Akhirnya Impor Garam

 

Ilustrasi impor garam

Apa yang kita “takutkan” akhirnya terjadi. Ya… impor garam. Padahal, petani sejak Juli lalu sudah mulai panen. Petani yang berharap dapat “tersenyum”, kini bisa jadi pupus untuk menikmati “manisnya” harga garam.

Sebenarnya jauh-jauh hari, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sudah mengingatkan pemerintah sejak empat bulan lalu ihwal bahan baku di pabrik-pabrik garam sudah mulai tidak ada. Hal ini dinyatakan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron dalam kunjungan kerjanya ke Pelabuhan Perikanan Probolinggo, Selasa (1/8/2017). Sedangkan produksi garam dalam negeri terganggu karena memang musim hujannya panjang. Rencana pemerintah akan mengimpor garam, Herman memahami cara pemerintah untuk melakukan penambahan ketersediaan garam di pasar. Sedangkan impor ditutup karena pemerintah memang reorientasi pembangunan terhadap bagaimana produksi garam rakyat bisa diangkat.

“Karena garis pantai kita panjang, kualitasnya juga tidak kalah, hanya tinggal cara dan teknologi yang mana yang bisa menyamai terhadap produksi garam dari luar negeri,” katanya.

Situasi kelangkaan garam sudah terjadi saat ini dan tentunya harus dicari solusinya. Pertama pabrik garam itu kebutuhannya harus ditutup dulu, tetapi harus dihitung dengan pasti. Kalau ijin impor 75 ribu ton itu sudah terbit, tentu tidak harus utuh 75 ribu ton seluruhnya masuk.

Sementara itu, PT Garam (Persero) menargetkan impor garam konsumsi tiba pekan depan. Perusahaan pelat merah itu merencanakan kapal dari Australia Selatan bisa sandar pada Kamis, 10 Agustus 2017.  PT Garam berharap agar Kementerian Perdagangan (Kemendag) mempercepat izin masuknya kapal tersebut. “Seharusnya pada Senin (31 Juli 2017) kemarin sudah keluar, namun hingga kini belum ada. Kami masih menunggu izin persetujuan impor Kemendag untuk masuk,” kata Direktur Keuangan PT Garam, Anang Abdul Qoyyum saat ditemui di kantornya, Rabu, 2 Agustus 2017.

Terlepas dari itu semua, yang jelas impor garam bisa saja menutup angan-angan petani untuk menikmati harga yang sudah di angan-angankan. Ini pelajaran bagi kita semua, bahwasanya kelangkaan garam yang terjadi belakangan memang menyusahkan ibu-ibu rumah tangga hingga kepada industry yang menggunakan komoditas ini. Karena itulah, saatnya kita memikirkan, bagaimana produksi garam itu tidak ketergantungan pada musim.

Ini memang memerlukan investasi yang tak sedikit. Seperti halnya negara –negara maju yang kurang berpengaruh terhadap musim untuk memproduksi garam. Sekali lagi ini pelajaran bagi kita semua, khususnya lembaga-lembaga terkait, agar jangan sampai terjadi kelangkaan garam. Hal yang tak kalah pentingnya, angka impor garam itu harus menjadi perhatian agar kebijakan impor itu tidak “menyengsarakan” petani.(*)