Maestro Lukisan Asal Surabaya Berpulang

GN Seniman aset Surabaya dari kiri ke kanan, Theresia Swandayani, Leo Kristi, (alm) Slamet Abdul Sjukur, Natalini Widhiasi, dan mendiang Tedja Suminar.

GN
Seniman aset Surabaya dari kiri ke kanan, Theresia Swandayani, Leo Kristi, (alm) Slamet Abdul Sjukur, Natalini Widhiasi, dan mendiang Tedja Suminar.

SURABAYA (Global News)–Surabaya kembali kehilangan aset seniman. Maestro lukis dan sketsa Tedja Suminar, Jumat (24/6/2016) pagi,  pergi  untuk menjemput keindahan yang dilihat menjelang ajalnya.

Seperti dituturkan putri sulungnya, Theresia Swandayani, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya sang papi sempat berujar, “Aku melihat keindahan.” Dalam pelukan Swandayani yang seniman tari  ini pula  Tedja Suminar meninggal dunia.

“Papi sebetulnya sedang menyiapkan pameran karyanya dan karya ibu (Anastasia Moentiana, istrinya yang juga pelukis dan telah mendahuluinya 8 tahun silam, red) di Balai Pemuda bulan Agustus nanti. Makanya ini rambutnya kan dipanjangkan,” ujar kakak kandung pelukis Natalini Widhiasi ini di rumah duka Studio Tedja Jl Lapangan Darmawangsa.

Saat dilarikan ke RKZ (RS Vincentius A Paulo) Rabu lalu, Tedja Suminar mengatakan ini adalah sakitnya yang terakhir dan dia tak ingin berlama-lama sakit.  “Aku siap dan mau mati pokoknya nggak usah pakai sakit-sakit parah dan lama.”

Dan memang benar, seniman yang terlahir dengan nama The Tiong Tien tak harus berlama-lama sakit di rumah sakit untuk menghadap sang Ilahi.

Sebelum stroke tenggorokan  ringan yang membuatnya menyerah pada ajal, Tedja Suminar pernah menjalani empat kali operasi untuk sakit yang berbeda-beda dan bisa melaluinya. Jenazah pelukis yang  April lalu genap 80 tahun ini akan dikremasi di Eka Praya, Kembang Kuning pada Minggu (26/6/2016).  Sesuai keinginannya, abu jenazah nantinya akan dilarung di Bali seperti yang dijalani sang istri.

Semasa hidupnya seniman yang tak pernah lepas dari pet hitam dan rokok kreteknya ini telah menghasilkan sejumlah karya. Di antaranya relief stadion Gelora 10 November yang adalah desain gambar sketsanya yang diminta langsung oleh Soekotjo, walikota Surabaya kala itu dalam menyambut PON VII tahun 1969.

Nama Tedja juga tercatat sebagai penata artistik film Suci Sang Primadona karya perdana (alm) Arifin C Noer di tahun 1977 yang bersetting di Surabaya. Selamat  jalan sang maestro. (eno)