Pendataan Kiai, Kemenag Jatim Belum Diajak Bicara Kepolisian

Mahfudh Shodar, kepala Kantor Wilayah Kemenag Jatim.(Ist)

Mahfudh Shodar, kepala Kantor Wilayah Kemenag Jatim.(Ist)

SURABAYA (global-news.co.id) – Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin telah mengklarifikasi bahwa pendataan para kiai dan ulama bukan dimaksudkan untuk tujuan tertentu. Namun sebatas untuk mempermudah silaturahim dan sinergitas antara pihak kepolisian dengan ulama.

Hanya saja pendataan itu terlanjur bikin heboh di masyarakat, terutama dunia maya. Bahkan sebagian besar bertanya-tanya apa sebenarnya yang diinginkan dari pendataan itu, terlebih dilakukan kepolisian, bukan Kementerian Agama (Kemenag), institusi yang selama ini mengurusi masalah keagamaan, termasuk pesantren, Ormas keagamaan dan para pengasuhnya.

Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jatim, Mahfudh Shodar bahkan mengaku pihaknya belum diajak bicara oleh Polda Jatim terkait pendataan ini. “Belum,” katanya saat dihubungi wartawan, Sabtu (4/2).

Begitu pula soal pertemuan antara Kapolda dengan para ulama se-Madura dan Tapal Kuda di Polda Jatim kemarin, Mahfudh mengaku pihaknya tidak menerima undangan karena itu tidak hadir. “Kami juga belum menerima surat pemberitahuan dari Polda soal pendataan itu,” tegasnya.

Di lingkungan Kemenag, lanjut Mahfudh, sampai saat ini juga belum ada instruksi apapun dari pusat untuk mendata para kiai di daerah. Karena itu dia enggan mengomentari kehebohan ini. “Saya belum bisa komentar,” katanya.

Sebaliknya, Ketua Tanfizdiyah PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah mengaku sudah dihubungi Kapolda Jatim dan dijelaskan duduk perkara sebenarnya. Dia menerima penjelasan bahwa pendataan bukan untuk kepentingan seperti dirisaukan publik.

“Saya menyampaikan kerisauan para kiai dan para pimpinan pesantren itu, karena dikait-kaitkan dengan masa lalu, masa PKI. Beliau (Kapolda Jatim) bilang itu pelintiran. Pendataan oleh polisi hanya membantu untuk sertifikasi para khatib shalat Jumat,” ujar Kiai Mutawakkil.

Sebelumnya, Kapolda langsung merespons dan berusaha meredam isu sensitif tersebut. Dia mengatakan, pendataan dilakukan untuk kepentingan silaturahim.

“Saya bukan mendata ulama (seperti peristiwa kelam dulu). Saya hanya ingin tahu mana-mana ulama yang perlu disilaturahimi,” katanya usai bertemu ulama se-Madura dan Tapal Kuda di Markas Polda Jatim.(rdl)