Bandar Sabu 1 Ton Asal Taiwan Gandeng WNI jadi Guide

Sejumlah petugas memperlihatkan kemasan narkoba jenis sabu seberat 1 ton yang diselundupkan WN Taiwan, kemarin.

JAKARTA (global-news.co.id)-Keberhasilan Bandar besar asal Taiwan menyelundupkan narkoba jenis sabu asal China ke Indonesia, ternyata tak lepas dari seorang perempuan WNI bernama Komalasari atau Mala. Jaringan WN Taiwan ini menyewa Mala dengan imbalan Rp 300 ribu per hari, dengan tugas memandu proses penyelundupan sekaligus menyiapkan transportasi maupun tempat penginapan bagi para tersangka.

“Mereka menyewa Mala itu sejak sekitar tanggal 30 Juni sampai 12 Juli, dibayar Rp 300 ribu per hari,” ujar Wakasat Narkoba Polresta Depok AKP Rosana Albertina Labobar di Jakarta, Sabtu (15/7/2017).

AKP Rosana atau akrab disapa Ocha menjadi kepala tim lidik di tim gabungan ini telah lama mengikuti pergerakan Mala dan empat tersangka WN Taiwan selama berada di Pantai Anyer, Serang, Banten. “Kerjanya ya cuma menemani mereka kalau ke Anyer saja,” ucap Ocha.

Tak cuma itu saja, Mala dimanfaatkan oleh jaringan untuk merental mobil hingga buka kamar hotel. “Yang check in di hotel itu atas namanya si Mala ini, termasuk rental mobil juga ya Mala,” ungkap Ocha.

Selama beberapa kali ke Pantai Anyer, sindikat ini berpindah-pindah penginapan. Setidaknya ada tiga hotel yang mereka kunjungi setiap ke Pantai Anyer. “Mereka buka kamar dua, yang satu untuk Mala dan satu lagi untuk mereka berempat ini,” lanjut Ocha.

Saat ini Mala masih menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya. Polisi masih mendalami apakah Mala mengetahui aktivitas para tersangka dalam upaya penyelundupan sabu sebanyak 1 ton itu. “Kami akan memeriksa saksi yang menjadi guide ini. Guide-nya perempuan dan ada satu temannya, laki-laki,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan, Sabtu (15/7/2017).

Argo menambahkan, guide ini menjadi pemandu dan melakukan survey lokasi yang akan dijadikan transaksi. Namun sejauh mana keterlibatan Mala dan rekannya, polisi masih mendalaminya, apakah Mala hanya sebatas diperalat atau turut menjadi bagian dari jaringan Taiwan tersebut atau tidak.

“Kami masih mendalami apakah pemandu ini tahu kegiatan keempat tersangka, apakah dia ini tahu pengiriman narkotika ke beberapa wilayah,” ucapnya.

Seperti diketahui, tim gabungan Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya dan Polresta Depok yang dipimpin Kombes Nico Afinta dan Kombes Herry Heryawan menangkap empat WN Taiwan jaringan narkoba, satu di antaranya tewas ditembak. Sedangkan tim berhasil menyita 1 ton sabu senilai Rp 1,5 triliun dari para tersangka. * dtk, nas