Gubernur Soekarwo: Jawa Timur Krisis Garam

Produksi garam di Jawa Timur dari tahun ke tahun mulai mengalami penurunan.

SURABAYA (global-news.co.id)-Kelangkaan garam di Jawa Timur membuat harga garam di pasaran melonjak hingga 100 persen. Ironinya, hal ini terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim.

Gubernur Jatim Soekarwo menyatakan, jika Jawa Timur saat ini mengalami krisis garam. Ia berdalih, langkanya garam di pasaran lantaran produksi garam di Jatim mengalami penurunan, akibat cuaca buruk berkepanjangan selama kurun 1-2 tahun terakhir.

“Faktor cuaca yang menyebabkan produksi tambak garam di Jatim turun drastis. Untuk menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan masyarakat, kami meminta pemerintah pusat membuka keran impor garam,” terang Soekarwo, kemarin.

Menurutnya, jika matahari terik, rakyat di Kabupaten Sumenep, Madura, mampu menghasilkan 174.000 ton garam per bulan. Namun, hujan yang sering turun membuat produksi merosot hingga 123.000 ton per bulan. Akibatnya, harga garam di pasaran melonjak. Selain volume produksi yang menurun, kualitas juga ikut menurun karena banyak produk garam bercampur dengan dengan tanah.

Kondisi kelangkaan garam terjadi hampir di semua kabupaten/kota di Jawa Timur. Selain langka, harga garam di tingkat produsen hingga eceran mengalami kenaikan hingga 150 persen. Garam dapur kemasan kecil yang biasanya dijual Rp 1.500 per bungkus, saat ini naik menjadi Rp 3.500 bahkan sampai Rp 5.000 per bungkus.

Di tempat terpisah, Wagub Jatim Syaifullah Yusuf menyatakan Pemprov Jatim berharap Kementerian Perdagangan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan, mempercepat solusi terkait kelangkaan garam konsumsi yang saat ini terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, terutama di Jatim.

“Jatim adalah sentra garam dan penyumbang 40 persen kebutuhan garam nasional, sehingga jika garam di Jatim langka, tentu berpengaruh ke daerah lain. Kelangkaan garam yang saat ini terjadi merupakan imbas dari tidak menentunya musim hujan dan kemarau yang terjadi sejak 2016,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jatim Ir Heru Tjahjono mengatakan, saat ini DKP Jatim sedang mempersiapkan program produksi garam sepanjang tahun. Sehingga dalam memproduksi garam tidak lagi tergantung musim kemarau.

Heru menjelaskan, pihaknya kini sedang menggagas teknologi pembuatan garam dengan menggunakan geo membrane di seluruh meja kristalissi dilapisi terpal plastic. “Dengan teknologi ini, garam tetap bisa diproduksi pada musim hujan”, ujar Heru.

Program yang digagas Pemrov Jatim tersebut, kata Heru, menghabiskan anggaran sekitar Rp 2 miliar. Program tersebut dialokasikan untuk 46 kelompok di 12 kota/kabupaten di Jatim. “Selain kuantitas, program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas garam produksi Jatim. Sehingga tak hanya dapat memenuhi kebutuhan garam konsumsi saja, namun juga industry,” katanya. * brl, bst, nas