Perangi HIV/AIDS, Kemensos Alih Fungsikan Panti Sosial

Mensos Khofifah Indar Parawansa dalam Rakor Nasional LKS Bidang Layanan HIV AIDS, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (20/1).

Mensos Khofifah Indar Parawansa dalam Rakor Nasional LKS Bidang Layanan HIV AIDS, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (20/1).

BEKASI (global-news.co.id) – Kementerian Sosial (Kemensos) memperluas jangkauan pelayanan terhadap penderita HIV/AIDS dengan mengalihfungsikan sejumlah panti di daerah.

Dua panti yang dialihfungsikan yakni Panti Sosial Bina Daksa Bahagia di Medan, Sumatera Utara yang sebelumnya memberikan layanan bagi penyandang disabilitas tubuh dan Panti Sosial Bina Lara Kronis (PSBPLK) Wasana Bahagia di Ternate yang sebelumnya memberikan pelayanan bagi penderita eks Kusta.

Di samping itu, Kemensos juga telah menaikkan status Rumah Perlindungan Sosial ODHA yang di Sukabumi yang sebelumnya berstatus sebagai rumah perlindungan sosial meningkat menjadi sebuah Panti.

“Alih fungsi dan peningkatan status ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah dalam mengatasi tingginya persebaran penyakit HIV/AIDS di Indonesia,” ungkap Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam Rapat Koordinasi Nasional LKS Bidang Layanan HIV AIDS, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (20/1).

Khofifah menerangkan hingga tahun 2016 masyarakat yang terinveksi HIV-AIDS berjumlah 27.611 orang, terdiri dari HIV 198.219 orang, dan AIDS 78.292 orang. Dan dari 34 provinsi yang berhasil didata, 5 provinsi dengan populasi orang dengan HIV terbesar meliputi; Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

“Jumlahnya bisa lebih besar, karena data tersebut hanya berdasar kunjungan medik ke RS ataupun Puskesmas,” imbuhnya.

Realitas ini, lanjut Khofifah, menandakan masih diperlukan upaya keras untuk mencegah HIV/AIDS menyebar di masyarakat. Butuh komitmen berbagai pihak untuk bersama-sama memerangi persebaran penyakit HIV/AIDS di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Mensos juga mendorong masyarakat untuk menyudahi diskriminasi dan stigma terhadap penderita HIV/AIDS. Menurutnya, diskriminasi tidak akan menyelesaikan masalah, justru malah akan menambah beban mereka. Sebaiknya berikan terus dukungan positif kepada para penderita HIV/AIDS.

Diungkapkan Khofifah, diskriminasi terjadi lantaran masih kuatnya stereotip di masyarakat bahwa penyakit itu terjadi akibat perilaku menyimpang dan penderita adalah orang-orang tidak baik. Padahal, lanjut Mensos, HIV/AIDS sama dengan penyakit lainnya sehingga tidak perlu ada pembedaan atau diskriminasi terhadap penderita.

Dikatakan, penyakit ini juga bisa menyerang semua orang, termasuk ibu rumah tangga baik-baik dan anak mereka. Oleh karena itu, diperlakukan pemahaman menyeluruh bagi masyarakat luas agar orang dengan HIV/AIDS tidak dideskriditkan.

Khofifah juga berpesan agar pasien penderita HIV/AIDS untuk tidak malu dan rendah diri di kehidupan bermasyarakat. Sebaliknya, kata Dia, penderita HIV/AIDS harus bersemangat menjalani hidup.(rdl)