KH Abdul Chalim Leuwimunding: Pendiri NU, Pejuang Republik, dan Perintis PERGUNU

KH. Abdul Chalim Leuwimunding

KH. Abdul Chalim Leuwimunding

Leuwimunding? Saya punya guru di sana, sudah wafat memang. Namanya Kiai Abdul Chalim.

Presiden RI Ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Oleh: Djoko Pitono dan H.A. Lazim Suadi

Harian Kompas, Selasa, 18 Oktober 2016, menurunkan tulisan menarik yang ditulis redaktur seniornya J. Osdar,  berjudul Kiai Mojo dan Imam Bonjol. Dalam tulisan itu antara lain diungkapkan bahwa Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Januari 2000 meminta putrinya, Zanubba Ariffah Chapsoh alias Yenny Wahid, berziarah ke makam Kiai Mojo, yang terletak di atas bukit di Desa Wulawan, Tondano Utara, Minahasa, sekitar 40 kilometer tenggara Manado, Sulawesi Utara. “Dulu aku ke makam Kiai Mojo disuruh Bapak. Malam-malam. Jauh sekali,” kata Yenny di Jakarta, Minggu, 16 Oktober 2016.

Yenny juga mengatakan, ziarah ke makam Kiai Mojo ini untuk menjaga kesatuan dan persatuan Nusantara. “Ketika itu Bapak hanya mengatakan ziarah untuk menjaga Nusantara,” ujar putri kedua pasangan Gus Dur dan Ny. Sinta Nuriyah.

Osdar juga mengungkapkan, saat KH Abdurrahman Wahid menjadi Presiden, Ibu Negara Sinta Nuriyah juga berziarah makam Imam Bonjol di Desa Lota, Pineleng, Minahasa, 20 km sebelah selatan Manado. Imam Bonjol adalah pahlawan Perang Paderi di Sumatra Barat, yang ditangkap Belanda pada Oktober 1864 dan dibuang ke Minahasa. Beliau wafat pada 6 November 1864.

Gus Dur meminta putrinya berziarah ke makam Kiai Mojo? Dan Ibu Sinta Nuriyah berziarah ke makam Imam Bonjol?  Sepintas terkesan aneh. Siapa, bahkan di antara warga muslim yang tinggal tak jauh dari makam Kiai Mojo atau Imam Bonjol, yang masih berziarah ke makam dua pahlawan tersebut? Ya, tetap ada tetapi rasanya terbatas. .

Tetapi jawabannya, bagi ummat Islam terutama warga Nahdlatul Ulama, disampaikan oleh Dr KH As’ad Said Ali . Kiai As’ad antara lain mengungkapkan  bahwa para ulama yang berjuang di awal abad ke-20 mendapat spirit dari perjuangan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya dalam Perang Jawa yang berlangsung dari 1825 hingga 1830. Dan Kiai Mojo adalah kiai penasihat utama Pangeran Diponegoro.

Kiai As’ad Said Ali juga menjelaskan  bagaimana  para murid dan keturunan Pengeran Diponegoro dan pasukannya  melahirkan jaringan ulama, dan jaringan ulama itulah yang kemudian menjadi NU. Satu contoh adalah Kiai Sholeh Darat,  cucu dari Mbah Mutamakkin yang pernah menjadi seorang panglima Pangeran Diponegoro.

Hal serupa tampaknya terjadi pada Kiai Haji Abdul Chalim (1898-1972).  Jangankan orang-orang di luar Nahdlatul Ulama (NU). Tidak sedikit pula orang-orang NU sendiri yang tidak atau kurang mengenal tokoh ini. Beliau jelas termasuk  satu di antara delapan kiai pendiri NU. Namun jarang sekali tokoh ini ditulis, juga jarang diperbincangkan. Masyarakat baru tahu – mungkin sedikit — saat Gus Dur berziarah ke makam Kiai Chalim di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat pada Maret 2003. Kiai Chalim juga tersorot saat rombongan Kirab  Santri Nasional 2015 Surabaya-Jakarta singgah dan berdoa di makam kiai tersebut.

Mengapa Gus Dur berziarah ke makam KH Abdul Chalim Leuwimunding? Alkisah pada awal 2003, sejumlah pengurus dan anggota Banser NU Majalengka sowan pada Gus Dur di kediamannya di Ciganjur. Saat tiba di Ciganjur, Gus Dur ternyata masih belum datang dari kunjungan ke Prancis. “Ya, para anggota Banser memutuskan menunggu beberapa hari,” kata Ustadz Arifin Muslim, mantan Ketua Banser Majalengka.

Menurut Arifin, setelah Gus Dur datang dari kunjungannya di luar negeri, para aktivis Banser itu diterima di kediamannya. Dalam perbincangan tersebut, Gus Dur bertanya dari mana para tamunya.
Saat diberitahu bahwa para Banser itu dari Leuwimunding, Majalengka, sontak Gus Dur kaget. “Leuwimunding? Saya punya guru di sana, sudah wafat memang. Namanya Kiai Abdul Chalim,” kata Gus Dur seperti ditirukan Ustadz Arifin.

Segera saja, kata Arifin, Gus Dur memanggil stafnya untuk mengagendakan ziarah ke makam Kiai Abdul Chalim, dalam rangkaian acara kunjungannya ke Cirebon dan sekitarnya. Dalam sambutannya sekitar 45 menit di depan warga Leuwimunding di area makam Kiai Chalim, Gus Dur mengemukakan peran besar Kiai Chalim di masa sebelum berdirinya NU, saat pendirian, dan dalam perkembangan NU. “Banyak yang hadir saat kunjungan ziarah Gus Dur di makam Kiai Chalim. Ada ratusan orang warga Nahdliyin,” tutur Ustadz Arifin.

KH Abdul Wahab Chasbullah

KH Abdul Wahab Chasbullah

Kunjungan Gus Dur tersebut menunjukkan betapa besarnya perhatian pemimpin terkemuka NU dan mantan Presiden RI tersebut. Pertanyaannya sekarang, bagaimana perhatian warga masyarakat, terutama kalangan NU sendiri?  Tidak mudah memang merangkai cerita tentang seorang tokoh yang selalu “bekerja dalam diam”.

Tokoh ini sungguh rendah hati. Untungnya, ada sejumlah tulisan karya Kiai Chalim yang ditinggalkan, khususnya tentang berdirinya NU, tokoh-tokohnya, serta perkembangan NU hingga tahun 1970. Tahun itulah buku karya Kiai Chalim, “Sejarah Perjuangan KH Wahab Chasbullah” yang ditulis dengan huruf Arab Pego diterbitkan.

Sebuah buku kecil memang, yang dilampirkan di bagian belakang buku ini. Tetapi itulah satu di antara sedikit buku yang membahas sejarah NU saat itu. Amat langka penulis yang menulis buku tentang NU, termasuk dari kalangan NU sendiri.

Tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa Kiai Chalim sangat dekat dengan KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah. Dengan kata lain, Kiai Chalim adalah orang kepercayaan kedua ulama terkemuka tersebut. Lewat  Kiai Chalim, dua kiai tersebut merancang komunikasi lewat surat-surat dengan para ulama terkemuka se Jawa dan Madura.  Sebagai kiai yang juga berpendidikan sekolah Belanda dan pernah bermukim di Mekkah, Kiai Chalim piawai dalam menulis dalam bahasa Belanda, Melayu, dan Arab.

Maka setelah mencermati beragama buku terkait kelahiran NU dan hal-hal yang menyangkut keistimewaan masing-masing ulama terkemuka saat itu, bisa diambil beberapa kesimpulan. Di antaranya adalah peran utama komunikasi dalam beragam surat menyurat, termasuk surat para ulama NU yang dibawa Komite Hijaz untuk Raja Ibnu Saud, diperankan oleh KH Chalim Leuwimunding. Rasionalitas lainnya adalah bahwa Kiai Chalim-lah yang menyusun anggota-anggota Komite Hijaz dan anggota-anggota Pengurus PBNU yang pertama, sebelum disampaikan kepada KH Wahab Chasbullah dan KH Hasyim Asy’ari untuk disempurnakan dan disahkan.

 

Berjalan Kaki 14 Hari

Dalam perjalanan hidupnya, patriotisme dan religiusitas Kiai Chalim telah terbentuk sebelum naik haji pada 1914, dengan telah masuknya Chalim muda menjadi anggota Serikat Islam (SI) termuda. Karakter-karakter itu makin berkembang saat bermukim di Mekkah di tengah lingkungan masyarakat Muslim internasional yang antikolonialisme. Di Tanah Hijaz tersebut,  Chalim muda berkawan dengan para santri Nusantara, termasuk KH Abdul Wahab Chasbullah.

Hampir setiap hari Kiai Chalim dan Kiai Wahab bertemu, belajar dan berdiskusi menyangkut upaya untuk memajukan kaum Muslim di Tanah Air. Begitu tingginya semangat dan idealismenya hingga keduanya membuat komitmen tentang langkah berikutnya. Kedua beliau itu membuat komitmen untuk memperjuangkan faham ahlus sunnah wal jamaah dan kemerdekaan rakyat Indonesia.

Perubahan politik di Hijaz (Mekkah dan Madinah) pada Perang Dunia I membuat situasi kurang nyaman hingga memaksa KH Chalim kembali ke Tanah Air setelah bermukim selama satu tahun. Kepulangan KH Chalim hampir bersamaan pula dengan kepulangan Kiai Wahab ke Tanah Air.

Di desa kelahirannya, Kiai Chalim membantu ayahnya yang menjadi kepala desa. Berkat pendidikannya dan pengetahuannya yang luas, beliau bahkan diminta membantu kegiatan ayahnya dalam urusan kemasyarakatan sebagai jurutulis Wedana Leuwimunding. Ketika ayahnya wafat pada 1921, Kiai Chalim putar  haluan terjun ke dunia pendidikan.

Suatu hari, dalam kegelisahan hatinya, Kiai Chalim pun teringat pada kawannya, KH Wahab Chasbullah, dan komitmen yang telah dibuatnya di Mekkah beberapa tahun sebelumnya. Kiai Chalim pun bertekad menemui KH Wahab Chasbullah. Tekad sudah bulat untuk mengembara dengan berjalan kaki. Ya, berjalan kaki.

 Sebelum berangkat, KH Chalim menjual peninggalan ayahnya untuk diberikan kepada keluarganya untuk kebutuhan hidupnya. Kemudian bersama Abdullah, adik iparnya, mulai berjalan ke arah timur menyusuri jalan kampung dan desa, naik gunung dan masuk hutan pula. Perjalanan KH Abdul Chalim seluruhnya berlangsung selama 14 hari, 11 hari di antaranya beliau hanya makan kunir alias kunyit.

Begitulah, singkat kata, pada 22 Juni 1922 Kiai Chalim dapat bertemu dengan KH Wahab Chasbullah, berkat bantuan KH Amin dari Praban. Kiai Wahab pun langsung memberi kepercayaan Kiai Chalim untuk mengajar di Nahdlatul Wathon di Kampung Kawatan VI Surabaya. Nahdlatul Wathon adalah organisasi yang didirikan KH Abdul Wahab dan beberapa ulama dengan tujuan pada peningkatan mutu pendidikan Islam, pembentukan kader dan pembinaan juru dakwah.

Di sinilah Kiai Chalim juga dipercaya sebagai sekretaris, yang menjadi inisiator beragam kegiatan dan pengatur administrasi organisasi tersebut. Beliau juga dipercaya membuat Nadhom alias syair-syair untuk diajarkan pada para peserta kegiatan Nahdlatul Wathon. Organisasi ini kemudian disusul terbentuknya Taswirul Afkar, perkumpulan yang bergerak dalam bidang sosial dan dakwah. Lagi-lagi Kiai Wahab menyerahkan kepercayaan sebagai sekretaris kepada Kiai Chalim, yang memang terlibat aktif dalam melahirkan perkumpulan itu. Demikian juga saat pendirian organisasi baru Syubbanul Wathon, akibat perpecahan kubu KH Mas Mansyur (modernis) dan kubu KH Abdul Wahab Hasbullah (tradisional) dalam Nahdlatul Wathon.

Pada tahun-tahun 1920-an itulah Kiai Abdul Chalim berhadapan langsung dengan ghirah (semangat) perkembangan pemikiran serta dialektika faham ahlu sunnah wal jamaah di tengah perjuangan keagamaan dan kebangsaan di Tanah Jawa. Beliau ikut aktif dalam perbincangan serius menyangkut pentingnya sebuah lembaga (institusi) yang menjamin pelaksanaan kefahaman ahlus sunnah wal jama’ah hingga kemudian lahirnya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Itulah setelah perubahan politik besar terjadi di Hijaz dengan berkuasanya Raja Abdul Aziz yang didukung kaum Wahabi, yang berkeinginan untuk melenyapkan tempat atau kepercayaan yang dianggap bid’ah dan musyrik. Termasuk Makam Nabi Muhammad SAW.

Dalam sejarah NU, berdirinya Komite Hijaz dan Jam’iyyah NU berkait erat dengan peran Kiai Abdul Chalim sebagai komunikator kunci antara para alim ulama terkemuka di seluruh Jawa dan Madura saat itu. Surat undangan yang dibuat dan dikirimkan Kiai Chalim  kepada para ulama dalam pembentukan Komite Hijaz dan NU mengobarkan semangat kebangsaan dan membuat para tokoh berdatangan hadir. Jumlahnya 65 ulama.

Seruan dan usulan NU lewat surat yang dibawa KH Abdul Wahab Hasbullah dan Syekh Ahmad Ghonaim Al Misri selaku wakil Komite Hijaz untuk Raja Abdul Aziz bin Abdurahman Al Su’ud akhirnya disetujui, antara lain kaum muslim diberi kebebasan untuk bermadzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Pemerintah Kerajaan juga tetap menghormati tradisi keagamaan yang berlaku di sana.

Komitmen KH Chalim dan KH Wahab Chasbullah untuk memperjuangkan Aswaja dan Kemerdekaan RI juga terlukiskan dalam kisah ketika KH Chalim menyiapkan undangan kepada para ulama terkemuka se Jawa dan Madura. Dalam satu momen, KH Chalim terlibat dalam percakapan dengan KH Wahab, seperti tertulis dalam bukunya:

 

Pak Kiai apakah ngandung tujuan

Kita untuk menuntut kemerdekaan.

 

Jawab, tentu itu nomor satu

Ummat Islam menuju jalan itu.

 

Ummat Islam kita tidak leluasa

Sebelumnya negara kita merdeka.

 

Saya jawab, kini ini usahanya.

Beliau ambil kayu api menjawabnya.

 

Dinyalakan satu batang dengan bilang

Ini bisa menghancur bangunan terang.

Dalam kepengurusan pertama PBNU, Kiai Chalim dipercaya untuk memegang jabatan sebagai Wakil Katib atau Katib Tsani. Kiprah Kiai Chalim tetap tinggi pada tahun-tahun setelah lahirnya NU pada 1926. Hampir semua Kongres NU dihadiri, kecuali saat penjajahan Jepang ketika NU dibekukan.

Setelah Kemerdekaan RI, sekitar bulan Nopember 1945, saat militer Inggris mendatangkan 24.000 serdadunya untuk menduduki Surabaya, KH Hasyim Asya’ri sebagai Rais Akbar NU mengeluarkan “Resolusi Jihad” untuk menggelorakan semangat kaum muslim mempertahankan kemerdekaan. Hal itu terjadi pada 10 Nopember 1945. Dan  jam 11.00 siang di Markas Hizbullah di Jl Kepanjen pun diserang serdadu Inggris.

Sebagai anggota aktif Laskar Hizbullah, Kiai Chalim sangat berperan. Sudah beberapa waktu sebelumnya Kiai Chalim berangkat dari Leuwimunding, Majalengka, menuju Surabaya. Dalam perjalanan tersebut, Kiai Chalim memberitahu dan mengorganiasi para ulama NU untuk berangkat ke Surabaya, bahkan sebelum keluarnya “Resolusi Jihad” yang diumumkan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Para ulama dari berbagai wilayah Pantura Jawa itu pun mendampingi pasukan Hizbullah dan Sabilillah. Pekik takbir bergema di langit Surabaya dan sekitarnya. Perlawanan rakyat luar biasa hebat, kemudian juga menyebar ke berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Dalam pentas politik pun KH Abdul Chalim tak pernah ketinggalan sejak NU bergabung ke dalam Masyumi maupun ketika NU sendiri menjadi partai politik. Kiai Chalim juga motor utama pembentukan Persatuan Guru NU (Pergunu) pada 1958 dan pendirian Pertanu (Persatuan Petani NU, sekarang sudah tidak ada. Pen). Hingga pertengahan tahun 1972, Kiai Chalim masih menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Beliau wafat pada 11 April 1972.

Catatan ini adalah sedikit upaya untuk mendudukkan KH Abdul Chalim Leuwimunding di atas  kursi yang layak di panggung sejarah (*).

 

Kiai Pewaris Sunan Gunung Jati

Dr KH Asep Syaifuddin Chalim, Putra Kiai Chalim

Dr KH Asep Syaifuddin Chalim, Putra Kiai Chalim

KH Abdul Chalim (Leuwimunding Majalengka) dilahirkan di Leuwimunding pada bulan Juni 1896. Kiai Chalim lahir dari pasangan Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Satimah. Tiga generasi buyutnya, Buyut Kreteg, Buyut Liuh dan Buyut Kedung Kertagama, adalah tokoh-tokoh masyarakat pada masanya, yang silsilahnya bisa dirunut hingga sampai Sunan Gunung Jati, salah satu dari sembilan tokoh Walisongo.

Sepanjang masa hidupnya, Kiai Chalim pernah empat kali menikah. Sebenarnya beliau dikaruniai 21 putra-putri, dengan bungsunya adalah KH Asep Saifuddin dari Ibu Nyai Konaah. Dari 21 anak tersebut, 15 anak hidup hingga dewasa dan menikah.

Mereka adalah Siti Rahmah, Khomsatun, Mafouchat, Ahmad Qowiyyun (Agus Chafid), Rofiqoh, Ahmad Musta’in, Nashihah, Ahmad Mustahdi, Chumaidah, Muntafiah, Chudriah, Ahmad Mustafid, Farihatul Jannah, Siti Halimah, dan Kiai Asep Saifuddin Chalim.

Usai mengikuti Sakola Raja (Praja, sekolah umum yang diikuti oleh kalangan tertentu pada zaman penjajahan Belanda) selama dua tahun, Chalim kecil melanjutkan ke Kweekschool,  juga melengkapi pengetahuan agama dengan cara mengaji di sejumlah pesantren lokal. Hingga mencapai usia 15 tahun, Chalim muda sebelumnya sempat belajar di pesantren Barada Mirat Leuwimunding di bawah bimbingan Mbah Buyut Harun.

Abdul Chalim kemudian meneruskan mengaji ke Pesantren Trajaya Majalengka, sebelum kemudian belajar di Pesantren Kedungwuni Kadipaten Majalengka dan selanjutnya “masantren” di Kempek Cirebon. Chalim muda juga sudah belajar berorganisasi dengan masuk Sarikat Islam (SI), hingga tercatat sebagai anggota termuda organisasi kebangsaan tersebut.

Pada tahun 1914, Mbah Chalim  berangkat ke Mekkah Mukarromah. Di Tanah Suci,  pemuda Chalim memperdalam pengetahuan agama Islam bersama sejumlah santri lain asal Indonesia, salah satunya adalah KH Abdul Wahab Chasbullah.

Hampir setiap hari keduanya bertemu, belajar dan berdiskusi menyangkut upaya untuk memajukan kaum Muslim di Tanah Air. Begitu tingginya semangat dan idealismenya hingga keduanya membuat komitmen tentang langkah berikutnya. “Kedua beliau itu membuat komitmen untuk memperjuangkan faham ahlus sunnah wal jamaah dan kemerdekaan rakyat Indonesia,” kata Kiai Asep Saifuddin.

Perubahan politik di Hijaz (Mekkah dan Madinah) pada Perang Dunia I membuat situasi kurang nyaman hingga memaksa KH Chalim kembali ke Tanah Air setelah bermukim selama satu tahun. Kepulangan KH Chalim hampir bersamaan pula dengan kepulangan Kiai Wahab ke Tanah Air.

Di desa kelahirannya, Kiai Chalim membantu ayahnya yang menjadi kepala desa. Berkat pendidikannya dan pengetahuannya yang luas, beliau bahkan diminta membantu kegiatan ayahnya dalam urusan kemasyarakatan sebagai jurutulis Wedana Leuwimunding. Ketika ayahnya wafat pada 1921, Kiai Chalim terjun ke dunia pendidikan.

Suatu hari, dalam kegelisahan hatinya, Kiai Chalim pun teringat pada kawannya, KH Wahab Hasbullah, dan komitmen yang telah dibuatnya di Mekkah beberapa tahun sebelumnya. Kiai Chalim pun bertekad menemui KH Wahab Hasbullah. Tekad sudah bulat untuk mengembara dengan berjalan kaki. Ya, berjalan kaki.

Tentang hal ini, KH Chalim melukiskannya dalam buku karyanya, “Sejarah Perjuangan Kiai Haji Wahab Chasbullah”. Buku yang terbit pada 1970 menggunakan bahasa Indonesia tapi ditulis dengan huruf Arab pegon. Susunan ceritanya menggunakan syair-syair dengan maksud agar kaum muda pembacanya tidak bosan. Saat melukiskan awal mukimnya KH Wahab (lahir tahun 1888), KH Chalim antara lain menulis:

 

Waktu berangkat umur dua tiga jelas

Kurang lebih pulang dua lapan tegas.

 

Tahun empat belas kawit perang dunia

Saya muqim hanya satu tahun nyata,

 

Sebelum berangkat, KH Chalim menjual peninggalan ayahnya untuk diberikan kepada keluarganya untuk kebutuhan hidupnya. Kemudian bersama Abdullah, adik iparnya, mulai berjalan ke arah timur menyusuri jalan kampung dan desa, naik gunung dan masuk hutan pula. Perjalanan KH Abdul Chalim seluruhnya berlangsung selama 14 hari, 11 hari di antaranya beliau hanya makan kunir alias kunyit.

Tentang pengalaman Kiai Chalim ini, Kiai Asep menuturkan bahwa logikanya abahnya itu mungkin juga makan apa saja asal halal. “Tetapi dengan selalu berbekal kunyit, pencernaan abah saya terjaga karena kunyit adalah antibiotik alami,” kata Kiai Asep Saifuddin.

Begitulah, singkat kata, pada 22 Juni 1922 Kiai Chalim dapat bertemu dengan KH Wahab Hasbullah, berkat bantuan KH Amin dari Praban. Kiai Wahab pun langsung memberi kepercayaan Kiai Chalim untuk mengajar di Nahdlatul Wathon di Kampung Kawatan VI Surabaya. Nahdlatul Wathon adalah organisasi yang didirikan KH Abdul Wahab dan beberapa ulama dengan tujuan pada peningkatan mutu pendidikan Islam, pembentukan kader dan pembinaan juru dakwah. Di sinilah Kiai Chalim juga dipercaya sebagai sekretaris, yang menjadi inisiator beragam kegiatan dan pengatur administrasi organisasi tersebut.

Beliau juga dipercaya membuat Nadhom alias syair-syair untuk diajarkan pada para peserta kegiatan Nahdlatul Wathon. Organisasi ini kemudian disusul terbentuknya Taswirul Afkar, perkumpulan yang bergerak dalam bidang sosial dan dakwah. Lagi-lagi Kiai Wahab menyerahkan kepercayaan sebagai sekretaris kepada Kiai Chalim, yang memang terlibat aktif dalam melahirkan perkumpulan itu. Demikian juga saat pendirian organisasi baru Syubbanul Wathon, akibat perpecahan kubu KH Mas Mansyur (modernis) dan kubu KH Abdul Wahab Hasbullah (tradisional) dalam Nahdlatul Wathon. Organisasi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Nahdlatul Ulama.

Dalam kehidupan sehari-harinya, Kiai Chalim sangat sederhana penampilannya. Kiai Chalim sering dilukiskan sebagai kiai yang hanya punya dua pakaian dan sarung.

Beliau juga sering disebut memiliki banyak karomah atau kemampuan di luar manusia biasa karena ketakwaannya kepada Allah SWT. Tetapi menurut Kiai Asep Saifuddin, putranya, karomah itu sering ditutup-tutupi dengan logika. Ini menunjukkan kerendahan hatinya.

Dalam suatu kejadian, misalnya, Kiai Chalim mestinya sudah celaka ditabrak oleh bus yang berjalan sangat kencang. Orang-orang yang melihatnya berteriak-teriak karena merasa ngeri. Tetapi Kiai Chalim ternyata tidak apa-apa dan dengan tenang berjalan melanjutkan perjalanan. Beliau pun menjawab pertanyaan: “Saya kan pendekar pencak. Dengan mudah saya bisa meloncat dan selamat.”(dph)