Ditinggalkan Penggemar, Ludruk Surabaya Terancam Punah

Salah satu penampilan kesenian ludruk Surabaya yang kini mulai ditinggalkan penggemarnya. * IST

SURABAYA (global-news.co.id)-Kesenian tradisional ludruk di Surabaya terancam punah. Selain dari tahun ke tahun kesenian asli Surabaya ini mulai ditinggalkan para penggemarnya. Tidak hanya itu, para pemain ludruk yang kini masih bertahan kebanyakan pemainnya berasal dari luar Kota Surabaya.

Kondisi ini yang membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kesulitan, untuk menghidupkan kembali kesenian yang sempat eksis dan menjadi hiburan utama warga Surabaya. Belum lagi para pemain ludruk yang namanya sempat dikenal di masyarakat, memilih beralih profesi.

“Dulu di Surabaya ada Cak Markeso, Cak Markuat, Cak Kancil tapi sekarang tidak ada penerusnya. Kebanyakan penerusnya alih profesi,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Widodo Suryantoro, Sabtu (8/7/2017).

Meski mengaku kesulitan, lanjut Widodo, pihaknya tetap berusaha kembali mengangkat kesenian asli Surabaya ini kembali eksis. Salah satunya dengan menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung pelestarian ludruk, seperti di Balai Pemuda dan Tempat Hiburan Rakyat (THR).

“Bu Wali (Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, red) meminta kita untuk melengkapi fasilitas untuk kesenian ludruk. Bahkan, gamelan yang semula di Balai Pemuda, sekarang diminta agar dipindah ke THR untuk mendukung acara pertunjukan ludruk di sana,” tuturnya.

Ironinya, kata Widodo, setiap kali THR mengadakan pertunjukan ludruk, selalu sepi penontot. “Akhirnya kami harus memaksa orang untuk menonton. Tapi kalau memaksa menonton kan ya tidak mungkin,” ujarnya.

Padahal, Widodo mengatakan, ludruk seharusnya bisa tetap digandrungi para penonton sampai kapan pun asal grup ludruk terus berkreasi di setiap pertunjukan.

Dengan kondisi kesenian ludruk yang demikian, ia melanjutkan, akhirnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk menyampaikan materi edukasi kesenian tradisional kepada murid sekolah di Kota Pahlawan. “Paling tidak para siswa mengetahui kalau ada kesenian tradisional Ludruk yang pernah populer di Surabaya,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Masduki Toha mengaku, siap mengawal keinginan warga untuk menghidupkan kembali kesenian tradisional Ludruk, yang dulu sempat berjaya di THR Surabaya. “Saya menilai, selama ini pemkot kurang ada niatan menumbuh kembangkan kesenian di THR,” katanya.

Masduki mengatakan sudah saatnya budaya tradisional diberi ruang dan anggaran cukup supaya bisa tetap lestari. “Mohon masukan agar temen-temen komisi D DPRD Surabaya bisa mengimplementasikan dalam anggaran selanjutnya,” ujarnya. * nas