Kiai Said Ungkap Nama ‘Muhammad’ Dibalik Kebesaran Cheng Ho

Ketum PBNU bersama Duta Besar RRT untuk Indonesia Xie Feng saat menghadiri acara santunan anak yatim dan buka bersama di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta, (2/6/2017).

JAKARTA (global-news.co.id)-Siapa sebenarnya ‘Muhammad’ dibalik nama kebesaran Cheng Ho? Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengungkapkan, jika nama lengkap Ma Cheng Ho adalah Muhammad Cheng Ho.

“Ma-nya itu Muhammad,” kata Kiai Said saat memberikan sambutan dalam acara acara Santunan Anak Yatim dan Buka Bersama Kedutaan Besar Tiongkok dan PBNU, di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta, (2/6/2017).

Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah itu menerangkan, Ma Cheng Ho adalah seorang penjelajah laut yang ulung. Tercatat, Cheng Ho pernah mengunjungi wilayah Nusantara sebanyak tujuh kali dan beberapa negara lainnya meski hanya menggunakan kapal layar.

“Perjalanannya ditulis sekretarisnya namanya Ma Hwan. Ke Nusantara tujuh kali. Ke Semarang, Palembang, Sumatera Utara, Sulawesi, Filipina Selatan, Malaysia, Sri Lanka, Bangladesh, India, Oman, Jeddah, Mekkah, Afrika, dan balik lagi ke China dengan kapal layar,” urainya.

Oleh karena itu, Kiai Said mengaku salut atas apa yang dilakukan oleh Ma Cheng Ho. Ia menilai, Ma Cheng Ho adalah orang yang diberi kekuatan Allah lahir dan batin.

“Ma Cheng Ho itu diberi kekuatan Allah lahir batin. Kuat fisiknya, kuat imannya. Itu namanya waliyullah,” ungkap Kiai Said yang belum lama ini berkunjung ke Tiongkok dan menziarahi sejumlah tempat bersejarah di sana.

Ma Cheng Ho adalah seorang kasim muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Dinasti Ming yang berkuasa pada tahun 1403-1424 M. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam. Saat pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim.

Sementara di sela-sela acara tersebut, PBNU menjalin sejumlah kerja sama dengan Dubes Tiongkok usai kedua belah pihak melakukan silaturahim. Pengurus PBNU diundang ke China dan Dubes China beberapa kali menghadiri acara yang diselenggarakan PBNU.

“Kita ke sana (Tiongkok) sembilan orang, kalau yang pertama lima orang, kemudian menghasilkan kesepakatan tukar menukar mahasiswa China ke sini. Begitupun sebaliknya, mahasiswa NU kalau mau belajar ke China,” kata Kiai Said.

Kiai lulusan Universitas Ummul Quro Makkah itu menambahkan, sebentar lagi juga akan dibentuk Pengurus Cabang Istimewa NU Republik Rakyat Tiongkok (PCINU RRT). Di sana, ada tujuh puluh mahasiswa NU. “Kalau di Jepang, Hongkong, Taiwan sudah ada NU. Di RRT belum ada, insyaallah bulan Syawal ini dibentuk,” ucapnya.

Sementara, Duta Besar RRT untuk Indonesia Xie Feng menuturkan, pihaknya dengan PBNU juga sudah melakukan kerja sama dalam penyelenggaraan fasilitas air bersih dan sanitasi di Desa Tanara dan Desa Bom, Kecamatan Tanara, Serang. “Dubes Tiongkok bekerja sama dengan PBNU untuk menyelenggarakan fasilitas MCK, sanitasi di dua tempat di Tanara Serang,” terang Xie Feng.

Selain itu, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta dan Yayasan Asean Nanyang juga berhasil melakukan kerja sama dan mendirikan Pusat Kajian Kebudayaan Tiongkok Unusia Jakarta. * nuo