Warga Binaan Pemasyarakatan Dibekali Keterampilan Menjahit

Karya warga binaan pemasyarakatan Lapas kelas II B Kabupaten Tuban.

Karya warga binaan pemasyarakatan Lapas kelas II B Kabupaten Tuban.

TUBAN (global-news.co.id) – Sedikitnya 16 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas kelas II B Kabupaten Tuban, khusus perempuan mendapat pembinaan selama menjalani masa tahanan dengan keterampilan menjahit.

Berdasarkan kunjungan wartawan global-news.co.id, Senin (6/02) di dalam Lapas Blok W yang dikhususkan untuk tahanan perempuan, tampak para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sedang melakukan aktivitas menjahit.

Hasil karya yang dimulai 4 bulan lalu ini, sudah membuahkan 4 karya, di antaranya produksi bantal, guling, tas dan dompet yang didukung 3 alat mesin jahit melalui modal awal dari Kalapas sebesar Rp 1 juta.

Dari situ kemudian dalam satu hari bisa menghasilkan minimal 50 barang, yang pemasaran penjualannya di dalam Lapas sendiri atau saat ada pameran-pameran.

Lilik Sugiarti, salah satu pembina WBP khusus perempuan mengatakan, WBP sebelum menjadi tahanan rata-rata tidak punya kreativitas menjahit, kemudian pihak Lapas mendatangkan tutor menjahit untuk membekali mereka dengan kesibukan di dalam Lapas melalui keterampilan.

“Mereka rata-rata tidak punya keterampilan sebelumnya, sehingga mereka kita berdayakan agar memiliki keterampilan sebagai bekal saat mereka bebas nanti,” ucapnya.

Dia menambahkan, sudah sering kali mendapat pesanan dari luar kota, ada yang dari Surabaya hingga Gresik. Sebab, menurutnya, rata-rata yang dipesan adalah dompet untuk souvenir pernikahan.

Harganya sendiri berkisar antara Rp 10 ribu–Rp 15 ribu untuk jenis dompet. Sedangkan untuk jenis bantal dan guling kisaran Rp 35 ribu–Rp 85 ribu tergantung ukuran.

Sementara itu Kalapas Kelas IIB Tuban, RB Danang Yudiawan menerangkan, dari hasil laba penjualan itu, dikembalikan lagi kepada WBP untuk kebutuhan sehari-hari.

“Dagangannya kita jual di depan pintu masuk Lapas, untuk melayani pembeli dari pengunjung atau dari sesama WBP,” tutur Kapalas asal Klaten Jawa Tengah ini.

Diharapkannya, warga binaan selama menjalani masa tahanan punya kegiatan positif dan sebagai bekal nantinya saat sudah bebas punya keterampilan yang bisa dikembangkan saat di rumah.(hud)