Pakar Jerman: Teknologi Biomassa Harus Dibuat Orang Indonesia Sendiri

GN/Istimewa Philipp Danz dari Fraunhofer Institute for Environmental, Safety, and Energy Technology UMSICHT, Jerman.

GN/Istimewa
Philipp Danz dari Fraunhofer Institute for Environmental, Safety, and Energy Technology UMSICHT, Jerman.

SURABAYA (global-news.co.id)-Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berupaya turut mengembangkan teknologi pengolahan biomassa sebagai sumber energi  yang belum sepenuhnya tergarap di Indonesia. Salah satunya dilakukan melalui seminar yang menggandeng Fraunhofer UMSICHT dari Jerman, Jumat (10/2/2017).

Seminar bertajuk Biomass and Residue to Power Traveling Conference yang dihelat di Ruang Sidang Utama Rektorat ITS ini menghadirkan sejumlah pakar teknologi biomassa dari Jerman dan Indonesia. Dihadiri oleh kalangan akademisi maupun praktisi di bidang energi di Indonesia.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS, Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT, mengatakan ITS sudah mulai mengadakan penelitian mengenai biomassa sebagai sumber energi sejak tahun 2011. “Selain itu, di ITS terdapat incinerator untuk membakar sampah dan mengkonversikannya menjadi energi,” jelas Adi.

Di incinerator tersebut, lanjut mantan Direktur Pascasarjana ITS ini, sampah dari seluruh kampus ITS diolah menjadi energi melalui proses gasifikasi. Biomassa memang didapatkan dari sumber yang bermacam-macam seperti dari sampah organik hingga dari kayu atau kotoran. Pengembangan teknologi biomassa di ITS tidak sekadar mencakup pembangkitan energi. ITS juga turut melakukan pengabdian masyarakat dengan mengaplikasikan teknologi biomassa di luar ITS.

“Kami berpikir untuk mendirikan pusat pengolahan biomassa di luar ITS agar tidak ada biaya transportasi untuk mengangkut biomassa yang berupa kotoran,” tutur Guru Besar dari Departemen Teknik Elektro ini. Namun, imbuhnya, ITS juga berusaha untuk membuat prototipe pengolahnya di ITS agar juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran nantinya.

Dalam kesempatan itu Philipp Danz dari Fraunhofer Institute for Environmental, Safety, and Energy Technology UMSICHT, Jerman mengungkapkan biomasssa dapat diolah menjadi briket-briket yang dapat ditransportasikan kemana-mana. “Melalui proses karbonisasi, biomassa diolah menjadi bahan bakar yang praktis dan kaya akan energi,” papar Danz.

Keunggulan energi biomassa yang lain, ujar Danz, adalah siklus karbon yang lebih pendek serta pengurangan ketergantungan terhadap batu bara. Meskipun demikian, Danz berpendapat di Indonesia potensi biomassa sebagai sumber energi belum sepenuhnya tergarap. “Waktu itu saya menemui ada limbah padi yang dibiarkan begitu saja. Petaninya bingung biomassa itu mau diapakan,” cerita Danz tentang pengalamannya.

Dikatakan, tantangan pengembangan teknologi ini terletak pada perubahan pola pikir masyarakat agar mau mengikuti sistem pengolahan sampah yang lebih terpusat dan tidak membakar sampahnya sendiri. “Pertanyaan kebanyakan dari warga memang, mengapa saya perlu membayar untuk pengumpulan sampah ketika saya bisa membakarnya sendiri,” ujar Danz.

Ia berpendapat teknologi biomassa ini harusnya dibuat oleh orang Indonesia sendiri dan tidak sekadar mengimpor teknologi dari Eropa. “Selain ilmunya dapat, tentunya juga lebih murah,” pungkas Dan.(faz)