Biarlah Petani Menikmati “Manisnya” Harga Garam

 

ERFANDI PUTRA
PEMIMPIN REDAKSI

Selama ini yang sering kita dengar hanya jatuhnya harga garam. Kini, garam langka di pasaran langka, sehingga harganya “menjulang”. Ibu-ibu rumah tangga pun hingga pengusaha makanan mengeluh. Ada apa dengan garam? Benarkah karena produksi yang melorot tajam akibat anomali cuaca? Lalu apakah impor menjadi jalan keluar?

Ibu rumah tanggga, pengusaha ikan asin hingga warung nasi kini cukup direpotkan dengan kelangkaan garam ini. Salah seorang penjual nasi penyet di Surabaya mengatakan, susah juga sekarang mencari garam. Kalau pun ada harganya “selangit”. Bagaimana tidak. Harga garam kemasan sebelumnya hanya Rp 3.000, kini melonjak menjadi kisaran Rp 15.000. Itu pun cukup sulit mencarinya. “Masak gara-gara garam harga sepiring nasi harus naik,” katanya.

Cukup menarik kita simak mengapa garam menjadi langka. Ini suatu kejadian langka. Yang jelas, berdasarkan informasi dari Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), kini hampir seluruh perusahaan yang memproduksi garam beryodium untuk konsumsi rumah tangga kolaps akibat kesulitan mendapatkan bahan baku.

Akibat tidak ada stok garam sekarang khusus perusahaan yang bergerak bidang garam produksi kolaps. Efeknya akan terjadi PHK dimana-mana. Karyawan produsen garam konsumsi akan dirumahkan karena sudah stop produksi. Puluhan ribu orang yang bergantung terhadap produsen garam akan menganggur. Gawat juga ini kenyataannya, karena, stok garam dalam negeri terus menipis. Tingginya kebutuhan belum bisa diimbangi oleh produksi dalam negeri yang baru bisa mencapai 1,8 juta ton per tahun. Sementara total kebutuhan garam baik untuk konsumsi dan industri mencapai 4,3 juta ton per tahun.

Lalu apakah dengan kekurangan ini, impor menjadi satu-satunya jawaban? Seperti halnya saat kita kekurangan pasokan beras beberapa waktu lalu?. Bila kita melihat selisih perbandingan angka produksi dengan angka kebutuhan yang  cukup besar, kelihatannya impor menjadi jalan pintas untuk mengisi kekosongan. Apakah benar hal tersebut menjadi jalan satu-satunya. Sudah tak adakah jalan lain?

Bagaimana nantinya nasib petani kalau impor garam benar-benar dilaksanakan? Memang anjloknya produksi garam diakibatkan musim hujan yang berkepanjangan beberapa tahun terakhir ini, sehingga berpengaruh besar kepada angka produksi. Apakah kita sudah melihat bahwa beberapa bulan terakhir ini musim kemarau memberikan angin segar pada produksi garam?

Apalagi Ketua Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG), Muhammad Hasan mengatakan, melakukan impor garam bukan solusi tepat untuk mengatasi kelangkaan garam di pasaran saat ini. Mengapa? Karena bila Agustus dan September iklim terus mendukung, produksi bisa normal lagi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Apalagi di sejumlah daerah Juli ini sudah memasuki musim panen. Nah, langkah impor yang selalu menjadi “senjata” bila terjadi kelangkaan harusnya menjadi pertimbangan sendiri untuk mengambil kebijakan ini. Biarlah sekali-sekali petani menikmati “manisnya” harga garam. (*)