap Titin.

Sekalipun tidak ada hubungan keluarga, namun Titin mengaku ikut merasa kehilangan bocah akrab dipanggil Sasa.

Beberapa saat ditemukan bersimbah darah di halaman rumahnya, bocah kelas 2 SD itu meminta dibelikan jilbab pada neneknya. Diungkapkan Titin, siang hari, sebelum peristiwa nahas itu, Sasa berbelanja di Malang Olimpic Garden (MOG) bersama nenek dan pamannya. Saat itu, ia mengetahui kalau Sasa berbelanja jilbab baru. “Katanya saat berbelanja, dia minta jilbab baru untuk dipakai,” ujar Titin.

Sekitar pukul 14.30 WIB, mereka pulang berbelanja. Neneknya, Sri Hartatik langsung mengingatkan untuk segera salat berjamaah. “Lalu neneknya dan Sasa salat mengejar waktu Dhuhur,” terangnya.

Sesaat kemudian, setelah salat, Sasa langsung bermain di teras rumahnya, tak jauh dari kandang anjing pitbull yang diberi namakeluarganya ‘Sapi’.

“Saya tak tahu bermainnya seperti apa, tiba-tiba saya mendengar neneknya, Sri Hartatik berteriak-teriak. Dia masih memakai mukena tapi mukena itu sudah berlumuran darah,” terangnya.

GN/Istimewa
anjing Pitbull bernama sapi yang menyerang korban kini sudah diamankan di Mapolres Malang.

Diceritakan, Sri Hartatik mendapati cucunya telah digigit anjing itu. Sri Hartatik yang panik berusaha menyiram air ke arah Sapi. “Karena biasanya kalau disiram air, anjing itu langsung masuk ke dalam kandang. Tapi ternyata tetap menggigit cucunya. Terus anjing itu juga dipukul pakai tangan, tetap saja anjing itu tak melepaskan gigitannya,” terangnya.

Kejadian tersebut diduga saat korban Ramisya hendak mengambil boneka yang terjatuh tepat mengenai pitbull yang sedang tertidur di halaman belakang rumah.

Titin melihat peristiwa itu terjadi begitu cepat. Saat itu, sekitar pukul 14.45 WIB. “Tidak sampai 5 menit peristiwa itu terjadi,” ujar dia.

Ia yang tergopoh-gopoh keluar rumah bersama para tetangga lainnya tidak bisa berbuat apa-apa. Cuma bisa ikut panik. Saat itu ia melihat tubuh Sasa tidak lagi bergerak berada tak jauh dari tubuh anjing. Ia melihat ada luka sobek lebar, bekas gigitan anjing di leher bocah yang masih usia 2 SD itu. Wajah bocah tersebut juga telah terlihat penuh cakaran.

“Kami tak ada yang berani mendekat. Hanya bisa melihat sambil menunggu ayahnya datang. Ngeri semua yang melihat kejadian itu,” jelas perempuan yang juga Sekretaris PKK RW 03 itu.

Sesaat kemudian, ayah si bocah datang untuk menenangkan anjing itu. Setelah peristiwa nahas itu, Titin masih tak habis pikir dengan perilaku ‘Sapi’ yang menyerang tuannya. Meski jarang dikeluarkan, selama ini, ia mengetahui anjing itu tidak pernah bersifat galak atau menyerang. Ia sering melihat Sapi dimandikan oleh pemilik rumahnya, pasangan Wisnu (36) dan istrinya Dyan (38).

Sapi terlihat jinak dan penurut. Bahkan sesekali terlihat bermain dengan Sasa. “Sasa sering juga ngasih makanan, seperti roti atau biskuit,” ujarnya.

Tidak hanya dikenal periang dan supel, di sekolah, para guru juga juga mengenal Ramisya sebagai sosok yang suka bercanda dan periang. “Korban supel, dan periang anaknya. Tahun ini baru naik kelas 2,” kata Suryatiningsih, salah satu guru SD Negeri Blimbing 3 saat melayat di rumah duka Jalan Candi Penataran, Kota Malang, Senin (7/8/2017).

Suryatiningsih mengaku, tidak begitu akrab korban, karena bukan guru kelas 2. Tetapi, semua banyak mengetahui korban adalah siswi yang baik. “Saya tidak begitu mengenal korban. Tapi anaknya baik, semua mengenalnya demikian,” ungkapnya.

Titin Utaminingsih, Ketua RT setempat, menceritakan Ramisya diadopsi saat berusia dua tahun, kondisi kesehatan bocah kelas 2 SD Negeri Blimbing 3 Malang, saat itu tidak begitu baik. Hingga mematik perhatian Wisnu dan istrinya untuk jadi anak angkat. “Korban adalah anak angkat, sejak usia dua tahun dibawa dan dirawat seperti anak sendiri dari panti asuhan,” kata Titin. “Diambil dan dirawat dari panti asuhan sejak usianya 2 tahun,” cerita Titin.

Tragedi yang dialami Ramisya kini meninggalkan persoalan.  Polisi pun mendalami kejadian mengerikan tersebut. Guna memastikan kondisi pitbull, polisi juga akan mendatangkan dokter hewan. Saat ini, pitbull yang menggigit Ramiza sudah diamankan di Mapolres Malang Kota.

“Kami khawatir akan terulang, anjing kita amankan dan nanti akan kita datangkan dokter hewan untuk memeriksanya,” ujar Kapolres Malang Kota AKBP Hoiruddin Hasibuan. “Kita masih meminta keterangan keluarga dan saksi. Karena sampai kini, belum diketahui persis bagaimana peristiwa itu terjadi. Neneknya tahu ketika anjing melolong,” sambung Hasibuan.

Kapolres belum dapat memastikan apakah ada unsur kelalaian hingga Ramisya tewas tergigit pitbull. “Nanti penyidik biar menangani, sementara kami belum bisa memastikan ke arah sana (kelalaian),” tandasnya.

Ramisya sendiri sudah dimakamkan di pemakaman umum Sudimoro Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Orangtua angkat Ramiza, Dyan dan Wisnu sendiri tak kuasa menahan sedih selama proses pemakaman. Dyan, ibu angkat Ramiza terlihat mendekap foto Ramiza saat lulus Taman Kanak-Kanak (TK) berukuran 10R. Cuaca terik mengiringi pemakaman siswi kelas 2 SD Negeri Blimbing 3 itu.

Pemakaman jenazah Ramiza memang sempat mundur, karena menunggu proses visum di Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, selesai. Usai membacakan doa dan mengakhiri proses pemakaman, para pelayat beranjak meninggalkan area makam umum, tidak satu katapun diucapkan oleh keluarga.(ins)