Curah Hujan Pengaruhi Rendemen , Petani Tebu Jember Terancam Rugi

IST PANEN TEBU: Tampak para petani saat memanen tebu beberapa waktu lalu. Rendemen tebu terancam turun akibat curah hujan tinggi.

IST
PANEN TEBU: Tampak para petani saat memanen tebu beberapa waktu lalu. Rendemen tebu terancam turun akibat curah hujan tinggi.

JEMBER (Global News)-Para petani tebu di Kabupaten Jember dalam masa panen tahun ini terancam mengalami kerugian cukup besar. Ini seiring curah hujan yang masih cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir, akan memengaruhi penurunan kadar gula tebu atau rendemen tebu di Kabupaten Jember, dengan kisaran 6 hingga 6,5 persen.

“Saat ini petani tebu banyak mengeluh karena curah hujan yang masih tinggi menyebabkan rendemen tebu turun di kisaran 6 persen, sehingga menyebabkan pendapatan petani juga menurun,” kata petani tebu Marzuki Abdul Gafur di Jember, Selasa (26/7/2017).

Menurut dia, tingginya curah hujan yang masih terjadi pada bulan Juli tersebut diluar dugaan petani, karena pada bulan-bulan yang bersamaan dengan masa panen tebu biasanya sudah memasuki musim kemarau sehingga kualitas tebu diprediksi membaik. “Kalau tanah basah terus dan tebu berair, maka rendemen dikhawatirkan terus menurun dan petani juga susah untuk menebang tebu pada saat hujan karena truk tebu tidak bisa masuk ke kebun,” ucap mantan Wakil Ketua DPRD Jember itu.

Marzuki mengatakan petani belum mendapatkan keuntungan, meskipun harga lelang gula di Pabrik Gula Semboro Jember berkisar Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram karena rendemen yang cukup rendah yakni 6 persen.

“Kami masih belum mendapatkan untung karena rendemen rendah, namun kalau rendemen tinggi di kisaran 7 persen ke atas dan harga lelang gula berkisar Rp10.000 hingga Rp11.000 per kilogram, maka petani akan mendapatkan keuntungan,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur Samsul Arifin mengatakan sejumlah komoditas perkebunan di wilayah setempat menurun karena masih berlangsungnya musim kemarau basah atau La Nina pada tahun 2016.

“Curah hujan yang masih tinggi akan berdampak buruk pada sektor perkebunan seperti tanaman tebu karena tanaman perkebunan merupakan jenis tanaman yang membutuhkan sinar matahari yang cukup, sehingga dapat memengaruhi produksi hasil kebun,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, petani tebu mengeluh dan dirugikan dengan intensitas hujan yang masih tinggi karena cuaca mendung mengakibatkan proses fotosintesis tebu terganggu, sehingga kadar glukosa dalam tebu berkurang.

“Hal itu dibuktikan dengan rendemen yang masih rendah di kisaran 6 persen, kemudian hujan menyebabkan jalur masuk ke pabrik gula sulit dan bisa menambah biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh petani,” tuturnya.

Kendati demikian, Samsul optimistis target produksi gula di Jatim bisa sama dengan tahun sebelumnya yakni sebanyak 1.200.000 ton gula, asalkan cuaca bagus pada bulan Agustus 2016. * ara