Akhir Tahun, BI Perkirakan Inflasi Jatim Naik 0,5 Persen

 

GN/Istimewa Pedagang  sayuran melayani calon pembeli

GN/Istimewa
Pedagang sayuran melayani calon pembeli

SURABAYA (global-news.co.id)-Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi Jawa Timur akan naik 0,5 persen pada akhir 2016, karena Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 berbarengan dengan libur panjang sekolah, sehingga membuat daya beli masyarakat makin naik pada akhir tahun.

Kepala BI Perwakilan Jatim Benny Siswanto, di Surabaya, Jumat mengakui daya beli yang naik otomatis akan dibarengi dengan kenaikan harga, dan sektor yang naik antara lain transportasi dan beberapa komoditas seperti bawang merah dan cabai.

“Sampai November 2016 bawang merah menyumbang inflasi hingga 0,39 persen, dan akan diperparah dengan harga cabai rawit yang masih melambung akibat cuaca, serta ditambah biaya transportasi yang biasanya melonjak 100 persen,” katanya.

Sebelumnya, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim inflasi wilayah setempat pada November 2016 mencapai 0,33 persen, dan apabila naik 0,5 persen diperkirakan akan berada pada level 0,83 persen. “Angka itu sudah bagus, sebab kenaikan harga cabai juga masih berlangsung hingga saat ini,” katanya.

Benny mengatakan, sektor konsumsi juga akan naik pada akhir tahun, karena adanya belanja bahan makanan, sehingga beberapa komoditas sulit dikontrol.

“Kami perkirakan bahan makanan akan menyumbang inflasi paling tinggi dengan nilai 0,85 persen. Dan itu masih akan berlanjut di akhir Desember ini,” katanya.

Benny mengatakan, secara kumulatif nilai inflasi Jatim masih berada pada level yang bagus, yakni ada pada kisaran 2,6 hingga 3 persen, dan berada di ambang batas inflasi pemerintah sebesar 4 persen.

Sementara itu, Benny mengaku, komoditas yang akan menghambat laju inflasi pada tahun 2016 adalah semen yang harganya justru turun, meski konsumsinya yang meningkat. “Faktornya adalah produksi semen domestik yang surplus atau lebih, sehingga mendorong penurunan harga,” katanya.(ant/agk)