Order Kain Ikat Lamongan Naik 100 Persen, Layani Pesanan Hingga ke Timur Tengah

BUPATI Lamongan H Fadeli meninjau langsung proses pembuatan kain tenun ikat Lamongan yang telah tembus pasar Timur Tengah.

LAMONGAN (GN)-Lebaran selalu identik dengan pakaian baru. Kebiasaan ini tampaknya menjadi berkah tersendiri bagi pengrajin tenun ikat di Lamongan. Sebab, pesanan naik lebih 100 persen.

Kenaikan pesanan tenun ikat mulai dirasakan para pengrajin tenun ikat di Desa Parengan, Kecamatan Maduran. Salah satu pengrajin yang kebanjiran order yakni Harun Baihaki. Dia mengaku order tenun ikat yang semula tak lebih dari 800 lembar, kini melonjak hingga 1.500 lembar.

“Menjelang lebaran meningkat 100 kali lipat, sehari bisa 1.500 potong, melebihi hari biasa yang hanya 700-800 potong kain,” kata Harun Baihaki kepada wartawan di lokasi, Rabu (14/6/2017).

Harun mengaku, peningkatan pesanan mulai terjadi sejak awal Ramadan. Pesanan tidak hanya dari Jatim atau Pulau Jawa, kenaikan juga merambah pesanan ke luar Pulau Jawa hingga luar negeri. “Tapi yang terbanyak kalau menjelang lebaran, pembelinya dari Lamongan dan kota sekitar,” kata Harun yang mengaku juga melayani pesanan dari Arab Saudi, Iran, Mesir, dan Sudan.

Untuk memenuhi seluruh order yang didapatkan, Harun mengaku mempekerjakan puluhan karyawan dan menempatkan paling banyak di bagian penenun yang menjadi kunci kualitas tenun ikat.

Sebab, proses pembuatan kain tenun ikat khas Lamongan ini cukup lama karena pembuatan masih mengunakan alat tradisional, sehingga hasilnya lebih baik dibanding buatan pabrik. Dia mengatakan, kain tenun ikat menjadi bahan dasar sarung dan bahan dasar pakaian dijual dengan harga bervariatif mulai harga Rp 125 ribu hingga Rp 1 juta per potong.

“Harga yang ditawarkan sepintas lebih mahal dari kain jenis lain dengan ukuran yang sama. Meski begitu harga itu sesuai kualitas yang ada, kain tenun ikat Lamongan memiliki ciri khas tersendiri dengan adanya ikatan benang dengan membentuk motif-motif tertentu,” jelasnya.

Selain membuat motif tenun ikat biasa, rumah produksi Harun juga memproduksi kain tenun ikat dengan motif khas Lamongan, yakni motif Bandeng Lele. Adanya motif Bandeng Lele ini tak sedikit pula pembeli yang menjadikannya sebagai cinderamata khas dari Lamongan. “Tapi kalau menjelang lebaran seperti saat ini, kebanyakan dibuat sebagai baju lebaran,” tuturnya.

Sementara salah seorang pembeli tenun ikat, Dewi Putri Anggraini mengaku sengaja datang ke rumah produksi milik Harun khusus untuk membeli kain tenun ikat yang bermotif bandeng lele. Dewi mengaku sudah terbiasa berbelanja kain tenun ikat untuk dijadikan cinderamata. “Tapi kalau sekarang, beli karena mau saya bikin baju lebaran,” kata Dewi. * dtk