OJK Didesak Menjadi Inkubator UMKM Jatim

Gubernur Jatim Soekarwo didampingi  Kepala #Eksekutif Pengawas Perbankan OJK dan Kepala OJK Kantor Regional IV Jatim Sukamto dalam pertemuan tahunan pelaku insdustri jasa keuangan di Surabaya.

Gubernur Jatim Soekarwo didampingi Kepala #Eksekutif Pengawas Perbankan OJK dan Kepala OJK Kantor Regional IV Jatim Sukamto dalam pertemuan tahunan pelaku insdustri jasa keuangan di Surabaya.

SURABAYA (global-news.co.id)–Pemerintahan Provinsi Jawa Timur (Jatim) meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong dan membantu pertumbuhan ekonomi wilayah itu pada tahun 2017 dengan menangani permasalahan industri. Salah satunya berperan sebagai inkubator yang menangani kemasan produk UMKM.

“OJK harus menawarkan dan ikut membantu dalam peremajaan mesin-mesin industri di Jatim, sebab mesin-mesin itu sudah tua jadi perlu peremajaan,” kata Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dalam acara pertemuan tahunan pelaku industri jasa keuangan tahun 2017 di Hotel JW Marriott, Selasa (17/1/2017).

Menurut Pakde penyaluran kredit harus diperbesar untuk mendorong pertumbuhan, karena hal itu merupakan langkah yang tepat menyokong pertumbuhan ekonomi.

Sebab, ia memprediksi Jatim tahun 2017 membutuhkan total investasi di berbagai bidang sebesar Rp 520 triliun dan dari kebutuhan tersebut Rp170 triliun di antaranya dipenuhi oleh dana APBD Jatim. “Karena itu kekurangan lainnya bisa disokong dari penyaluran kredit, dan landing kredit perbankan di Jatim tahun lalu hanya tumbuh 8 persen,” katanya.

Ia mengatakan, untuk membuat pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 5,8 persen, penyaluran kredit tahun 2017 setidaknya harus tumbuh 12 persen.

Sementara itu, Kepala OJK Kantor Regional IV Jatim Soekamto mengaku, kini sedang berusaha menggenjot kredit dengan membuka akses baru secara bulanan bagi perbankan. Tujuannya, untuk mengetahui akses keuangan di daerah yang belum tersentuh perbankan dan pasar modal, agar penyaluran kredit bisa digenjot.

“Kami terus mendorong perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit hingga tumbuh 12 persen tahun ini. Pasalnya, penyaluran kredit yang naik diyakini bisa menjadi penopang target pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang dipatok mencapai level 5,8 persen pada 2017,” ujarnya.

Soekamto akan menyiasati peningkatan penyaluran kredit perbankan dengan mencari tahu berapa kebutuhan dana yang diperlukan setiap daerah untuk penyaluran kredit, sehingga target pertumbuhan kredit 12 persen tahun ini bisa terealisasi.

Sedangkan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Nelson Tampubolon mengatakan, digenjotnya kredit itu tidak lepas dari melambatnya penyaluran kredit perbankan pada tahun 2016. “Tahun lalu, pertumbuhan penyakuran kredit secara nasional hanya tumbuh 9 persen. Padahal tahun 2015 pertumbuhannya diatas 10 persen,” imbuhnya.

Ia mengatakan, turunnya pertumbuhan kredit tahun 2016 akibat kondisi ekonomi global yang cukup melambat, khususnya pada semester awal 2016.

KUR

Terkait penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Jawa Timur selama 2016 tercatat  Rp 12,7 triliun atau sebesar 14,46 persen dari total KUR nasional. “Ke depan OJK akan mendorong penyempurnaan skema KUR yang lebih fokus pada sektor produktif sehingga diharapkan meningkatkan jumlah UMKM yang bankable,” kata Sukamto.

Ia mengatakan, keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jatim menjadi sektor prioritas untuk penyaluran kredit, hal itu sesuai dengan visi dan misi Pemprov Jatim yang fokus pada pemberdayaan UMKM, serta didorong pemerintah pusat melalui program KUR.

Dukungan lain Pemprov Jatim kepada UMKM, kata Sukamto juga diwujudkan dengan program kerja sama PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jatim melalui pelaksanaan perjanjian khusus dalam bentuk penyaluran kredit industri primer dengan suku bunga 7 persen sampai 9 persen.

Sukamto menyebutkan, secara umum penguasaan pasar volume usaha perbankan di Jawa Timur pada tahun 2016 telah mencapai 7,89 persen dari volume usaha perbankan nasional, dengan pertumbuhan total aset Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kredit masing-masing sebesar 7,35 persen, 6,03 persen dan 4,39 persen.

Selain itu, untuk kinerja pasar modal di Jawa Timur pada 2016 juga menunjukkan adanya pertumbuhan, yang tercermin dari peningkatan jumlah investor sebanyak 10.998 orang atau 20,41 persen.  “Disisi lain, kinerja perusahaan pembiayaan, dana pensiun, dan modal ventura juga menunjukkan peningkatan volume usaha masing-masing sebesar 7,38 persen, 26,54 persen, dan 42,99 persen,” katanya.

Sementara itu, pertumbuhan kredit pada sektor prioritas lainnya di Jawa Timur yaitu pada Sektor Agrikultur (Pertanian, Perburuan, Kehutanan, & Perikanan) dan sektor Industri Pengolahan masing-masing juga tumbuh positif sebesar 11,17 persen dan 5,11 persen.ila,lil