Herman Halim Memeluk Islam Viral di Medsos, JK Pun Sampai Bertanya pada Alim Markus

SELAMA beberapa hari terakhir ini, berita soal Herman Halim masuk Islam ramai di medsos. Berita tersebut telah menjadi viral, sehingga juga jadi “pergunjingan” sejumlah anggota masyarakat. Khususnya di Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jatim maupun di Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI). Bahkan Wapres Jusuf  Kalla (JK) pun, kabarnya sampai menelepon Alim Markus (AM), Presdir Maspion Group, menanyakan perihal munculnya berita tersebut.

Munculnya berita Herman Halim masuk Islam tak salah kalau menjadi viral, karena isi beritanya menceritakan soal Dirut Bank Maspion masuk Islam, tapi fotonya Alim Markus, sang  Presdir Maspion Group. Padahal Dirut Bank Maspion adalah Herman Halim.

“Saya dengar Pak JK sempat telepon AM (Alim Markus). Saya juga kaget kok sampai ke Pak JK menanyakan informasi ini,” kata Herman Halim kepada Koran Global News, Rabu (7/6/2017).

Herman Halim kan sudah lama memeluk Islam, tapi mengapa beritanya baru muncul sekarang? Lalu beritanya Herman Halim kok fotonya Alim Markus? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini hingga kini masih bermunculan, terutama di kalangan muslim Tionghoa di Surabaya.

Lalu apa kata Herman soal ini? “Itu berita kan sudah lama ditayangkan. Kalau tidak salah  berita itu (sebuah media menulisnya) 4 tahun lalu. Lalu sekarang dikutip oleh seseorang dan unggah ke medsos. Sekarang jadilah ramai begini. Ramainya itu kan karena ada Bapak AM di situ. Aneh beritanya sudah lama, ramainya sekarang,” kata Herman Halim yang juga Wakil Sekretaris Perbanas Pusat itu.

Terlepas dari itu semua, mengupas Herman Halim menjadi mualaf cukup menarik untuk kita simak. Mantan Ketua Harian Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) itu mempunyai perjalanan panjang dalam memeluk agama Islam.

Sebelum masuk Islam, Herman beberapa kali pindah agama. Baru pada 27 Agustus 2004, Herman Halim bulat mengucapkan dua kalimat syahadat. “Setelah beberapa kali pindah agama, akhirnya saya masuk Islam tanggal 27 Agustus 2004. Saya bersyahadat di Masjid Cheng Hoo Surabaya. Disaksikan teman-teman baik di PITI maupun YHMCHI dan teman lainnya, ya oleh banyak orang,” katanya.

Herman mengatakan, saat dirinya bersyahadat, dia tidak disertai dengan keluarganya. “Saya berangkat ke Masjid Cheng Hoo sendirian. Sekali lagi, saya mendapat support dari teman-teman PITI dan YHMCHI. Waktu itu AM-pun mengucapkan selamat,” katanya.

Waktu itu keluarga kaget, karena Herman berpindah ke Islam. Dia disindir oleh sejumlah kerabatnya, tapi tidak ada yang bernada keras. Mungkin, karena dirinya  sudah dewasa. Lantas sekarang bagaimana? “Tidak ada apa-apa. Semuanya rukun-rukun saja,” katanya.

Dalam beragama, Herman tidak hanya sekadar  beragama. Dia menghayati dan menjalankan perintah agama dengan sungguh-sungguh. Hanya saja, kalau dia menemukan hal yang kurang masuk akal dalam ajaran tersebut, dia pasti merenungkannya. Dan pada titik tertentu dia akan pindah ke agama yang lain.

“Saya selalu mencari dan mencari kebenaran hakiki itu. Alhamdulillah akhirnya saya menemukannya di agama Islam. Di agama Islam inilah saya tak menemukan hal yang meragukan. Islam agama dengan ajaran yang kompleks. Semua segi kehidupan diaturnya dengan baik. Dan saya mantap memilih Islam sejak 2004, dan hingga kini saya sangat mempercayainya kebenaran Islam,” kata Herman.

 

Dari Sang Anak

Hal lain yang perlu mendapat perhatian, yakni dari mana sebenarnya bapak dua anak, Albert dan Andrew, ini mengetahui perihal Islam? Yang jelas dia rajin membaca buku agama, seperti buku-buku Hindu, Budha, Kriten, dan Islam. “Dalam memeluk Islam anak kedua saya, Andrew, lebih dulu memeluk Islam. Dia mempunyai peran besar pada diri saya. Saya tahu Andrew dalam memutuskan sesuatu pasti melalui perjalanan panjang. Nah sejak Andrew masuk Islam, saya pun juga tertarik, maka selanjutnya saya menyusul Andrew masuk Islam,” kata Herman.

Andrew pun beberapa kali pindah agama dengan niat mencari kebenaran hakiki. “Saya pernah mencoba memeluk beberapa agama. Namun Islam lah yang membuat saya lebih tenang dan pas. Dan saya bisa lebih gampang menangkap ajaran Islam daripada yang lain,” ujar Herman menirukan pendapat Andrew.

Selanjutnya, Herman terus mencari dan mencari jawaban atas argumen yang dikemukakan oleh Andrew. “Saya mengenal Islam lebih banyak setelah Andrew menerangkan kepada saya dan keluarga tentang ajaran Islam sesungguhnya,” ujarnya.

“Saya juga heran, padahal ia sejak kecil sudah ada di Australia. Namun ia begitu kuat saat menerangkan tentang bagaimana ajaran Islam,” tambahnya.

Herman menerangkan, dalam menjelaskan agama Islam, Andrew Halim ini membawa Al Quran dan Injil. “Ia membandingkan antara ayat per ayat. Bahkan, beberapa dari paman dan bibinya tidak bisa menyela dan menjawab pertanyaan Andrew,” terangnya.

Kini Andrew menjada salah satu pejabat di IDB (Islamic Development Bank) yang berkedudukan di Jeddah. “Sebelumnya Andrew menimba Ilmu Islam di sejumlah Negara. Selain di Mesir, Yaman hingga Arab Saudi, dia sekarang dapat dikata pendakwah yang jam terbangnya cukup padat. Tentunya di luar jam kantor,” katanya.

 

Pelangi

Kini kehidupan Herman Halim lebih tenang batinnya setelah mengucapkan dua kalimat Syahadat. “Pertama kali saya melaksanakan salat, hati saya rasanya tenteram dan damai. Tidak pernah saya merasakan hal seperti ini sebelumnya. Meski saya tidak fasih cara melafalkan Arabnya, namun saya tahu arti Bahasa Indonesianya,” katanya.

Memperdalam agama Islam hingga kini terus dilakukan. Belajar Al-Quran menjadi salah satu kegiatan yang terus menerus dilakukan Herman. Malah dia untuk bisa melafalkan bacaan Al Quran serta belajar membaca Al Quran sampai mandatangkan guru khusus.

Lalu apa kata Herman tentang toleransi beragama di Indonesia?. “Agama itu hak setiap orang. Kita harus saling menghargai satu sama lainnya. Kita harus berada pada bingkai pelangi. Kita ini bersaudara, karena itu kita harus pelangi. Pelangi di sini, artinya biarlah semua agama tumbuh di bumi pertiwi ini. Pemeluknya harus saling menghagai dalam bingkai NKRI,” pungkasnya. * Erfandi Putra