Apresiasi Tinggi untuk “Mata Hati Mbah Djoyokardi”

Kehidupan Mbah Djoyokardi dan putrinya bikin haru Mensos Khofifah Indar Parawansa.

Kehidupan Mbah Djoyokardi dan putrinya bikin haru Mensos Khofifah Indar Parawansa.

SURABAYA (global-news.co.id) – Samar-samar terlihat Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menyeka air matanya. Berkali-kali dilakukannya di tengah redupnya cahaya ruang studio milik SMA Khadijah Surabaya saat pemutaran film pendek berjudul “Mata Hati Mbah Djoyokardi”.

Film dokumenter karya siswa SMA ini mampu mengharukan para undangan yang ikut menyaksikan dalam studio itu, Minggu (21/1).

Usai pemutaran film ini, Khofifah yang juga Ketua Umum Yayasan Taman Pendidikan Sekolah (YTPS) Khadijah mengatakan, ada pesan mendalam dalam film itu. “Pesan itu yang dalam itu adalah tanggung jawab,” tegasnya.

Mbah Djoyokardi sebagai tokoh dalam film pendek ini tidak berhenti memberi tanggung jawabnya kepada Indah, sementara kondisinya sendiri serba kekurangan. “Indah adalah anak angkat, kondisinya disabilitas intelektual. Tapi, kasih sayang Mbah Djoyokardi tidak berhenti,” tambahnya.

Menurut dia, film ini merupakan potret pentingnya kepedulian sosial, solidaritas sosial, dan pentingnya tanggung jawab kepada sesama dari seorang Mbah Djoyokardi.

“Sebagai ketua umum, saya terkejut dengan hasil siswa SMA Khadijah ini. Apalagi dari 268 karya film, mereka masuk 2 besar nasional,” katanya.

Melihat kondisi Mbah Djoyokardi, Khofifah mengaku akan segera mengintervensi. Terutama dalam memberi bantuan. Mbah Djoyokardi termasuk dalam program keluarga harapan (PKH) lansia karena berusia di atas 70 tahun.

Bukan hanya itu, Mbah Djoyokardi juga berhak mendapat rumah tinggal layak huni (Rutilahu) dan besar 15 kg per bulan. “Minimal tiga ini yang kami intervensi,” tuturnya.

Sementara itu film pendek karyansiswa SMA Khodijah ini meraih juara II festival film pendek Indonesia 2016. Berkisah tentang Mbah Djoyokardi, dari Lamongan, yang seorang diri merawat dan membesarkan anak angkat bernama Indah. Indah mengalami disabilitas intelektual, sehingga belum sempat mengenyam pendidikan formal.(zal)