95 Orang Ditahan Usai Unjuk Rasa Anti-Trump

GN/EPA Polisi membantu orang-orang yang ingin menyaksikan upacara pelantikan Donald Trump, yang dicegah oleh para pengunjuk rasa anti-Trump.

GN/EPA
Polisi membantu orang-orang yang ingin menyaksikan upacara pelantikan Donald Trump, yang dicegah oleh para pengunjuk rasa anti-Trump.

WASHINGTON DC (global-news.co.id)-Sedikitnya lebih dari 90 orang yang terlibat dalam unjuk rasa menentang pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS ditahan pihak kepolisian setempat.

“Kami menahan kira-kira 95 orang. Mereka melakukan vandalisme dan penghancuran properti,” kata juru bicara kepolisian metropolitan Letnan Sean Conboy, Sabtu (21/1/2017).

Dalam unjuk rasa tersebut, terjadi bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa yang mengakibatkan dua orang terluka.

Sebelumnya, bentrokan pecah antara para pengunjuk rasa yang mengenakan topeng dan polisi di pusat kota Washington.

Unjuk rasa itu terjadi hanya beberapa blok dari lokasi pelaksanaan parade untuk menghormati Presiden Donald Trump yang baru saja dilantik.

Dalam unjuk rasa berujung kerusuhan itu, para pengunjuk rasa melemparkan batu ke arah polisi dan membakar sebuah mobil limosin.

Polisi kemudian membalas dengan menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa.

Ronald Dye, seorang kepala polisi di Talladega College, Alabama, berkunjung ke Washington DC bersama sejumlah siswa untuk menyaksikan marching band sekolah itu yang tampil dalam upacara pelantikan presiden.

Dye (56) mengatakan, dia malah terjebak di sebuah gerai Starbucks ketika 300-400 orang pengunjuk rasa menghamburi dan melempari tempat itu menggunakan batu.

“Awalnya mereka melemparkan batu, kemudian tong sampah, tetapi tak berhasil juga. Lalu mereka mengambil tongkat besi dan mulai menghancurkan jendela,” ujar Dye.

“Mereka sudah menyiapkan semua peralatan di tas punggung yang dibawa,” tambah dia.

“Kami hanya bisa bersembunyi di bawah meja. Itu satu-satunya hal yang bisa kami lakukan,” ujar dia.

Pengunjuk rasa juga melakukan vandalisme dengan menyemprotkan cat ke dinding bangunan di sekitar mereka.

Sementara itu, para pengunjuk rasa damai yang membawa spanduk berbunyi “bukan presiden saya” atau “katakan tidak kepada rasisme”, juga terkejut dengan kerusuhan tersebut.

Selain perusakan terhadap gerai Starbucks, kaca gerai sebuah gerai McDonald’s dan bank Wells Fargo juga dirusak. Selain itu, beberapa mobil juga menjadi sasaran.

Aksi unjuk rasa lebih besar yang diikuti lebih kurang 200.000 orang akan perempuan digelar pada Sabtu (21/1/2017) di Washington DC.

Mereka akan melakukan aksi jalan kaki yang bisa jadi merupakan unjuk rasa terbesar dalam sejarah ibu kota Amerika Serikat itu.

Sebanyak 30 kelompok sudah mendapatkan izin untuk melakukan unjuk rasa yang diperkirakan diikuti 270.000 orang sepanjang Jumat dan Sabtu.(kpc/afp/rtr)