Pendiri Masjid Cheng Hoo Surabaya Raih Penghargaan Zheng He International Peace Award 2016

GN/Istimewa HMY Bambang Sujanto menerima Zheng He International Peace Award 2016

GN/Istimewa
HMY Bambang Sujanto menerima Zheng He International Peace Award 2016

DUBAI (Global News)-H.M.Y. Bambang Sujanto, penggagas dan pendiri Masjid Cheng Hoo Surabaya yang juga berkontribusi terhadap berdirinya Masjid Cheng Hoo di seluruh Indonesia yang kini berjumlah 12 masjid Cheng Hoo, mendapat pengakuan dunia. Pengakuan tersebut datang dari Zheng He International Peace Foundation (ZIPF) dengan diterimanya penghargaan “Zheng He International Peace Award 2016” di Dubai, kemarin.

Seperti diketahui ZIPF atau Yayasan Perdamaian Internasional Cheng Hoo didirikan oleh peneliti dari Amerika, Tiongkok, Malaysia dan Uni Emirat Arab, serta para ulama dunia. Tujuannya, memperdalam pemahaman dan mempererat komunikasi antara dunia Tionghoa dan dunia muslim yang langgeng.

Seperti dikutip www.21ccom.net, Juni 2016, Konferensi Perdamaian Internasional  Zheng He menggelar Kongres Global ke II di Dubai. Konsensus Media Group (Grup 21ccom) menjadi co-organizer pertemuan ini.

Guna mendorong persahabatan dan keharmonisan antara Tionghoa dan muslim yang langgeng, ZIPF berkomitmen mendirikan Forum Zheng He. Berdasarkan hasil kongres pertama yang digelar di Malaysia tahun 2015, ZIPF membentuk “Zheng He International Peace Award”, yang bertujuan untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada segala lapisan masyarakat baik individu maupun kelompok yang telah menyumbangkan kontribusi luar biasa dalam upaya mendorong persahabatan Tionghoa-Muslim.

Bertepatan dengan Konferensi Perdamaian Internasional Zheng He ke II, ZIPF memilih 4 orang sebagai nominasi. Dari nama-nama yang terkumpul tersebut, setelah penilaian secara komprehensif, dipilih 1 orang sebagai pemenang.

Keempat nominasinya adalah: Ayah Perdana Menteri Kazakhstan Massimov, Ketua Malaysian Chinese Muslim Association Dato’ (Dr.) Hj Mustapha Ma, Imam Tiongkok Li Yunfei dan tokoh pengusaha Tionghoa Indonesia Haji Muhammad Yusuf (H.M.Y.) Bambang Sujanto (Liu Min Yuan).

Berdasarkan jiwa perdamaian Zheng He yang digenggam oleh ZIPF, serta konsep H.M.Y. Bambang Sujanto, yaitu melalui usaha dan bisnis yang ditekuninya, berharap dapat mendorong masyarakat lebih bersatu dan lebih harmonis. Bertolak pada kenyataan inilah, maka pada tanggal  22 April 2016 Komite “Zheng He International Peace Award” yang beranggotakan: Ketua ZIPF DR Ma Hai Yun, DR. Chai Shao Jin dari Lembaga Tinggi Penelitian Departemen Kebudayaan Uni Emirat Arab, mantan Dubes Malaysia untuk Tiongkok Dato Abdul Majid Ahmad Khan, dan Presiden Eksekutif Beijing Equity Institute Li Zhiyong, dengan bulat memutuskan dan memilih H.M.Y. Bambang Sujanto patut dianugerahi penghargaan tersebut.

 

Kriteria Penilaian

Adapun alasan ZIPF untuk menganugerahkan “Zheng He International Peace Award 2016” kepada H.M.Y. Bambang Sujanto adalah sebagai berikut:

  1. Dalam menghadapi dan menyelami peristiwa konflik etnis di Indonesia, M.Y. Bambang Sujanto tak hanya melihat dari pandangan agama secara simpel, tetapi juga dari sisi politik, ekonomi, sosial dan isu masyarakat lainnya yang memicu terjadinya konflik serta dari peradaban Islam global. Dengan harapan dalam penanganannya bisa berpikir lebih mendalam dan tajam. Dengan terjadinya konflik-konflik tersebut, dia malah memeluk lebih erat nilai-nilai Islam yang berinti perdamaian, adil dan keadilan. Mengupayakan nilai-nilai dasar kemanusiaan ini bisa melindungi dan membela kepentingan etnis Tionghoa. Ini memberikan inspirasi yang sangat besar kepada masyarakat internasional yang sedang menghadapi konflik konflik suku bangsa, menyumbangkan pengalaman yang bermanfaat kepada etnis Tionghoa, khususnya Tionghoa di Asia Tenggara yang mengalami hubungan buruk ataupun konflik dengan bangsa di negara tempat tinggalnya.

 

  1. Dengan mengangkat sosok Zheng He (Cheng Hoo) yang menggabungkan budaya Tionghoa dan Islam, M.Y. Bambang Sujanto berantusias membangun Masjid Zheng He (Masjid Cheng Hoo), agar mempermudah pengintegrasikan masyarakat Tionghoa dan muslim Tionghoa-Indonesia. Masjid Zheng He (Masjid Cheng Hoo Surabaya) yang didirikannya tak hanya sebagai tempat beribadah bagi orang orang muslim, tetapi juga merupakan pusat pendidikan, olahraga, budaya dan pergaulan masyarakat muslim dan non muslim.

 

  1. Masjid Zheng He sebagai tempat yang aman bagi semua orang Tionghoa. Tindakannya telah menginterpretasikan dari dasar apa makna sebenarnya tentang masjid, yaitu masjid adalah tempat perdamaian, tempat perlindungan bagi semua orang.

 

  1. Pemahaman dan penerapan kejiwaan dan budaya Zheng He oleh M.Y. Bambang Sujanto dan perantau-perantau Tionghoa, tak hanya menggabungkan secara historis antara budaya Tionghoa dan budaya negara-negara Muslim, tetapi juga menyebar-luaskan semangat jiwa besar Zheng He, bahkan bisa diartikan semangat Zheng He adalah mode rekonsiliasi yang efektif dalam penyelesaian konflik etnis Tionghoa dan kaum muslim. Mode ini telah berhasil diekspor dan masyarakat telah memperdalam pengertian terhadap budaya Tiongkok dengan wakilnya Zheng He, berhasil pula menciptakan model mempererat hubungan budaya antara Tiongkok kontemporer dengan negara Muslim di sepanjang “The Belt and Road Initiatives”.

Dengan alasan di atas, ZIPF menilai H.M.Y. Bambang Sujanto telah mewarisi dan menerapkan jiwa besar perdamaian Zheng He. Dan dengan usaha dagang yang saling menguntungkan dan pertukaran budaya antar suku, ia telah mengangkat kedudukan sosial orang Tionghoa, mempererat persahabatan etnis Tionghoa dan rakyat Indonesia.

Selain itu, kiprah H.M.Y. Bambang Sujanto di bidang ekonomi, sosial dan kebudayaan, telah melestarikan dan meneruskan budaya dan bahasa Tionghoa, mendorong lebih erat hubungan Indonesia–Tiongkok, juga menyebarkan soft power budaya Tiongkok. Ia telah mengukir kontribusi yang luar biasa.

Zheng He International Peace Foundation memberikan ucapan selamat yang tulus kepada H.M.Y. Bambang Sujanto, mengundang Bpk. & Ibu. H. Bambang Sujanto serta delegasi Indonesia untuk menghadiri Konferensi Perdamaian Internasional Zheng He yang diadakan pada 4-5 Juni 2016 di Dubai. Pada acara pembukaan konferensi ini, Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam ke IX, Ekmeleddin Ihsanoglu menganugerahi “Zheng He International Peace Award 2016” kepada H.M.Y. Bambang Sujanto. fan

 

 

Sekilas H.M.Y. Bambang Sujanto

H.M.Y. Bambang Sujanto lahir tahun 1947 di sebuat desa dekat Pagotan Kabupaten Madiun, Jawa Timur Indonesia. Sejak umur 6 tahun, ia membantu orang tuanya berjualan. Umur 18 tahun bekerja di perusahaan orang Tionghoa, dan mulai mengembangkan industri enamel dan dagangan lainnya.

Sejalan dengan usahanya yang semakin berkembang, H.M.Y. Bambang Sujanto menjalin komunikasi dan pendekatan etnis dan budaya yang beragam di tanah airnya, khusus antara etnis Tionghoa dan Indonesia.

Sewaktu H.M.Y Bambang Sujanto mengetahui jumlah muslim Tionghoa di Jawa Timur sangat minim, iapun berusaha keras mendirikan masjid orang Tionghoa. Tujuannya agar bisa mempererat hubungan orang Tionghoa dan mengintegrasikan muslim Tionghoa – Indonesia, dia menghimpun 140 orang lebih pengusaha untuk mendirikan Masjid Zheng He (Masjid Cheng Hoo Surabaya—masjid Cheng Hoo pertama yang berdiri di Indonesia) dan prasarana budaya Islam di Surabaya. Pola masjid yang berkarakteristik Tiongkok inipun disebar luaskan ke beberapa daerah di Indonesia.

Selain itu, sebagai perantau Tionghoa, H.M.Y Bambang Sujanto selalu menaruh perhatian pada negara asalnya dan hubungan antara Tiongkok – Indonesia. Dia sering mondar mandir menjembatani hubungan kedua negara, mengkontribusikan segala upayanya.

Sebagai seorang Tionghoa, H.M.Y. Bambang Sujanto berpedoman “mempererat hubungan pemerintah dan rakyat dua negara, ialah kewajiban setiap perantau Tionghoa. Upayakan segala usaha kita untuk mendorong persahabatan bilateral, agar rakyat hidup rukun berdampingan, dan mencapai pembangunan yang lebih baik”. fan