Ini Dia Sosok Bos Telegram yang Diblokir Indonesia  

Instagram

Pemerintah Indonesia memblokir layanan pesan instan Telegram. Orang pun dibuat penasaran siapa di balik aplikasi yang disebut-sebut sebagai favorit kelompok radikal berkomunikasi. Pavel Durov, ia pendiri Telegram yang sedang hangat diperbincangkan.

Instagram @durov langsung diserbu usai ia angkat bicara soal pemblokiran Telegram di Indonesia. Lantas, seperti apa sosok Durov, sehingga begitu populer diperbincangkan di sini?

Sekadar informasi, Durov lahir di Saint Petersburg, Rusia, pada 10 Oktober 1984. Pria lulusan Saint Petersburg University itu adalah salah satu pendiri perusahaan teknologi muda yang patut diperhitungkan. Tak ayal, ia juga kerap dijuluki sebagai ‘Mark Zuckerberg’-nya Negeri Beruang Merah.

Jauh sebelum Durov mendirikan Telegram, ia sudah berkecimpung di dunia startup pembesut layanan media sosial. Pada 2006, ia bersama kakaknya mendirikan situs media sosial untuk Rusia, bernama Vkontakte.

Selang tujuh tahun kemudian, Durov menjual sebagian saham VKontakte kepada Mail.ru, perusahaan internet Rusia. Saat itu Durov berhenti sebagai CEO VKontakte. Barulah pada 2014, Durov menciptakan Telegram, dan pada tahun itu juga, dirinya dinobatkan sebagai salah seorang tech entrepreneur Eropa Utara yang paling berpengaruh di bawah usia 30.

Durov sendiri dikenal narsis di Instagram. Meski unggahannya cuma 144 posting, kebanyakan justru foto selfie dirinya berpose gagah dan cool layaknya seorang supermodel. Warganet pun dibuat salah fokus ketampanannya.

Tak jarang juga, ia mengunggah posting foto-foto pemandangan yang mewah dan berkelas. Hingga sekarang, akun Instagram Durov sudah mengantongi 270 ribu pengikut.

Sebelumnya, Durov langsung mengambil tindakan saat mengetahui Telegram sudah ditutup aksesnya di Indonesia. Telegram versi situs web awalnya diblokir oleh sejumlah operator pada Jumat (14/7/2017). Pemblokiran ini pun dibenarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Menurutnya, Telegram dianggap menjadi wadah penyebaran pesan radikal dan berbau terorisme. Menkominfo Rudiantara juga mengaku sudah menghubungi Durov sejak 2016.

Sebagai jalan tengah, Durov akhinya meminta maaf dan menawarkan tiga alternatif agar layanannya bisa dinikmati secara utuh di Tanah Air. Dalam pernyataannya, ia mengakui ada miskomunikasi dengan Kemenkominfo. Durov juga melontarkan pernyataan di kanal Telegram miliknya, Durov’s Channel.

“Ternyata, baru-baru ini pejabat Kementerian mengirimi kami daftar saluran publik di Telegram dengan konten terkait terorisme dan tim kami tak segera memprosesnya dengan cepat,” kata Durov.

Durov mengakui dirinya kurang memahami secara tepat permintaan Kemkominfo. “Ini menyebabkan miskomunikasi dengan Kementerian. Untuk memperbaiki situasi ini, kami akan menerapkan tiga langkah solusi,” tutur Durov.

Sekadar diketahui, Durov menyebut Indonesia sebagai negara indah yang pernah ia kunjungi beberapa kali. Tak lupa ia menyebut bahwa banyak pengadopsi awal Telegram berasal dari Indonesia. Ia berkomitmen menghapus segala hal berkaitan dengan terorisme agar Telegram bisa kembali diterima di Indonesia.

“Sekarang kami memiliki beberapa juta pengguna di negara yang indah ini. Saya beberapa kali ke sana (Indonesia, red.) dan memiliki banyak teman di sana,” ujarnya.(liputan6.com)