GN/Istimewa Kelompok bersenjata Abu Sayyaf kembali menyandera WNI untuk yang ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir.

GN/Istimewa
Kelompok bersenjata Abu Sayyaf kembali menyandera WNI untuk yang ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir.

JAKARTA (Global News)-Tujuh WNI ABK kembali disandera kelompok bersenjata Filipina sejak 21 Juni. Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut Panjaitan mengatakan, opsi pengerahan pasukan militer untuk membebaskan, masih dikesampingkan.

“Kami masih melakukan perundingan untuk memilih opsi mana yang terbaik untuk dilakukan, tetapi opsi militer masih kami kesampingkan,” kata dia seusai rapat pusat krisis pembebasan sandera di Kantor Kementerian Politik, Hukum, dan HAM, di Jakarta, Jumat (1/7/2016) malam.

Berdasarkan pembicaraan antarmenteri Indonesia dan Filipina, dalam hal ini menteri pertahanan dan menteri luar negeri, kedua belah pihak sepakat mempercayakan upaya pembebasan sandera kepada pemerintah baru Filipina di bawah kepemimpinan Rodrigo Duterte.

Tidak seperti sikap pemerintahan sebelumnya, Duterte disebut akan lebih mengedepankan kerja sama dengan pimpinan Moro National Liberation Front (MNLF), Nur Misuari, untuk bernegosiasi dengan kelompok penyandera Abu Sayyaf.

“Misuari mungkin yang akan membantu menyelesaikan masalah dengan kelompok Abu Sayyaf,” kata Pandjaitan.

Misuari inilah yang pada dasawarsa ’90-an aktif menggelar perlawanan bersenjata kepada Istana Malacanang, agar pemerintahan (saat itu) Ferdinand Marcos mau memberi perhatian lebih kepada minoritas muslim di Filipina selatan.

Mengenai keberadaan ketujuh WNI ABK, Pandjaitan mengaku tidak ingin berspekulasi untuk menghormati kebijakan dan kinerja pemerintah serta intelijen Filipina, namun dia memastikan mereka semua dalam kondisi sehat.

“Ada beberapa informasi tetapi kita belum ingin membuka semua kepada media karena menyangkut keselamatan WNI,” katanya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, yang juga ikut rapat mengatakan, tujuh WNI ABK kapal tunda Charles 001 dan kapal tongkang Robby 152, tidak ada dalam lokasi yang sama.

Jika sebelumnya Ryacudu menyebut ketujuhnya berada di wilayah Panamao, Pulau Jolo, kini tiga diantaranya telah dipindahkan ke selatan yakni di Pulau Lapac, yang bagian dari Kepulauan Sulu, di selatan Filipina.

Sekadar diketahui, kelompok bersenjata asal Filipina, Abu Sayyaf untuk ketiga kalinya kembali menyandera WNI. Mereka dikabarkan meminta uang tebusan 20 juta peso. (ant)