Warga Ring 1 Unjukrasa Bau Tetes Tebu PT KTM Lamongan

GN/Hamim Anwar Warga ring 1 dan 2 sekitar perusahaan tebu PT KTM berunjukrasa akibat bau limbah pabrik gula.

LAMONGAN (global-news.co.id)-Warga Kecamatan Ngimbang dan Sambeng, Lamongan, di wilayah Ring 1 dan 2, Senin siang (04/04/2017), berunjukrasa ke PT. Kebun Tebu Mas (KTM), Kecamatan Ngimbang, Lamongan, Jawa Timur. Warga protes bau busuk yang ditimbulkan oleh limbah pabrik gula tersebut.

Aksi warga bersama sejumlah aktivis organisasi kemasyarakatan, dimulai dengan berjalan sejauh 500 meter menuju lokasi PT. KTM, dengan membawa poster tuntutan dan satu kendaraan truk pengangkut sound system. Sepanjang perjalanan warga juga membagikan masker kepada pengguna jalan yang sedang melintas di jalan raya Babat-Jombang.

Paini alias Bu Dayat (55), salah seorang peserta aksi, warga Dusun Pule, Desa Lamongrejo, Ngimbang, mengaku mulai beberapa bulan lalu tidak bisa tidur akibat bau busuk limbah pabrik gula PT KTM yang cukup menyengat dan membuat dada sesak para warga sekitar. Bahkan aroma seperti bau kotoran kucing ini tidak hanya di alami warga di wilayah ring 1 dan 2 sekitar pabrik. Namun bau busuk juga dirasakan hingga radius 30 kilometer tergantung arah angin.

Paini juga mengatakan keberadaan pabrik gula juga belum memberikan kontribusi terhadap masyarakat sekitar. “Adanya pabrik ini harusnya justru memberikan barokah terhadap warga miskin yang tidak mampu yang ada di sekitar pabrik,” kata Paini dalam orasinya.

Sedangkan koordinator aksi, Ahmad Umar Buwang meminta agar PT. KTM bertanggung jawab bau yang ditimbulkan pabrik gula PT KTM. “Jika dalam waktu dekat tidak bisa mengatasi bau yang ditimbulkan, maka kita minta pabrik ditutup,” ujar Umar Buwang.

Setelah melakukan orasi di depan pintu masuk pabrik, sejumlah perwakilan warga yang berunjukrasa diterima untuk berdialog dengan pihak manajemen PT. KTM dengan pengamanan ketat pihak Polres Lamongan.

Sementara, pihak perwakilan direksi manajemen PT. KTM, Adi Prasongko yang menemui massa membenarkan bau limbah pabrik yang diakibatkan adanya ledakan tanki penampung limbah tetes, sehingga baunya menyebar kemana mana.

“Memang kami mengakui adanya musibah di perusahaan akibat letupan tetes atau reaksi Maillard pada tanki yang disebabkan suhu panas yang berlebih. Akan tetapi luapan tetes tersebut kita tampung di kolam, dan kolam itulah yang menyebabkan bau,” jelas Adi Prasongko.

Adi Prasongko menyatakan, pihaknya sudah berupaya mengatasi dampak adanya luapan tanki tetes sesuai Standard Operating Procedure (SOP) penanganan limbah. Selain itu, pihaknya juga secepatnya mengatasi penanganan limbah tetes agar tidak mengganggu masyarakat.

“Sebelumnya memang tidak kita perhitungkan adanya dampak Reaksi Maillard pada tangki tetes. Karena kejadiannya begitu spontan dan di luar perhitungan,” terang Adi Prasongko.(mim)