Unjuk Rasa Penembakan Imam Masjid Al-Aqsa, 50 Warga Palestina Terluka

Warga Muslim Palestina shalat di lingkungan masjid Al Aqsha yang dipasangi oleh militer Israel metal detektor.

YERUSALEM (global-news.co.id)-Setidaknya 50 warga Palestina mengalami luka-luka dalam bentrokan terbaru dengan militer Israel di luar Masjid al-Aqsa di wilayah Yerusalem timur pada Kamis (20/7) waktu setempat.

Kejadian menyusul penembakan imam besar Masjid al-Aqsa, Sheikh Ikrima Sabri.

Sheikh Ikrima Sabri dilaporkan terluka akibat tembakan tersebut dan telah dibawa ke ke Rumah Sakit Al Maqassid di Yerusalem timur. Namun tidak diketahui bagaimana kondisinya saat ini.

Ceritanya imam tersebut baru saja selesai menunaikan salat Isya pada Selasa (18/7/2017) waktu setempat ketika polisi Israel mencoba membubarkan paksa para jemaah.

Sementara terkait dengan bentrokan, Palang Merah Palestina seperti dilansir media Press TV, Jumat (21/7/2017), melaporkan sejumlah orang luka-luka dalam insiden itu.

Bentrokan antara warga Palestina dan militer Israel di luar masjid al-Aqsa terus terjadi dalam enam hari terakhir, seiring otoritas Israel menolak seruan untuk mencabut detektor logam yang dipasang belum lama ini di pintu masuk masjid tersebut.

Para jemaah dan demonstran Palestina terus menggelar aksi protes untuk menentang pemasangan detektor logam itu.

Otoritas Israel memasang detektor logam di depan Masjid al-Aqsa sejak 14 Juli setelah tiga pria Palestina menembak mati dua tentara Israel.  Ketiga warga Palestina tersebut kemudian tewas dalam baku tembak dengan pasukan keamanan Israel.

Pemasangan detektor logam tersebut telah memicu kemarahan warga Palestina. Bahkan kelompok Hamas yang menguasai wilayah Jalur Gaza, telah menyerukan adanya aksi demo besar-besaran pada hari Jumat ini.

“Biarlah Jumat menjadi titik balik dalam perjuangan membela al-Quds (Yerusalem timur) dan al-Aqsa,” ujar pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam pidatonya yang disiarkan televisi pada Kamis (20/7) waktu setempat.

Aksi militer Israel itu pun mendapat kecaman dunia. Presiden Turki Tayyip Erdogan dilaporkan telah menelepon Presiden Israel Reuven Rivlin untuk membahas situasi terkini di komplek al-Aqsa.

Dalam pembicaraanya dengan Rivlin, seperti dilansir Anadolu Agency pada Jumat (21/7/2017), Erdogan menegaskan umat Islam harus dapat memasuki al-Aqsa tanpa batasan, dalam kerangka kebebasan beragama dan beribadah.

Rivlin mengatakan, bahwa tindakan otoritas keamanan untuk menempatkan pendeteksi logam dan pembatasan jamaah untuk memasuki al-Aqsa dilakukan demi tujuan keamanan.

Dia meyakinkan Erdogan, bahwa tidak akan ada perubahan status di komplek al-Aqsa dan bahwa kebebasan beragama tidak akan dibatasi.

Selain melakukan komunikasi dengan Rivlin, Erdogan juga diketahui melakukan komunikasi dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Dalam pembicaraan dengan Abbas, Erdogan menyatakan keprihatinan atas perkembangan situasi di Yerusalem timur, kota tempat komplek al-Aqsa berada.

“Setiap pembatasan terhadap umat Islam yang memasuki Masjid Al-Aqsa tidak dapat diterima. Perlindungan karakter dan kesucian Islam Al-Quds (Yerusalem) dan Al-Haram al-Sharif (Kompleks Masjid al-Aqsa) penting bagi seluruh dunia Muslim,” kata Erdogan.

Sementara itu, pada gilirannya Abbas meminta Erdogan untuk mendesak AS agar memberi tekanan pada Israel, sehingga mencabut langkah pembatasan bagi kaum Muslim di Masjid al-Aqsa.(snd/faz)