Melihat AMOI, Wadah Etnis Tionghoa Menjadi Muslim

 

BUKBER: Suasana buka puasa bersama yang digelar Yayasan Pembina Mualaf AMOI (Aku Menjadi Orang Islam) dan PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) bersama anak yatim piatu, kaum dhuafa, dan mualaf.

Yayasan Pembina Mualaf AMOI (Aku Menjadi Orang Islam) dan PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) kembali menyelenggarakan acara buka puasa bersama dengan anak yatim piatu, kaum dhuafa, dan mualaf. Pada acara tersebut terdapat enam orang menyatakan diri masuk Islam.  Acara pembacaan syahadat dibimbing langsung oleh Duta Besar Arab Saudi Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi.

ENAM orang mualaf itu begitu berbinar wajahnya usai melafalkan kalimat syahadat. Yoga Djonata, Olivia, Liana, Nathan, Mauris, dan Lady Diana, mengaku senang sekarang telah menjadi muslim. Apalagi pembacaan syahadat dibimbing langsung oleh Dubes Saudi dan dilakukan di hadapan Walikota Jakarta Timur H Bambang Musyawardana serta Ketua PITI Jakarta Raya, H Denny Sanusi. “Ya sangat senang sekali,” kata Olivia (35).

Dalam sambutannya, Dubes Arab Saudi Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi mengaku senang dengan bertambahnya umat muslim di dunia. Menurutnya, syahadat merupakan hal utama bagi seorang umat yang ingin menganut agama Islam.

“Saya mensyahadatkan enam orang, saya sangat senang dan menandatangani sertifikat mereka,” kata Osama pada acara buka puasa bersama anak yatim, dhuafa dan mualaf dengan tema Menjalin Kebersamaan dengan Saling Berbagi di Jakarta, kemarin.

Dalam kesempatan itu, Dubes Arab juga memberikan hadiah kepada para mualaf ini dengan membawa mereka pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Rencananya pada pertengahan Agustus 2017 mereka akan diberangkatkan ke Arab Saudi.

“Harapan saya bisa menghajikan mereka. Saya juga ingin membantu mereka untuk membantu mengajarkan agama Islam yang lebih dalam lagi sehingga mereka bisa lebih mencintai Islam,” kata Osama.

Ketua PITI Jakarta Raya Denny Sanusi berharap dengan hadirnya Duta Besar Arab Saudi bisa menarik perhatian pemerintah untuk lebih memperhatikan etnis Tionghoa yang beragama muslim. AMOI sengaja didirikan untuk menjadikan dakwah yang dilakukan khusus bagi etnis Tionghoa. Sebab banyak warga Tionghoa yang ingin menjadi muslim.

“Dan alhamdulillah dari tahun ke tahun terus bertambah, hampir setiap bulan ada tiga sampai empat orang Tionghoa masuk Islam. Dalam dakwah ini pasti ada satu kendala yang sekarang kita perjuangkan, apalagi background orang Tionghoa kalau masuk islam pasti ada masalah dari keluarga dan sebagainya, kalau ada masalah itu kami membuat tempat penampungan, memberikan jalan keluar sebatas kemampuan kita,” kata Denny.

Menurutnya, saat ini pemerintah harus lebih meningkatkan perhatiannya dalam merangkul mualaf. Menurutnya, mualaf merupakan orang yang paling membutuhkan bantuan karena memiliki masalah yang sangkat kompleks.

“Kami bukan ngiri dengan anak yatim tapi kalau mualaf lebih kompleks masalahnya karena ada suami, istri, dan anak. Karena itu, kami menghimbau kepada pemerintah lebih memperhatikan kami karena kami ada hak di situ,” kata Denny.

Sementara itu, Olivia, mengaku menjadi mualaf karena ingin mencari tahu mengenai mimpinya. Dikatakan, hampir setiap malam dia bermimpi mengenai tulisan Allah dan shalat dengan menggunakan mukena.

“Kemudian saya mulai mempelajari Al Quran yang saya pinjam dari teman, dari situlah saya mulai sadar kalau Islam itu indah dan akhirnya saya memutuskan untuk menganut agama Islam,” katanya.

Diakui bahwa keputusannya menjadi mualaf mendapat pertentangan dari keluarganya yang beragama lain. Namun, dia berusaha untuk tetap tegar dan teguh dengan pilihannya ini.

“Setiap keputusan pasti ada konsekuensinya dan ini yang saya ambil. Tetapi saya tidak sendiri karena dengan adanya komunitas AMOI saya bisa sharing dan selalu diberi motivasi,” kata Olivia.

 

Gandeng BAZIS

 

Yayasan Pembina Mualaf AMOI sendiri selalu berusaha meningkatkan kesejahteraan anggotanya sekaligus  menambah kuatnya keimanan para mualaf  Tionghoa. Karena itu mereka terus melakukan kerjasama dengan pihak lain. Selain dengan Kedubes Arab Saudi, juga menggandeng  BAZIS Jakarta Timur yang  diharapkan para mualaf bisa meningkat kehidupannya sehingga menjadi pembayar zakat yang dapat membantu mualaf Tionghoa lain.

Denny Sanusi yang juga pendiri Yayasan AMOI sebelumnya juga mengundang Kepala BAZIS Jakarta Timur, Dwi Busara, saat mengadakan penutupan sementara pengajian Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jakarta Raya di Koko Liem Center, Cibubur, Jakarta Timur, Minggu (7/5/2017) lalu. Turut hadir  dalam acara itu Ketua Umum Himpunan Bina Mualaf Indonesia (HBMI) HM Syarif Tanudjaya dan  Ketua Persatuan Umat Islam (PUI) Nazar Harris serta komunitas PITI dan AMOI.

Denny Sanusi mengakui, pihaknya sudah lama bekerjasama dengan BAZIS Jakarta Timur. Untuk pembinaan kepada para mualaf Tionghoa diberikan bagi mereka yang memiliki produk apa saja asalkan diberi merek AMOI. “Kami bantu memasarkannya,” ujar Denny.

Lebih lanjut  Denny menjelaskan selama ini PITI Jakarta menyelenggarakan pengajian sebulan sekali tiap Jumat terakhir. Namun pada bulan Ramadhan ini pengajian dihentikan sementara. “Pada pertengahan Ramadhan pihaknya memberikan santunan kepada anak yatim dan mualaf,” katanya.

Kepala Bazis Dwi Busara mengatakan selama ini BAZIS Jakarta Timur bertugas menghimpun zakat, infaq dan sedekah (ZIS) masyarakat di Jakarta Timur.  Dan di setiap kota administratif di DKI Jakarta ada BAZIS masing-masing yang tugasnya sama.  Dana tersebut dikembalikan ke masyarakat yang masuk dalam 8 asnaf di antaranya termasuk mualaf sebagai mustahiq yang berhak menerima bantuan dari BAZIS.

“Namun diharapkan agar dilakukan pendataan yang akurat setiap mualaf Tionghoa secara lengkap untuk memudahkan dalam pembinaan,” kata Dwi Busara.

Ketua Persatuan Umat Islam (PUI) Nazar Harris sepakat dengan Dwi Busara. Sebutan mualaf Tionghoa tidak selamanya disandang oleh muslim yang baru bersyahadat. Sebab mereka harus meningkat ilmunya dan mampu mengajak saudara dan teman-teman lain lagi sesama etnis Tionghoa untuk menjadi mualaf.  *