Rizal Ramli: Kita Harus Berani Buat Gebrakan

GN/M. Zacky Rizal Ramli saat menerima cinderamata dari Ketua Perbanas Jawa Timur Herman Halim.

GN/M. Zacky
Rizal Ramli saat menerima cinderamata dari Ketua Perbanas Jawa Timur Herman Halim.

JAKARTA (Global News)-Pertumbuhan ekonomi pada semester II tahun 2016, sangat tergantung pada gebrakan yang kita lakukan ke depan. Kalau landai-landai seperti ini, ya eknomi menjadi slowdown. Kalau kita membuat perubahan dalam ekonomi, dipastikan ekonomi akan rebound pada Kuartal IV tahun 2016.

“Kalau ada gerakan terobosan yang signifikan dalam perekonomian dipastikan pertumbuhan kita akan lebih baik pada Kuartal II tahun 2016,” kata Rizal Ramli, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya, dalam acara Coffee Morning yang digelar Perbanas Jatim, Kamis (21/7/2016), di Surabaya.

Dalam reshuffle Kabinet Kerja yang diumumkan Presiden Jokowi Rabu (27/7/2016) posisi Rizal sebagai Menko Kemaritiman digantikan oleh Luhut Binsar Pandjaitan. Sebelumnya Luhut menjabat  Menko Polhukam, di mana  kini posisi ini diisi oleh Wiranto.

Lebih lanjut Rizal Ramli dalam kupasan ekonominya bertajuk “Strategi Bisnis Menyongsong Semester II 2016” itu mengungkapkan, pada kuartal I pertumbuhan kita mencapai 4,92%. Meleset dari proyeksi kisaran 5,3%. Nah bagaimana dengan Semester I dan Semester II? Agar pertumbuhan kita mencapai seperti yang kita proyeksikan, ya harus ada terobosan-terobosan. Bukan yang konvensional.

Berbicara masalah ekonomi, kata Rizal, sebenarnya Surabaya merupakan kota yang mempunyai potensi. Pertumbuhan Jatim, khususnya Surabaya rata-rata di atas pertumbuhan nasional. Mengapa ini terjadi? “Karena masyarakat Jatim, khususnya Surabaya mempunyai karakter. Berani mengambil risiko. Ini cukup bagus dalam bisnis,” kata Rizal.

Dia mengatakan, kecenderungan makro ekonomi di Jatim yang bergeliat di Bagian Utaranya. Kalau bagian selatan masih landai-landai. Ini harus dipacu. “Sektor selatan ini harus dipacu ekonominya. Pemerintah sudah memacu sektor infrastruktur untuk kelancaran eknomi,” katanya.

Lesunya ekonomi tidak hanya dialami Indonesia saja, tetapi global. Awalnya ditandai dengan jatuhnya harga komoditi. Khususnya sektor energi dan mineral. Sejumlah komoditi dunia terkoreksi sehingga mempengaruhi neraca perdagangan dan menimbulkan defisit neraca perdagangan.

“Tahun lalu rupiah masih tinggi. Setelah ada reshuffle kabinet, rupiah mulai mendingin. Mengapa itu terjadi? Ya karena para menterinya melakukan terobosan. Sekarang slowdown. Karena itu harus ada terobosan. Terobosan itu sendiri tidak hanya dilakukan pemerintah saja, pengusaha juga harus melakukan terobosan,” katanya.

Kesimpulannya, kata Rizal, untuk Kuartal II tidak akan beda dengan Kuartal I, yakni pertumbuhan 4,92%. Nah kalau ditanya bagaimana dengan Kuartal II, katanya, sekali lagi sangat tergantung kepada terobosan yang kita lakukan. Yang jelas, evaluasi asset yang belakangan dilakukan sejumlah BUMN mempunyai dampak yang cukup signifikan pada pertumbuhan ekonomi selanjutnya.

“Ini yang kita maksudkan adanya terobosan. Berani tidak kita melakukan terobosan. Sebagai contoh, modal PT PLN sebelum evaluasi aset sebesar Rp 50 triliun. Setelah dievaluasi menjadi Rp 200 T, sehingga modal naik cukup signifikan,” katanya.

Dia mengatakan, pada Paket Deregulasi 1970-an, tarif yang 80% diturunkan menjadi 10%. Apa dampaknya, pertumbuhan ekonominya bagus waktu itu. Sekarang kalau menggunakan sistem tarif sudah rendah yakni di bawah 5%. Kita seharusnya mengubah dari sisten kuota menjadi sistem tarif. “Untuk ini memerlukan keberanian,” katanya.

Sektor lain yang perlu diperhatikan agar pertumbuhan Semester II itu membaik, yakni sektor pariwisata. Jangan hanya Bali saja yang dijual. Sekarang sudah ada 10 destinasi pariwisata yang menjadi unggulan Indonesia. Kita bebaskan visa 165 negara. Hasilnya? “Sekarang banyak kapal pesiar yang singgah ke Indonesia. Kalau dulu paling-paling sampai Singapura, karena dulu ngurus izin kapalnya saja memakan waktu 4 bulan. Bagaimana kita berhasil. Banyak cara mengubah Indonesia lebih baik. Yang penting ada visi-misinya jelas,” katanya.

Lalu bagaimana prospek di bank sendiri? Tentang ini Rizal mengatakan, sama bagaimana kita bisa mengambil kebijakan dengan penuh keberanian pada semester II tahun 2016. Ada Rp 600 T dana pemerintah daerah di bank yang ngendon. Ini kan potensi, tetapi kan gak tahu mau dikemanakan,” katanya.

 

Optimistis

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution optimistis ekonomi Indonesia bisa mencapai level 5,1% pada kuartal II tahun ini. Alasannya, penyaluran kredit perbankan membaik. “Antara kredit meningkat dengan pertumbuhan ekonomi itu saling dukung. Cuma ya data ekonomi kan selalu terlambat. Data pertumbuhan untuk kuartal dua kan akan terbit mungkin pada awal minggu ketiga Agustus. Sedangkan data kredit sudah tahu sekarang. Tapi permintaan akan kredit masih belum cukup besar, Namun datanya sudah mulai membaik,” ungkapnya di Jakarta, Minggu (24/7/2016).

Menurutnya, pertumbuhan kredit mengalami tren penaikan sejak April hingga Juni 2016. Tercatat, pada April, penyaluran kredit mencapai sebesar 8 persen, Mei 8,45 persen, dan Juni 8,9 persen. Selain kredit, menurut Darmin, kinerja ekspor Indonesia juga membaik. Meskipun masih di bawah kinerja ekspor tahun lalu. “Dibandingkan tahun lalu ya masih turun. Tapi kalau Anda lihat tiga bulan terakhir dia mulai naik,” katanya.

Di sisi lain, Darmin percaya Bank Indonesia memiliki ruang untuk terus melonggarkan kebijakan moneternya demi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meskipun, bank sentral baru saja memutuskan untuk menahan kembali suku bunga acuan di level 6,5 persen.

“Kalau BI tidak menurunkan BI rate saya melihatnya kok lebih karena mereka mau melakukan kebijakan baru yang tingkat reverse repo 7 hari,” katanya. “Sehingga saya kok percaya pada bulan- bulan mendatang, BI masih akan mengembangkan lebih jauh. Supaya dia sejalan dengan situasi perekonomian,” katanya.

Atas dasar itu dia optimisis pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun dapat menyentuh level 5,2%. Ini sesuai asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016.

Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada semester I tahun ini bisa mencapai 5%. Dengan pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 4,92% pada kuartal I lalu maka pada kuartal II-2016 perekonomian seharusnya tumbuh sekitar 5-5,1%.

Darmin Nasution optimistis ekonomi pada semester I-2016 berpotensi tumbuh hingga lima persen. Meskipun ekonomi pada kuartal I lalu tumbuh di bawah lima persen, dia yakin pada kuartal II kondisinya lebih baik karena beberapa faktor. Pertama, musim panen yang bergeser dari biasanya bulan April menjadi Mei pada tahun ini. Dengan begitu, mendorong pertumbuhan sektor pertanian, yang pada kuartal sebelumnya hanya tumbuh 1,89%.

Kedua, pembangunan infrastruktur juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya dari sisi investasi oleh pemerintah. Ketiga, 12 paket kebijakan ekonomi yang memuat banyak deregulasi diyakini sudah berpengaruh untuk mendorong masuknya investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI). Meskipun baru 96% aturan turunannya yang selesai dikaji dan dievaluasi.

“Walau perdagangan dunia masih terus merosot, termasuk ekspor impor Indonesia dan berdampak ke penghasilan, menarik (pertumbuhan ekonomi) ke bawah. Tapi di lain pihak, kami membangun infrastruktur, deregulasi, itu akan mendorong (ekonomi) ke atas,” kata Darmin di Jakarta.

Keempat, dari sisi konsumsi juga diperkirakan akan meningkat terutama dipicu oleh momen bulan puasa.

Selain itu, Darmin berpandangan sebagian dampak dari arus mudik akan berpengaruh terhadap perekonomian kuartal II meskipun hanya beberapa hari dipengujung Juni lalu. Alasannya, industri juga sudah mempersiapkan pasokan sejak jauh-jauh hari sebelum Lebaran.”Lebaran sudah masuk bulan Juli, berarti masuk kuartal III. Jadi walaupun data pertumbuhan kuartal II keluar Agustus, tapi dia tidak akan terpengaruh banyak,” katanya.

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro—sekarang posisinya diganti Sri Mulyani Indrawati dalam reshuffle Kabinet Kerja Rabu (27/7)– juga meyakini pertumbuhan ekonomi semester I bisa mencapai 5%. Alasannya, pemerintah memastikan penyerapan belanja modal akan merata pada setiap kuartal atau tidak lagi menumpuk di akhir tahun. “Semoga (bisa tumbuh) lima persen,” katanya.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal satu kemarin hanya 4,92%, di bawah perkiraan banyak lembaga keuangan termasuk Bank Indonesia. Namun pemerintah tetap optimistis target pertumbuhan ekonomi tahun ini mencapai 5,3%.

Target tersebut akan tercapai setidaknya ditopang oleh tiga faktor. Pertama, konsumsi rumah tangga masih baik sehingg mendukung pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Belanja rumah tangga yang naik terbantu oleh pencairan gaji ke-13 Pegawai Negeri Sipil yang akan direalisasikan seminggu sebelum tahun ajaran baru atau Juli nanti. Selain itu, konsumsi juga didorong dengan guyuran Tunjangan Hari Raya (THR) PNS yang keluar dua minggu sebelum lebaran.

Karenanya, Bambang yakin konsumsi rumah tangga tahun ini tumbuh 5,1%, membaik dibanding tahun lalu yang hanya 4,9%. “Karena gaji ke-13 didesain untuk membantu PNS menghadapi tahun ajaran baru. Begitu juga THR. Ini pasti menolong konsumsi,” katanya.

Kedua, pemerintah berkomitmen memperbaiki penyerapan belanja termasuk daerah sehingga konsumsi pemerintah diproyeksi tumbuh 6,2 persen. Pemerintah pun menaikkan proyeksi pertumbuhan konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) dari dua persen menjadi 6,2 persen, terutama menjelang pemilihan kepala daerah DKI Jakarta pada 2017 mendatang.

Ketiga, dari sisi investasi, swasta diyakini akan mengikuti langkah pemerintah untuk berekspansi setelah paket kebijakan ekonomi yang sampai satu lusin diimplementasikan. Dari sini, pemerintah menargetkan pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 6,3 persen pada tahun ini.

Sebagai informasi, PMTB merupakan pengeluaran untuk barang modal sebagai investasi seperti untuk bangunan, jalan dan bandara, serta mesin dan peralatan. Sama seperti konsumsi rumah tangga, PMTB adalah pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara berdasar pengeluaran.

Komponen pembentuk PDB lainnya yakni ekspor dan impor yang diprediksi membaik dari tahun lalu yang terkontraksi sebesar dua persen dan 5,8 persen. Tahun ini, pemerintah lebih optimistis bahwa permintaan dunia akan membaik sehingga pertumbuhan keduanya ditarget 0,1% dan 0,4%.

 

UU Tax Amnesty

 

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2016 di atas 5%. Kuartal II-2016 saja, Agus menyebut pertumbuhan ekonomi akan mencapai 4,94%.

“Kuartal II-2016 itu 4,94 persen dan untuk satu tahunnya 5,04 persen,” kata Agus di Jakarta.

Agus menyebut, dengan adanya Undang-Undang Tax Amnesty atau Pengampunan Pajak, pertumbuhan ekonomi akan mudah tercapai. Banyak uang yang masuk ke dalam negeri yang bisa digunakan untuk pembangunan.

“Dengan adanya tax amnesty dan minat yang cukup besar ini, kita cukup optimis nanti itu (pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi naik yah. jadi, mungkin itu yang saya bs jelaskan,” kata Agus.

Dalam penyusunan APBN-P 2016, Agus mengakui belum menghitung pertumbuhan dengan adanya tax amnesty. Sebab, saat pembahasan APBN-P 2016, UU Tax Amnesty belum disahkan oleh DPR RI. “Kemarin itu angka kita belum memperhitungkan tax amnesty dan kita sudah kemudian liat UU nya sudah disetujui dan selama periode bulan Juni sampai tanggal 1 Juli saja, dana yang masuk dasri luar kira-kira sudah Rp 108 triliun. itu memberikan satu tanda yang positif lah,” tutup Agus. * Erfandi Putra/Djauhari Effendy