SVP PT. Pertamina Shipping: ‘BBM Satu Harga’, Efisiensikan Biaya Transportasi Laut

SURABAYA (global-news.co.id)-Senior Vice President PT. Pertamina Shipping, Mulyono yang baru saja dikukuhkan sebagai doktor teknologi kelautan ITS Surabaya ke-35, mengungkapkan kebijakan ‘BBM Satu Harga’ yang dicanangkan Presiden Joko Widodo bisa diwujudkan bila biaya transportasi laut bisa diefisienkan.

Bagaimana kita mengurai masalah infrastruktur, kapasitas, persoalan-persoalan dalam angkutan laut dengan alat (tool) Theory of Constraint yang mengintegrasikan aktivitas operasional dan strategis. Karena itu dalam  penelitian ini ada net profitnya. “Angkutan laut menyumbang cost sangat besar kontribusinya dalam  harga produk  sehingga harus diefisienkan. Efisiensi bisa mencapai 20 persen,” papar Mulyono.

Terkait korelasi penelitian disertasi ini dengan kebijakan “BBM Satu Harga”, jadi tool ini bisa digunakan bagaimana biaya transportasi laut yang paling efisien. “Jadi dia diambil dari mana, system transportasi pakai apa. Ini bisa digunakan bagaimana mengefisiensikan biaya transportasi laut, agar bisa turun,” terang Mulyono.

Menurut Mulyono, sekarang ini kenapa BBM mahal sekali karena alat transportasinya, keterbatasan infrastruktur transportasi. “Kalau sekarang kan pakai pesawat, bahkan tidak ada kendaraan yang lain, mobil tidak bisa, menggunakan kapal tidak bisa, sekarang menggunakan pesawat. Nah, kenapa mahal? karena menggunakan pesawat dan volumenya kecil, kebutuhannya kecil, jadi kita bawanya dengan volume yang kecil,” papar Mulyono.

Persoalan yang dihadapi adalah keterbatasan infrastruktur seperti pekerjaan dermaga, dermaganya terbatas, kebutuhannya banyak tapi hanya punya dua dermaga.

Selain itu alur pelayarannya. “Jadi rute pelayaran yang dilalui dangkal, jadi kapal yang seharusnya bisa membawa (BBM) penuh, tapi karena dangkal tidak bisa bawa penuh,” ujar pria kelahiran Bojonegoro ini.

Suami Ir Primarini MT ini mengatakan, kalau kedalaman dermaga bisa mencapai 6 meter, maka tanker dengan 5000 ton BBM bisa merapat. “Kalau Cuma 4,5 meter, ya hanya mampu membawa 3000 ton,” jelas Mulyono. Menurut Mulyono, hal ini sangat tidak menguntungkan karena ada tempat tanker yang kosong. “Padahal biayanya sama mengirimkan 3000 ton dengan 4500 ton,” ujar Mulyono.

Terkait dengan keterbatasan dermaga, idealnya seharusnya paling tidak ada tiga dermaga supaya tidak menimbulkan antrean.

Sekadar diketahui,  di sela aktivitasnya yang super sibuk sebagai Senior Vice President PT. Pertamina Shipping, Mulyono akhirnya dikukuhkan sebagai doktor Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi 10 November Surabaya ke-35, Kamis (26/1/2017) lalu.

Gelar doktor diperoleh setelah dalam sidang disertasi terbuka yang digelar di ruang sidang utama gedung rektorat ITS, Mulyono dinyatakan lulus dengan nilai cum laude.

Dalam desertasinya, Mulyono melakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Model Terintegrasi Berbasis Theory Of Constraint untuk Meningkatkan Kinerja Sistem Transportasi Laut: Studi Kasus PT. Pertamina

Menurut Mulyono, efektivitas dan produktivitas kinerja sistem transportasi laut dibutuhkan pengembangan model terintegrasi yang berbasis Theory of Constraints (TOC). Pasalnya, penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya masih terfokus pada optimalisasi komponen-komponen dari sistem pengangkutan laut secara terpisah, atau disebut local optimum.

“Jadi, belum ada yang mengintegrasikan antara variabel strategis dan operasional dari sistem transportasi laut secara komprehensif,” tutur Mulyono.

Desertasi yang dipaparkan pria kelahiran 11 September 1967 ini menyebut, konsep model terintegrasi berbasis TOC pada sistem transportasi laut tersebut meliputi integrasi komponen sistem, integrasi ukuran kinerja, integrasi Time Horizon, dan integrasi Output.

Pria yang program S-2 nya mengambil jurusan Teknik Mesin dan Magister Manajemen Universitas Indonesia ini menambahkan, setiap sistem dalam sistem terbuka merupakan gabungan dari subsistem. “Dimana dalam satu subsistem yang berantai minimal ada satu konflik. Dengan begitu, output dari sistem bukan mengikuti yang kuat, tapi yang lemah,” urai Mulyono dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor yang digelar Rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut.

Melalui disertasi yang dipromotori almarhum Prof Ir Djauhar Manfaat MSc PhD dengan co-promotor Ir Tri Achmadi PhD, ayah dua putri ini lantas melakukan penelitian untuk mendefinisikan dan merumuskan ulang tujuan dari sistem transportasi laut. Selain itu, ia juga melakukan penerjemahan beberapa terminologi TOC.

“TOC itu merupakan suatu tahapan. Tahapan yang dimaksud adalah dimulai dari mendefinisikan goal sistem, kemudian menentukan ukuran kinerja pada TOC. Pada tahap ini, saya melakukan pendefinisian ulang untuk ukuran kinerja TOC, meliputi Throughput, Inventory, Operating Expense, Productivity, dan Net Benefit,” papar lelaki 49 tahun ini.

Tahapan selanjutnya, kata Mulyono, TOC mendefinisikan system’s constraint dengan tiga metode penelitian, yakni process map, identifikasi constraints berbasis uji statistik, dan identifikasi biaya constraint. Terkait penelitian constraint yang dilakukan Mulyono pada sistem transportasi laut di PT Pertamina adalah setelah constraint diidentifikasi dengan cara standarisasi satuan sistem menjadi KL/hari.

“Diketahui penyebab constraint adalah terbatasnya kapasitas jetty, cargo, pump, dan port draft. Apabila, kapasitas constraint tidak ditingkatkan, biaya congestion, deadfreight, dan slow pumping akan membebani kinerja perusahaan tersebut,” jelas bapak dua anak ini.

Solusinya, lanjut Mulyono, adalah solusi jangka pendek, dengan meningkatkan kapasitas jetty dari dua menjadi tiga unit. Kemudian, meningkatkan kapasitas draft dari 4,5 meter menjadi 6 meter, dan meningkatkan kapasitas cargo pump dari 500 KL per jam menjadi 550 KL per jam.

“Sedangkan, solusi jangka panjangnya, adalah dengan cara meningkatkan kapasitas jetty menjadi 5 unit, kapasitas draft menjadi 6 meter, dan cargo pump  menjadi 550 KL/jam,” tutur Mulyono.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Teknologi Kelautan Prof Dr Daniel M Rosyid juga turut mengucapkan selamat kepada Mulyono atas gelar baru sebagai doktor ke-35 FTK ITS Surabaya. “Dalam rangka menjadi world class university, Fakultas Teknologi Kelautan ITS membutuhkan lebih banyak doktor,” ujar Daniel.

Sidang tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat Pertamina seperti Dirut Pertamina Lubricants Gigih Wahyu Hari Irianto, Deputi Menko Bidang Industri dan Perdagangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edy Putra Irawady.(faz/agk/nur)