Kungfu Tradisional Menggeliat, Mulai Bersiap Bangun Gedung Serbaguna-Tempat Ibadah

GN/Istimewa Guru bela diri aliran Shandong Qian (Kungfu Utara) Liem Tjing Hay (LCH), tengah bertopi, bersama dengan keluarga besar.

GN/Istimewa
Guru bela diri aliran Shandong Qian (Kungfu Utara) Liem Tjing Hay (LCH), tengah bertopi, bersama dengan keluarga besar.

SURABAYA-Perayaan HUT Liem Tjing Hay (LCH), guru bela diri aliran Shandong Qian (Kungfu Utara) ke-74 yang digelar pada tgl 24 September 2016 di Sidotopo Wetan Baru 1/No 22-28 Surabaya, berlangsung meriah. Tamu tamu dari berbagai kalangan seperti : sejumlah yayasan, perkumpulan, para donatur, kerabat, keluarga besar LCH hingga masyarakat setempat memberikan ucapan selamat kepada sang guru.

img_2610Dalam suasana hujan gerimis, tetapi tidak menghilangkan rasa khidmad untuk memperingati HUT sang guru yang dihadiri sekitar 300 undangan tersebut. Dimulai dengan upacara doa oleh para murid, Suasana khidmat begitu terasa, sesaat kemudian para murid berbaris kemudian bersama-sama mengucapkan Gong Xi Sheng Ri Khuai Le.

Berbagai acara dilaksanakan. Seperti lion dance (barongsai), tarian naga, nyanyi dari sejumlah murid. Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng dan kue tart serta tiup lilin oleh guru. Dan dilanjutkan dengan bernyanyi bersama dengan lagu “Panjang Umurnya” sambil sejumlah undangan menyalami guru.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada para tamu tamu yang telah sudi hadir dalam acara perayaan ini. Semoga kita terus diberikan kesehatan, sehingga kita bisa berjumpa di tahun depan,” kata guru.

Sekilas tentang guru besar Liem Tjing Hay. Beliau salah satu praktisi bela diri aliran Shandong Qian (Kungfu Utara) yang hingga kini masih eksis di Surabaya. Beliau lahir pada tahun 1942 dan besar di Kapasan Dalam Surabaya. Dengan jiwa besar sosial yang tinggi di masa mudanya guru besar Liem Tjing Hay sudah mengajarkan ilmu bela diri dan praktik pengobatan sebagai shin she.

img_2708Sekitar 1975, guru ‘hijrah’ ke Sidotopo Wetan Baru Surabaya dan mewujudkan cita citanya yang luhur agar hidupnya berguna untuk orang lain dengan mengadakan pengobatan sebagai seorang Sin She dan mengajarkan kungfunya.

Hingga saat ini perkumpulan kungfu ini selain mengajarkan ilmu bela diri, juga mengajarkan seni tari Lang Sai (barongsai) dan Liong. Dengan penuh ketelatenan dan kewibawaan murid perkumpulan dari tahun ke tahun terus bertambah. Ini dikarenakan apa yang diajarkan oleh sang guru benar-benar bermanfaat bagi kehidupan manusia. Terpenting lagi, sejumlah murid setelah berlatih kungfu mengatakan ada kemajuan di bidang kesehatannya. Terutama di bidang kesehatan dan kebugaran.

“Guru selalu berpesan, kita-kita para murid jangan hanya melatih fisiknya saja, tetapi juga mengajarkan budi pekerti sebagai pembinaan mental, sehingga para murid menjadi manusia yang penuh tatakrama dan berbudi luhur. Yang membanggakan bagi kami dalam belajar mengajar ini kami tidak dipungut biaya sepersen pun,” kata salah seorang murid yang hadir di acara tersebut.
img-20161003-wa0015Seminggu Tiga Kali

Lebih lanjut Liem Tjing Hay mengatakan, perguruan yang didirikan itu dapat dikata sebagai proyek amal. Mengapa? Tentang ini dia mengatakan, di sini dirinya tidak mencari keuntungan dengan berlatih kungfu. “Buktinya kami tak memungut biaya. Yang terpenting bagi kami bagaimana kami bisa mempertahankan bahkan lebih menyebarkan kebudayaan ini,” katanya.

Dikatakan, latihan kungfu dilaksanakan di Pendopo Sidotopo Wetan Baru, Gang I Nomer 22-28 setiap hari, Selasa, Jumat dan Minggu. Setiap latihan diikuti sekitar 20 orang. Kungfu yang diberi nama Ba Gua Qian (Kungfu Utara) semakin hari semakin diminati oleh sejumlah anggota masyarakat.

Suasana persaudaraan di perkumpulan Kungfu ini memang kental sekali. Buktinya, setelah selesai berlatih, terutama Minggu, para peserta melakukan makan bersama di tempat latihan. Biasanya setiap Minggu ada saja anggota yang mentraktir dengan memasak sendiri. Di samping itu, Liem Tjing Hay juga mendirikan Yayasan Hendra Alim Elceha. Yayasan ini bergerak di bidang sosial, seni budaya, kemanusiaan, dan keagamaan.
img_20160924_145856Program-programnya yang tengah direncanakan yaitu untuk membuka kelas Bahasa Inggris dan Mandarin untuk anak anak maupun dewasa. Yayasan juga ingin membuka kesempatan bagi para pengajar yang berjiwa sosial untuk bergabung bersama mendidik para murid.

Program lainnya, yakni yayasan ingin membangun tempat ibadah dengan fasilitas gedung serbaguna. Gedung serbaguna ini akan dibangun di Jl. Sidotopo Wetan Baru I No 22-28 Surabaya. Hingga 30 September 2016 dana yang terkumpul untuk pembangunan tempat ibadah sekitar Rp 46.068.888. Sedangkan estimasi dana yang dibutuhkan adalah Rp 942.938.100.

Karena itu, bagi donatur yang berkeinginan turut serta dalam proyek sosial ini kami berharap menghubungi panitia resmi. Untuk contact person hubungi: Setiadi/Siong Sin 081 217 145 145/081 13548100 (WA), Liem Kuang Ming (Fredrick) 081703769099 atau bisa email:yayasanhendraalim.elceha@yahoo.com

Partisipasi Anda bisa melalui BCA Cabang Pasar Turi Surabaya nomor rekening: 1000 211 369 atas nama Yayasan Hendra Alim Elceha.

Sementara itu, Struktur Yayasan Hendra Alim Elceha. Bapak Hendra Alim (Liem Tjing Hay) sebagai Pembina, Yefta Heriawan (Liem Han Liong) sebagai Pengawas dan Bambang Yulianto (Zhuang Wen An) sebagai Ketua Yayasan, Setiadi Gunawan (Go Siong Sin) sebagai Sekretaris, dan Rudyanto sebagai Bendahara.(*)

 

YAYASAN HENDRA ALIM ELCEHA

Jl Sidotopo wetan baru 1A/33

Surabaya Telp. 031-3762604, 08113548100

www.yayasanhendraalim.com

email : yayasanhendraalim.elceha@yahoo.com