Pemprov Jatim Gerak Cepat Tangani Longsor di Ponorogo

GN/Istimewa Kondisi longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Jawa Timur.

GN/Istimewa
Kondisi longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Jawa Timur.

SURABAYA (global-news.co.id)-Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) terus berupaya mencari korban tanah longsor di Ponorogo, Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur  dan Kementrian Sosial pun ikut bergerak cepat  dalam mendukung penanganan bencana longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo yang terjadi pada Sabtu, tanggal 1 April 2017 pukul 06.00 WIB.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan 28 orang diketahui tertimbun tanah longsor. “35 KK dari 128 jiwa terdampak, 100 jiwa selamat dan 28 jiwa masih tertimbun longsor,” kata Sutopo saat konferensi pers di Gedung BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Minggu (2/4/2017).

Dari 28 korban, dia menuturkan saat ini tim gabungan sudah menemukan 2 korban meninggal dan 26 masih dalam tahap pencarian. Kemudian jumlah korban luka berat 1 orang dan luka ringan 19 orang.  “Kemudian 300 warga mengungsi rumah ke kepala desa dan kerabatnya. 28 korban 16 laki dan 12 wanita,” kata dia.

Sementara itu, lanjut dia 2 korban yang tertimbun berusia anak-anak yakni Arda laki-laki usia 5 tahun dan anak ibu Misri usia 3 tahun. Selain itu, Tim SAR juga mengerahkan anjing pelacak untuk mencari korban.

“Proses pencarian 4 sektor bagian hulu dan hilir, lokasi diperkirakan rumah dipasang bendera, ditempat itu difokuskan dan dikerahkan anjing pelacak. Kendala Tim SAR prinsip keselamatan karena material longsor dalam dan hujan lebat, sehingga evakuasi dihentikan sementara potensi longsor susulan,” tutupnya.

GN/ISTIMEWA

Sementara itu, Pemprov Jatim mengambil langkah gerak melalui  dukungan penyiapan dapur umum,  logistik, pengerahan  personel  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Prov. Jatim dan taruna siaga bencana (tagana).

“Selain itu, saat ini Dinas PU Bina Marga Prov. Jatim sedang mengirim dua buah excavator, yang kecil diambilkan dari UPT Bina Marga di Madiun, sedangkan excavator yang besar disewakan,” ujar Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim, Drs. Benny Sampir Wanto, M.Si, Sabtu (1/4/2017).

GN/Istimewa

GN/Istimewa

Langkah Pemprov Jatim ini, lanjutnya, memperkuat penanganan bencana longsor  dengan melakukan evakuasi koban oleh posko BPBD, yang bersama TNI, polisi, tagana, relawan dan masyarakat.

Menurut Benny, kedatangan excavator akan cukup membutuhkan waktu karena akses menuju lokasi yang sempit. Dengan jarak sekitar 3 kilometer menuju lokasi membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam.

17758217_1344231885642567_1678914577827913994_oSelain itu, masyarakat berduyun-duyun menonton longsor sehingga jalan macet yang menjadikan kendaraan terhambat.

Untuk alasan yang terakhir, telah dikondisikan oleh aparat sehingga saat excavator datang akses menjadi lancar.

Sementara, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Minggu, juga datang ke lokasi bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin, ke titik utama longsor dan memastikan pasokan logistik tercukupi.

Gus Ipul mengakui untuk menuju ke lokasi sangat sulit dilakukan, karena selain terjal, jalur lokasi susah dilalui. Dan hanya bisa dilakukan dengan kendaraan double kabin.

“Saat ini fokus utamanya adalah mengevakuasi baik itu korban maupun barang-barang atau benda yang bisa diselamatkan,” kata Gus Ipul di lokasi, Minggu (2/4/2017).

GN/IST Mensos Khofifah di lokasi longsor.

Selain itu pihaknya memastikan pasokan logistik bagi tim pencarian berada di lapangan, tercukupi.

“Semua kebutuhan logistik harus terpenuhi oleh tim tanggap darurat. Baik untuk korban longsor yang selamat dan tim pencarian. Termasuk juga obat-obatan,” jelasnya.

Pihak pemprov akan berkoordinasi dengan Kabupaten Ponorogo terkait relokasi dan rehabilitasi. Namun untuk tahap awal saat ini yang sangat diperlukan tempat penampungan sementara yang layak.

“Saat ini fokus relokasi sementara di tempat layak dan nanti dipikirkan untuk relokasi permanen, karena itu membutuhkan waktu lama,” tegasnya.

Sementara Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin juga berjanji menerjunkan ratusan personel untuk membantu pencarian dan bantuan logistik. Dia juga mengimbau warga tidak kembali ke daerah longsor dan sekitarnya. “Ratusan personel kita terjunkan dan bantuan makanan dan minuman juga kita berikan,” jelas kapolda.

Tak hanya wagub dan kapolda, Menteri Sosial Khofifah Indra Parawansa juga melihat lokasi. Menurutnya, 98 persen warga yang berada di area lokasi bencana tanah longsor Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo ingin direlokasi.

“Kalau ditanya tinggal lahan yang sama atau aman direlokasi, maka 98 persen warga ingin direlokasi. Hanya dua persen warga yang ingin tetap tinggal karena riwayat tanahnya yang panjang,” ujar Khofifah di sela kunjungannya di lokasi bencana tanah longsor, Minggu (2/4/2017) siang.

Hanya saja, untuk merelokasi ratusan warga dibutuhkan lahan untuk pembangunan permukiman.

444452726Menurut Khofifah, saat ini tim Kemensos sedang mendata warga yang terdampak bencana tanah longsor. Tak hanya itu, dia juga sudah berkoordinasi dengan Bupati Ponorogo terkait rencana relokasi warga.

“Bupati sudah koordinasi dengan warga apakah mereka memiliki lahan lain atau memiliki solusi lain. Untuk itu nanti dicari win-win solution,” kata Khofifah.

Dalam kunjungan ini, Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni ikut serta mendampingi Khofifah.

Khofifah mengatakan, bila permukiman baru sudah dibangun, maka Kemensos siap membantu dalam proses pengisian hunian oleh warga terdampak longsor.

Tentang proses evakuasi, Khofifah mengatakan bahwa dibutuhkan banyak alat berat seperti ekskavator. “Mudah-mudahan cuaca bersahabat. Kalau cuaca tidak bersahabat eksavator juga tidak efektif,” ujar Khofifah.

Bencana longsor yang menerjang permukiman warga dan menimbulkan korban jiwa tersebut terjadi karena hujan pada malam hari atau Jumat malam (31/3/2017).  Longsor terjadi pukul 06.00 WIB, Sabtu (1/4/2017) keesokan harinya  dan menimbun masyarakat yang sedang memanen jahe di bagian bawah lereng perbukitan serta rumah warga sekitar 22 unit rumah.

Ia menambahkan, sebenarnya BPBD setempat telah memperingatkan akan potensi longsor kepada masyarakat karena ada tanda-tanda longsor.

Karena itu, masyarakat mengungsi pada malam harinya, dan pulang pada pagi harinya.  Sewaktu masyarakat kembali ke rumahnya, longsor terjadi. (ins/dtk)