Legenda Keroncong Waldjinah, Menyanyi sampai Akhir Hayat Tanpa ‘Selingkuh’

GN/Tok Suwarto TERUS MENYANYI: Waldjinah bersama Ketua Panitia Pelaksana Solo Keroncong Festival 2016, Hari Mulyono.

GN/Tok Suwarto
TERUS MENYANYI: Waldjinah bersama Ketua Panitia Pelaksana Solo Keroncong Festival 2016, Hari Mulyono.

Usia penyanyi keroncong legendaris, Waldjinah, sudah tidak muda lagi. Meski sudah berumur 70 tahun, namun suara emasnya mengalahkan para penyanyi belia. Waldjinah pun berjanji akan menyanyi hingga akhir hayatnya.

LAPORAN: Tok Suwarto, Solo

BIDUANITA berjuluk “Si Ratu Kembang Kacang” alias “Si Walang Kekek” itu sekarang sering sakit. Akhir-akhir ini Waldjinah terserang sakit lambung. Namun demikian, dia toh tetap bersemangat menjalani hidup. Apalagi kalau berkesenian. Dan apalagi pula kalau seni itu seni musik keroncong, seolah musik ini menjadi bagian dari jiwanya.

Maka dia pun bertekad tetap terus menyanyi. Semangat sang biduan keroncong dengan suara merdu yang kadang diselipi dengan joke yang kenes itu pun ditunjukkan ketika dia menghadiri jumpa pers menjelang “Solo Keroncong Festival 2016”, Selasa (10/5/2016).

“Saya tidak akan pernah berhenti menyanyi. Dan jalur saya juga tetap keroncong. Tekad saya ini untuk memberi semangat kepada generasi muda supaya mencintai keroncong sebagai musik asli Indonesia, sehingga keroncong bisa mendunia,” kata Waldjinah, tegas.

Maestro langgam Jawa ini lalu berpesan agar para penyanyi generasi muda tidak takut bernyanyi keroncong. Sebab, jika seorang penyanyi sudah mau menyanyikan lagu keroncong, dia pasti akan merasa ketagihan. Terus menyanyi dan menyanyi.

Waldjinah yang didampingi Ketua Panitia “Solo Keroncong Festival 2016”, Hari Mulyono, dan sederet penyanyi keroncong Solo lain, mengungkapkan, dia sudah menyanyi keroncong sejak bocah usia 12 tahun. Sampai usianya yang lebih 70 tahun  sekarang ini, Waldjinah menyatakan tidak pernah ingin pindah ke jenis musik lain. Dia janji tak akan “menyelingkuhi” keroncong.

“Di festival keroncong nanti saya juga akan menyanyi bersama para biduan keroncong yang muda-muda. Penyanyi keroncong yang sebaya saya mungkin Yati Pesek dari Yogyakarta, karena dia teman saya sejak masih muda,” tutur Waldjinah sambil menyaksikan pergelaran keroncong asli dalam jumpa pers itu.

Waldjinah memang tak terpisahkan dari keroncong. Prestasinya banyak diukir dari musik ini. Misalnya dia menyabet penghargaan dari Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award 2015 untuk kategori penampil solo/duo/grup keroncong terbaik. Lagu Ayo Ngguyu yang dimuat dalam album best Waldjinah Keroncong juga menyabet penghargaan kategori produser/penata musik keroncong terbaik di ajang sama.

Penghargaan diberikan kepada produser Gema Nada Pertiwi (GNP) dan penata musik orkes musik keroncong Bintang Surakarta. Penghargaan untuk Waldjinah yang pada 7 November 2016 nanti genap berusia 71 tahun merupakan prestasi kedua kalinya dari AMI Award.

Pada 2013 dia juga menyabet penghargaan Legend Award. ”Banyak orang berpikir bahwa lagu dari Bu Waldjinah merupakan rekaman lama. Padahal, lagu Ayo Ngguyu merupakan hasil rekaman 2013 dan dirilis akhir 2014,” ujar Jaka Winata Susilo, produser GNP, di Solo, Jawa Tengah, kemarin.

Ide pembuatan album berawal saat ngobrol dengan Waldjinah tentang perjalanan kariernya. Dia pun kemudian menawarkan kepada Waldjinah untuk membuat album rekaman baru. Selain Ayo Ngguyu yang merupakan lagu jenaka berlanggam Jawa, tiga lagu lain yang berhasil direkam adalah Kembang Kacang, Gombal Gambul, dan Panglipur Wuyung , ciptaan Waldjinah sendiri.

Lagu dinyanyikan bersama Nuning dan Asty Dewi. Namun, hanya satu yang baru dimasukkan dalam album terbaru Waldjinah. Sedangkan tiga lagu lainnya masih dalam proses mixing dan finishing. Mengingat kondisi Waldjinah yang sudah tua dan sakit-sakitan, rekaman diakui membutuhkan waktu sekitar dua hari. ”Kalau dulu (saat sehat), empat jam bisa lima lagu,” ungkapnya.

Waldjinah mengaku senang atas penghargaan yang diterimanya. Penghargaan itu juga menjadi kado menjelang ulang tahunnya. Namun, dia tidak bisa datang saat penghargaan yang diberikan 22 September lalu karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Dia berharap keroncong dapat terus dihidupkan.

Musik asli Indonesia tersebut diharapkan dapat berkembang dan tetap eksis di tengah masyarakat. ”Anak-anak muda sekarang juga mulai senang bermain musik keroncong,” tutur Waldjinah. Perempuan yang memiliki lima anak, delapan cucu, dan dua cicit itu mulai sakit-sakitan sejak 2012.

Setelah sembuh, namun belum begitu fit, Waldjinah sempat manggung di Suriname pada 2013. Setelah pulang, album terbaru bisa diselesaikan meski masih dalam kondisi capek. Pada 2014 Waldjinah kembali jatuh sakit dan berencana hendak pensiun dari dunia menyanyi. ”Ibu sakitnya di bagian lambung. Dari diagnosis ada luka di lambungnya,” terang Ary Mulyono, putra keempat Waldjinah, sekaligus pimpinan orkes keroncong Bintang Surakarta.

Penyakit itu dialami karena tak lepas dari kebiasaan Waldjinah saat masih muda. Ketika sudah memakai kebaya dan stagen dan siap manggung, dia selalu tidak mau makan. Padahal, ketika manggung di acara wayang kulit biasanya mulai pukul 20.00 WIB sampai pagi. Saat ini Waldjinah ketika berdiri atau berjalan harus didampingi.

Menurut Ary, dari lima bersaudara, hanya dua anak Waldjinah yang mengikuti jejak sang ibu berkecimpung di dunia musik yakni dia dan kakak pertamanya. Namun, sang kakak cenderung memilih jalur musik jazz sehingga dirinya yang tetap murni mengikuti aliran musik keroncong. ”Tapi, kakak saya juga tetap bisa bermain musik keroncong,” pungkasnya. Dia pun bangga melihat semangat sang ibu bermusik keroncong.

Sementara itu, “Solo Keroncong Festival 2016” sendiri akan digelar pada 14 – 15 Mei 2016 di pelataran bangunan peninggalan kolonial Belanda, Benteng Vastenburg. Sejumlah musisi dan biduan keroncong, seperti Tuti Maryati, Endah Laras, pesinden Sruti Respati, Yati Pesek, S. Sukardi, Theo Dharma, musisi kreatif Djaduk Ferianto dengan “Sinten Remen”-nya dan lain-lain bakal menyemarakkan pentas musik ini selama dua hari.

Ketua panitia pelaksana, Hari Mulyono, menyatakan,  “Solo Keroncong Festival 2016” mengusung tema “Trisula Keroncong Mendunia” yang maknanya tiga genre keroncong, yakni keroncong asli, keroncong kreatif dan keroncong orkestra, yang akan digelar dalam festival ini. Hari mengakui, secara kuantitas peserta festival tahun 2016 berkurang, karena Kepala Disbudpar Pemkot Solo membatasi jumlah peserta dengan alasan agar pentas musik tidak sampai larut malam.

“Dalam Solo Keroncong Festival 2016 kami hanya menampilkan 10 grup, masing-masing lima grup setiap malam. Grup keroncong dari luar Solo hanya Orkes Keroncong Gita Abadi dari Tulungagung yang menyajikan orkestra, Orkes Keroncong Lapis Legit UPI Bandung dan Orkes Keroncong Gema Tugu Yogyakarta,” jelasnya.

Pergelaran “Solo Keroncong Festival 2016” ini, menurut Hari Mulyono, menggunakan konsep panggung berlatar belakang bangunan tua Stasiun Jebres. Konsep yang dipadukan dengan   adegan teatrikal kereta keroncong tersebut, diinspirasi penciptaan salah satu lagu yang dibawakan legenda biduan Waldjinah, yang dilakukan saat dalam perjalanan menggunakan kereta api.

“Jadi antara heritage Benteng Vastenburg, bangunan cagar budaya Stasiun Jebres dan rangkaian kereta, akan menyatu dan divisualisasikan dalam bentuk pagelaran teatrikal kereta keroncong,” ujar Hari lagi. *