355 Jamaah Haji Ajukan Pulang Cepat, Terbanyak dari Surabaya

 

Salah satu calon jamaah haji risti mendapat perhatian dari tim kesehatan haji.

MAKKAH (global-news.co.id)–Sebanyak 355 jamaah haji Indonesia mengajukan tanazul, atau pulang lebih cepat ke tanah air sebelum waktunya. Beragam alasan disampaikan jamaah haji Indonesia agar bisa pulang lebih cepat.

Paling banyak jamaah yang mengajukan tanazul adalah berasal dari Embarkasi Surabaya. “Jumlah itu hampir mendekati 1 kloter dan paling banyak embarkasi Surabaya,” ujar Kasie Pelayanan Kedatangan dan Kepulangan Panitia Pelaksana Ibadah Haji Indonesia (PPIH) daerah kerja Makkah, Hj Edayanti SIP, Jumat (25/8/2017).

Hingga saat ini data permintaan tanazul masih terus bergerak. Namun, tidak semua pengajuan tanazul dikabullkan. Diperlukan izin dan pencocokan data secara berkala lantaran proses kepulangan di luar jadwal cukup rumit.

Agar bisa jamaah pulang lebih cepat, proses pendaftaran awal dilakukan melalui masing-masing sektor. Kemudian dilanjutkan ke Daker Makkah dan dikoordinasikan ke pihak muasssasah dan maktab dari pihak Arab Saudi. “Permintaan tidak akan kita eksekusi sebelum ada konfirmasi dari ketua kloter yang bersangkutan,” ujar Edayanti.

Nantinya, lanjut Edayanti, mereka akan digabungkan dengan kloter dan penerbangan yang memiliki seat kosong. Tanazul sendiri akan dibagi menjadi dua jenis, yakni prawukuf dan pascawukuf.

Untuk pengajuan sebelum wukuf akan diprioritaskan jamaah yang memiliki tiga alasan, yakni jamaah sakit, visa belum keluar, dan penggabungan karena mahrom. “Itu yang kita proses terlebih dahulu, kita prioritaskan,” ujarnya.

Sementara untuk pengajuan tanazul pascawukuf diprioritaskan bagi jamaah sakit dan kepentingan dinas. Pengajuan tanazul ini tidak dipungut biaya, karena sudah menjadi bagian dari kontrak yang dilakukan dengan pihak penerbangan.

Yang jelas, lanjutnya, kepulangan jamaah dilakukan bagi mereka dengan embarkasi dan kloter yang sama. “Kepulangan lintas embarkasi atau berbeda kloter tidak bisa dilakukan,” ujarnya.

Selain itu, dia juga telah berkoodinasi dengan berbagai pihak agar tim petugas di lapangan tidak ada keraguan dalam merealisasikan proses tanazul. “Proses pemulangan jamaah akan dilakukan pada 6 September mendatang, baik melalui penerbangan Garuda Indonesia maupun penerbangan Arab Saudi,” tuturnya.

 

Sementara itu, data dari Siskohat Daker Makkah hingga saat ini jamaah haji yang wafat hingga, Kamis (24/8/2017) kemarin, tercatat 85 orang. Jika dilihat dari data kematian tiap embarkasi maka SUB (Surabaya) menempati jumlah kematian tertinggi, yaitu 20 orang jamaah haji dengan jumlah jamaah sementara tercatat 32.544 orang.

Embarkasi Solo (SOC), Makasar (UPG), Jakarta Pondok Gede (JKG), dan Jakarta Bekasi (JKS) sama-sama terdapat 10 jemaah wafat. Sedangkan catatan jumlah jemaah wafat embarkasi lainnya: Batam (BTH) 8 orang, Medan (MES) 6 orang, Balikpapan (BPN) dan Palembang (PLM) masing-masing 3 orang, Banjarmasin (BDJ) dan Padang (PDG) 2 orang tiap embarkasi, Lombok (LOP) 1 orang, Aceh (BTJ) tidak ada laporan jamaah wafat.

Namun bila dilihat dari persentase kematian tampak berbeda. Dari seluruh jamaah yang telah berada di Arab Saudi (Kamis, 24/8/2017) dengan jumlah 185.835 orang jumlah kematian 85 orang berarti persentase kematian 0,0443%. Justru persentase kematian tertinggi ada pada embarkasi Medan 0,0726% atau 6 kematian dari 8.266 orang.

Data tersebut masih sangat awal karena masa tinggal jamaah haji di Arab Saudi masih cukup lama. Data masih akan tetap bergerak sesuai dengan update laporan jamaah wafat tiap hari. * okz, nas