Pemkab Roadshow ke Perusahaan Garam, Garam Rakyat Terserap Hingga 94 Persen

GN/Masdawi Dahlan Bupati Achmad Syafii (kiri) saat bertemu dengan manajemen salah satu perusahaan garam di Madura.

GN/Masdawi Dahlan
Bupati Achmad Syafii (kiri) saat bertemu dengan manajemen salah satu perusahaan garam di Madura.

PAMEKASAN (Global News)-Untuk menyerap informasi tentang kebutuhan dan patokan harga garam pasca musim panen 2016, Pemkab Pamekasan selama bulan Mei hingga awal Juni ini, melakukan roadshow ke sejumlah perusahaan garam swasta yang di Jawa Timur. Enam perusahaan yang dikunjungi, empat perusahaan berlokasi di Surabaya dan Sidoarjo dan dua perusahaan berlokasi di Madura.
Perusahaan garam yang ada di Surabaya dan Sidoarjo antara lain PT Unichem, PT Kusuma Tirta, PT Susanti Mega, PT Sumatrako, dan dua perusahaan garam yang di Madura antara PT Garindo dan PT Budiono. Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Bupati Pamekasan Achmad Syafii. Roadshow ini juga diikuti oleh petugas dari Disperindag, Dinas Kelautan Perikanan dan sejumlah SKPD lainnya.
Kepala Bagian Perekonomian Setdakab Pamekasan Akh Basri Yuliyanto mengatakan dari hasil kunjungan itu diketahui bahwa semua perusahaan tetap membutuhkan garam rakyat dengan ketetapan harga masing masing. PT Unichem menetapkan membutuhkan garam sekitar 90 ribu hingga 250 ribu ton pertahun. Dengan harga antara Rp 700 ribu hingga 725 ribu/ton.
Sementara PT Kusuma Tirta membutuhkan sekitar 10 ribu ton pertahun dengan harga Rp 750 ribu hingga Rp 755 ribu perton. PT Susanti Mega membutuhkan sekitar Rp 125 ribu ton pertahun dengan harga pembelian antara Rp 600 hingga Rp 800 ribu perton. Sedangkan PT Sumatrako akan membeli sebanyak 110 ribu ton per tahun dengan harga Rp 575-625 ribu perton.
Pembelian terbanyak dilakukan oleh perusahaan garam yang ada di Madura khususnya di Pamekasan. Misalnya PT Garindo. Perusahaan di Desa Ambat Kecamatan Tlanakan akan membeli sebanyak 425 ribu ton pertahun dengan harga Rp 500 hingga Rp 750 ribu perton, dan PT Budiono yang berlokasi di Desa Branta Pesisir akan membeli sebanyak 300 ribu ton pertahun.
Basri Yuliyanto menegaskan, selisih antara jumlah kebutuhan dengan produski garam ternyata tidak terlalu pincang bahkan bisa dikatakan tidak ada masalah. Di Pamekasan misalnya jumlah produksi garam rata rata tiap tahunnya hingga mencapai 94 persen oleh perusahaan garam. Tiap tahun Pamekasan memproduksi garam rata rata 124 ribu ton dan yang terserap mencapai 118 ribu ton.
“Sekitar 94 persen garam terserap oleh perusahaan dan perusahaan garam tentunya membeli sesuai dengan harga dan kualitas barang. Ada perusahaan yang tertarik dengan garam dengan produksi modern, ada yang butuh garam yang diproduksi secara tradisional. Kalau masih ada yang tidak terbeli itu jumlahnya sedikit dan tidak menganggu kelancaran usaha garam di Pamekasan ini,” ungkapnya.
Yang paling menarik, kata Basri, impor garam selama ini tidak berpengaruh pada serapan garam rakyat, karena perusahaan garam mengimpor garam untuk kebutuhan garam industri, sementara garam rakyat lebih banyak dan terserap untuk garam konsumsi yang memang kualitasnya beda dengan garam produksi daerah lain.
“Dengan roadshow ini kita bisa mensesuaikan antara jumlah produksi dengam kebutuhan perusahaan. Kita juga bisa meminta petani untuk perhatikan kualitas garam mereka. Dan yang paling pokok bahwa issu banyaknya garam yang tak terserap itu tidak seluruhnya bernar. Buktinya di Pamekasan 94 persen garam terserap pasar,” jelasnya. (mas)