Salman Abedi, Dicap Pecundang, tapi Dianggap Pahlawan

Seorang teroris yang beraksi solo meledakkan arena konser musisi Amerika Serikat, Ariana Grande, menewaskan 22 orang penonton dan puluhan orang lain luka-luka. Polisi menetapkan Salman Ramadan Abedi, 22 tahun, sebagai orang yang diduga melakukan serangan bunuh diri di Manchester Arena, Inggris, Senin (23/5) malam atau Selasa dini hari WIB itu. Abedi dicap pecundang. Tapi ada pula warga lain dianggap sebagai pahlawan.

Pahlawanitu muncul di situasi kacau balau yang diciptakan oleh Salman Abedi. Kekacauan memang terjadi usai ledakan di konser penyanyi Ariana Grande. Korban luka dan tewas ada di beberapa titik di Manchester Arena yang jadi tempat pertunjukan.

Melihat situasi begitu kacau, seorang sopir taksi bernama Saf Ismail lalu mengambil keputusan besar. Dia memakai taksinya untuk mengevakuasi para korban ke rumah sakit.  Ismail pun banyak menuai pujian. Dia dijuluki sebagai pahlawan bagi kotanya.

“Orang di sana berhamburan masuk dan keluar. Yang menjadi perhatian saya di kejadian itu adalah usia para penonton konser yang begitu muda,” kata Ismail seperti dikutip dari CBS News, Rabu 24 Mei 2017.

Saat itu dia terbayang wajahnya putrinya di antara orang-orang yang panik tersebut. “Andai putri saya di sana…,” katanya lirih. Putri Ismail berusia 15 tahun, sama dengan usia para penonton tersebut. Bahkan sang putri sebenarnya juga ingin menonton konser penyanyi idolanya itu tapi beberapa bulan lalu dia memutuskan mengubah pikirannya karena konser tersebut bertepatan dengan ujian. “Putri saya ditolong Tuhan,” kata Ismail.

Dia mengatakan, hampir seluruh korban yang dilihat usianya masih sangat muda. Keadaan tempat konser usai ledakan begitu kacau untuk digambarkan dan sangat menyedihkan. Pikiran Ismail berkecamuk. Suasananya sungguh memilukan. Ada rasa marah di hatinya, tapi kemudian dia ingin menangis melihat para korban.

“Ada yang tidak terkena luka tapi menangis dan berteriak sangat keras, mereka begitu emosional, emosi kalian pasti mengalir sangat kencang melihat kejadian itu. Saya seperti melihat darah daging saya berada di sana,” kata dia.

Ismail merupakan warga muslim Inggris keturunan Pakistan. Dia tumbuh besar di Manchester. Kejadian teror tersebut membuat Manchester asing bagi dirinya. Ismail menegaskan, kota tempat kelahirannya adalah tempat yang damai bukan kota yang berbahaya.

Namun, melihat masyarakat Manchester saat menghadapi teror begitu kompak, Ismail mengaku bangga. Sebab, semua warga tanpa mengenal latar belakang agama, suku, ras, saling bahu-membahu membantu korban. Mereka tidak takut dengan teroris.

“Masyarakat kota kami sangat kuat. Kami memang punya perbedaan, tapi kami memutuskan bersatu dan terus bersama,” jelasnya.

Peran Ismail dalam membantu evakuasi korban dinilai sangat penting. Dia menggunakan taksinya mengangkut korban.  Bukan cuma sekali. Hal tersebut dilakukan sebanyak tiga kali. Terhitung ada 24 orang yang dievakuasi oleh Ismail menggunakan taksinya.

 

Anak Pendiam

Lain dengan Ismail, nama Abedi yang juga lahir di Manchester pada malam tahun baru tahun 1994 dari sebuah keluarga yang diyakini berasal dari Libya, kini tercemar. Dia juga menjadi perhatian publik karena ulahnya menjadi teroris di kotanya sendiri.

Namun demikian banyak warga tidak percaya dengan ulah pemuda ini sebab selama ini dia sangat pendiam. “Saya tidak percaya dia bisa melakukan hal itu,” kata seorang warga, Kamis 25 Mei 2017.

Orang tua Abedi masuk ke Inggris setelah melarikan diri dari negerinya sebagai pengungsi. Mereka kabur karena takut dengan rezim Moamar Khadafi.

Abedi memiliki setidaknya tiga saudara kandung: seorang kakak laki-laki kelahiran London, dan seorang adik laki-laki serta seorang perempuan yang lahir di Manchester. Ia masuk sekolah lokal, menjadi pendukung tim sepak bola Manchester United dan bekerja di toko roti.

Keluarga Abedi memiliki tempat tinggal di sejumlah alamat di Manchester, antara lain sebuah properti di Jalan Elsmore di daerah Fallowfield yang digerebek oleh polisi. Petugas juga melakukan penggeledahan di sebuah bangunan di Whalley Range.

Selama ini Manchester dikenal sebagai salah satu pusat komunitas Libya terbesar di Inggris. Para tetangga Ebadi mengatakan bahwa keluarga itu mengibarkan bendera Libya di rumah mereka pada waktu-waktu tertentu setiap tahunnya.

Editor dalam negeri BBC Mark Easton mengatakan, daerah yang digerebek itu diketahui merupakan hunian sejumlah ekstremis dalam beberapa tahun terakhir; sebagian terkait dengan Suriah dan Libya; sebagian masih hidup dan beberapa sudah mati.

Universitas Salford juga membenarkan bahwa Abedi pernah menjadi mahasiswa di sana. Untuk itu kampus ini mengatakan bahwa mereka siap membantu polisi melakukan penyelidikan terkait Abedi.

Di tempat terpisah, seorang pengurus Pusat Islam Manchester, Fawaz Haffar, mengatakan kepada kantor berita Press Association bahwa besar kemungkinan Abedi pernah mengunjungi tempat yang juga dikenal sebagai Masjid Didsbury itu. Ayah Abedi juga biasa menjadi muazin di masjid itu, dan salah seorang saudara laki-lakinya menjadi sukarelawan di sana.

Dia menekankan bahwa masjid tersebut adalah masjid yang moderat, modern, dan liberal.  Haffar sendiri adalah anggota Independent Advisory Group, sebuah organisasi yang berhubungan dengan polisi.

Kepala Polisi Manchester, Ian Hopkins mengatakan bahwa Abedi belum secara resmi diidentifikasi oleh petugas pemeriksa mayat.  Dia mengatakan prioritas polisi adalah untuk menentukan apakah Abedi bertindak sendiri atau bekerja sebagai bagian dari jaringan yang lebih luas ketika dia menyalakan perangkat peledaknya di penghujung konser penyanyi AS Ariana Grande, yang menewaskan 22 orang.

Namun kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) sudah mengeluarkan pernyataan lewat media sosial bahwa serangan di Manchester tersebut dilakukan oleh salah satu simpatisan mereka. Hal ini juga mengait dengan ledakan di Jakarta dan Filipina yang disebut-sebut pula dilakukan oleh ISIS. * rtr/afp