Menteri Susi Kembangkan Budidaya Lele di Pesantren

SLAMET SOEBJAKTO

JAKARTA (global-news.co.id)-Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengembangkan program budidaya ikan lele dengan melibatkan pondok pesantren. Hal ini dibuktikan dengan langkah Menteri Susi Pudjiastuti, menggandeng Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Muhammadiyah, dalam mensukseskan program tersebut.

Sebanyak 73 pondok pesantren, 12 kelompok masyarakat, dan 2 lembaga pendidikan di 15 provinsi menjadi binaan KKP. Program yang ditargetkan menyerap 1.030 tenaga kerja pun kini telah berjalan, dan akhir April lalu KKP telah mendistribusikan 103 paket bantuan. Tiap paket bantuan bernilai hingga Rp 200 juta.

“Kami mintakan dengan PBNU, Muhammadiyah untuk sinergi dengan lembaga keagamaan untuk bersama mengkawal pondoknya masing-masing,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, di Gedung Mina Bahari IV, Rabu (17/5/2017).

Slamet mengatakan, total dana yang dikucurkan untuk program ini mencapai Rp 14,4 miliar dengan sasaran nilai panen mencapai Rp 21,78 miliar atau setara 1.452 ton.  Kementerian yang dipimpin Susi Pudjiastuti ini sudah mulai lakukan mobilisasi peralatan ke pondok pesantren mitra.

Adapun sebanyak 78.500 santri dari 73 pondok pesantren ini akan diberikan pendampingan teknis dari penyuluh perikanan budidaya. Program ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan perekonomian pesantren.

Selain itu, Slamet mengatakan, alasan program ini menyasar pondok pesantren adalah untuk meningkatkan gizi protein para santri. Pemerintah ingin meningkatkan konsumsi makan ikan para santri yang rata-rata 9,8 kilogram per kapita jadi 15 kilogram per kapita.

Pesantren yang memperoleh bantuan tersebut tersebar di provinsi Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Nusa tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Papua, dan Papua Barat.

Slamet mengatakan harga jual lele saat ini sedang baik. Berkisar di angka Rp 16 – 18 ribu per kilogram. Bahkan di Nusa Tenggara Timur harganya bisa mencapai US$ 7 atau sekitar Rp 90 ribu per kilogram dan sudah diekspor ke Timor Leste. (ktc)