Bupati Syafii Apresiasi Petik Laut Nelayan Pasean

GN/Istimewa Bupati Achmad Syafii melambaikan tangan kepada nelayan peserta petik laut Kecamatan Pasean.

GN/Istimewa
Bupati Achmad Syafii melambaikan tangan kepada nelayan peserta petik laut Kecamatan Pasean.

PAMEKASAN (global-news.co.id)-Sebanyak 138 nelayan Kecamatan Pasean, Pamekasan, bergembira dengan berakhirnya musim ‘tera’an’ atau di kalangan nelayan dianggap sebagai masa paceklik ikan. Mereka menggelar ritual petik laut, Senin (10/4/2017), sebagai tanda sudah tibanya musim ikan.

Ritual petik laut semakin istimewa dengan kehadiran Bupati Achmad Syafii dan tentu saja didampingi jajaran Forpimda, kepala dinas perikanan, Kades Sotabar, dan beberapa kepala desa se-Kec. Pasean, unsur muspika setempat.

Dalam kesempatan tersebut, bupati pun menyempatkan ikut naik perahu nelayan peserta petik laut. Dalam ritual tersebut, para nelayan menghias perahu mereka. Tak sedikit biaya yang harus dirogoh. Bupati pun turut mengapresiasi.

“Tadi saya mendengar keluh kesah dari pemilik perahu penangkap ikan yang sudah menghabiskan uang sebesar 3 juta untuk menghiasi perahunya, dan saya sangat mengapresiasi para nelayan baik di pantai selatan maupun pantai utara seperti Pasean sekarang ini,” tutur Bupati  Syafii di atas perahu.

Lebih lanjut dikatakan, ritual petik laut selalu dilaksanakan nelayan untuk menyambut musim ikan. “Pada bulan Rajab seperti sekarang ini musim ikan dimulai hingga berlangsung lima bulan ke depan,” ujar bupati.

Ritual ini tidak beda ritual nelayan di Jawa yang melarungkan sesaji dan sampan kecil disebut “Bithek” yang dilengkapi dengan bunga tujuh rupa.“Filosofi sesajian sebenarnya bentuk rasa syukur para nelayan atas limpahan rezekinya selama ini. Sesajian pada penguasa laut yang tidak lain adalah gusti Allah SWT,”jelas H. Usman salah satu pemilik perahu asal Desa Sotaber Kecamatan Pasean.

Bupati pun juga berpesan ritual petik laut jangan sampai akibatkan pada kesyirikan. “Yang harus diniatkan, petik laut adalah rokat tase’ yaitu minta selamat pada yang jaga laut. Dengan sesajen ayam… emas…kambing dan lain-lain. Itu dulu, sekarang kalau masih percaya pada hal semacam itu, maka salah,” kata Syafi’i. “Harus ada niatan bersyukur pada tuhan, yaitu Allah Swt. Bukan pada penjaga laut,” pungkasnya.(mas/*)