Surabaya Masih Butuh Rumah Sakit

 

 

GN/Istimewa Sebagian warga Surabaya di daerah Waru Gunung dan Gunung Anyar masih butuh rumah sakit.

GN/Istimewa
Sebagian warga Surabaya di daerah Waru Gunung dan Gunung Anyar masih butuh rumah sakit.

SURABAYA (Global News)-Ternyata Surabaya masih butuh rumah sakit. Ada beberapa kawasan  yang belum ada rumah sakitnya sehingga warganya mengalami kesulitan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terdekat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan ada dua yang daerah yang belum ada rumah sakitnya yaitu di Gunung Anyar dan Waru Gunung. Akibatnya, jika ada warga yang sakit, mereka harus mendapatkan pelayanan di  kawasan lain yang jauh dari tempat tinggalnya.

“Di Gunung Anyar dan Waru Gunung belum ada rumah sakit.  Tentu saja warga harus keluar daerahnya untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan,” katanya, kemarin.

Diakui, jumlah rumah sakit di Surabaya sudah banyak mencapai 61 unit dan itu berbagai tipe A. Namun kebanyakan rumah sakit ini berkonsentrasi di beberapa kawasan saja. Sedangkan untuk dua kawasan di sana memang hanya ada sebatas puskesmas dan klinik.

Terkait itu, pihaknya siap untuk membangun rumah sakit di sana. Hanya saja tak bisa tahun ini karena masih dilakukan kajian. “Kami memang berencana membangun RSUD di sana. Mudah-mudahan bisa dilakukan secepatnya,” ucapnya.

Ia menambahkan pihaknya sendiri membuka diri jika ada rumah sakit swasta yang mau membangun  rumah sakit di sana. Sebab, semakin banyak rumah sakit, maka pelayanan kesehatan akan bisa dinikmati seluruh warga kota.

“Memang kami akui untuk membangun rumah sakit ini tidak hanya butuh modal besar. Namun juga butuh peralatan medis yang lengkap dan juga tenaga medis yang ahli,” jelasnya.

Tak heran, jika ada rumah sakit sudah berdiri, namun belum  bisa beroperasi karena kekurangan tenaga dokter.  Selain itu peralatan medis sangat mahal dan impor.

“Sekarang ini yang lagi gencar membangun rumah sakit adalah kelompok Siloam dan Mitra Keluarga. Dan sekarang rumah sakit yang baru berdiri sudah banyak yang bertaraf internasional,” katanya.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi) Jatim dr. Syamsul Arifin mengatakan pembangunan rumah sakit tidak seperti pembangunan hotel yang sekarang lagi merebak di Surabaya. Selain perizinan, banyak kriteria yang harus dilengkapi oleh pengelola rumah sakit. Di antaranya adalah tenaga dokter, terutama yang spesialis ini sangat sedikit jumlahnya. Selain itu juga investasi di peralatan medis membutuhkan anggaran yang besar.

“Tapi saya optimis, rumah sakit di Surabaya terus tumbuh. Buktinya sekarang jumlah rumah sakit-nya cukup banyak. Memang harus diakui ada beberapa daerah yang belum ada rumah sakitnya,” kata lelaki yang juga sebagai Direktur RSI Jemur Handayani ini.

Soal limbah rumah sakit, Syamsul memperingatkan supaya limbah medis menjadi fokus perhatian. “Pengelolaan limbah medis itu biayanya besar dan tidak menghasilkan untung. Tapi ini harus menjadi fokus perhatian,” tandas staf pengajar Fakultas Kedokteran Unusa ini.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Musdiq Ali Suhudi menekankan supaya pengolahan limbah medis diperhatikan. Penambahan limbah tidak kalah dengan hotel. “Limbah rumah sakit ini berbahaya sehingga penanganannya khusus,” katanya.pur