DKP Jatim Gerojok Produksi Garam Rp 2 Miliar

 

HERU TJAHJONO

SURABAYA (global-news.co.id)-Menurunnya produksi garam di Jawa Timur tahun 2016 lalu, menjadi perhatian serius Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur. Tahun 2015 lalu, produksi garam Jatim mencapai 1,1 ton, sedangkan di tahun 2016 produksi garam justru terjun bebas dan hanya mampu memproduksi 98 ribu ton.

Kondisi ini menyebabkan Provinsi Jatim terpaksa melakukan impor garam industri maupun garam konsumsi. Hal ini tentunya menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. Padahal, Pulau Madura menjadi ladang besar produksi garam di Jatim.

“Kita akan mengganggarkan dana sebesar Rp 2 miliar untuk meningkatkan produksi garam Jatim, khususnya di Pulau Madura,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim, Heru Tjahjono, Rabu (10/5/2017).

Ia menuturkan salah satu alasan terbesar buruknya produksi garam di Jatim tahun lalu, adalah anomali cuaca yang didominasi oleh musim penghujan atau kemarau basah. Akibatnya petani garam tidak bisa memproduksi garam hampir sepanjang tahun 2016.

Untuk itu, sejumlah inovasi teknologi pada tahun 2017 ini akan diterapkan untuk mengembalikan Jatim, sebagai produsen terbesar garam nasional. Bahkan tahun 2018 ditargetkan Jatim sudah tidak lagi impor untuk memenuhi kebutuhan garam industri maupun garam konsumsi.

Di antara inovasi yang dilakukan DKP Jatim adalah dengan membuat ruang rekayasa anti hujan maupun geo membran. “Saya menganggap bahwa alasan turunnya jumlah produksi garam karena disebabkan musim hujan yang berkepanjangan adalah alasan yang basi. Dengan terobosan ini, saya meminta petani melupakan masalah cuaca,” ujar Heru.

Berdasarkan data, kata Heru  lahan garam di Jatim mencapai 11.583 ribu hektar, dari total itu sebanyak 8.200 ribu hektar lahan berada di Pulau Madura dan sisanya 3,3 ribu hektar tersebar di 8 kab/kota di Jatim. Dari lahan tersebut mampu memproduksi garam sebanyak 1,1 juta ton tahun 2015. Kemudian menurun dratis tinggal 98 ribu ton di tahun 2016 dan ditargetkan pada 2017 naik lagi menjadi 1,2 juta ton.

Untuk meningkatkan produksi garam, DKPJatim telah menyiapkan tiga inovasi yakni, rumah garam, geomembran, dan Teknologi Ulir Filter (TUF). Ketiga inovasi tersebut dibuat bekerjasama dengan Universitas Trunojoyo (Unijoyo) Bangkalan memungkinkan bagi para petani garam dapat memproduksi garam tanpa bergantung dengan cuaca karena proses produksi akan dilakukan di dalam ruangan sehingga tak akan terganggu oleh hujan.

“Teknologi yang terbaru ini bisa membuat para petani memproduksi garam sepanjang tahun tanpa perlu bergantung dengan cuaca,” beber Heru.

Ia menambahkan, tahun ini, proyek tersebut masih dalam tahap proses pilot project dan sosialisasi ke beberapa kelompok petani garam di Jatim. Harapannya, tiga tahun mendatang seluruh petani garam di Jatim yang memiliki lahan dapat menerapkan aplikasi inovasi ini.

“Untuk merangsang para petani mengadopsi teknologi tersebut, saat ini DKP telah memberikan bantuan dalam bentuk hibah ke-16 kelompok petani di sembilan kabupaten dan kota di Jatim. Jumlah dana hibah tersebut mencapai Rp 2 miliar. Harapannya, setelah mengetahui keberhasilan petani yang menerapkan teknologi tersebut, kelompok petani lain mau untuk ikut menerapkannya,” pungkas Heru. (nas)