Semburan Lumpur Bojonegoro Keluarkan Gas Beracun, Tapi Tak Berbahaya

GN/Istimewa Sejumlah pengunjung  mendekati semburan lumpur di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Bojonegoro.

GN/Istimewa
Sejumlah pengunjung mendekati semburan lumpur di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Bojonegoro.

BOJONEGORO (Global News)–Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menyatakan semburan air bercampur lumpur di Desa Jari, Kecamatan Gondang mengandung gas beracun “H2S” (Hidrogen Sulfida) sebesar 1 ppm.

“Gas H2S yang keluar di lokasi semburan lumpur itu, membahayakan manusia, karena di atas ambang batas yang ditentukan,” kata Kepala Bidang BLH Pemkab Bojonegoro Hari Susanto, di Bojonegoro, seperti diberitakan Antara, kemarin. Sesuai ketentuan, katanya, gas Hidrogen Sulfida yang diperolehkan atau tidak membahayakan manusia sebesar 0,003 ppm.

“Meski demikian, gas H2S itu, menjadi tidak lagi berbahaya bagi manusia, karena lokasinya jauh dari pemukiman warga,” kata Hari. Dengan demikian, katanya, pengaruh gas H2S yang keluar itu, sudah hilang terbawa angin ketika sampai dilingkungan pemukiman warga.

Hari menjelaskan semburan air bercampur lumpur itu, diketahui warga di desa setempat sejak Kamis (7/4/2016) sekitar pukul 01.00 WIB. Sebelumnya warga mendengar ada suara ledakan seperti gempa.

Sejumlah warga kemudian mengetahui ada semburan air bercampur lumpur muncul dari dalam tanah milik warga dengan diameter 30 centimeter, dengan semburan sekitar 2 meter. “Semburan air bercampur lumpur di lokasi desa setempat pagi tadi sudah mengecil. Tapi, di lokasi lainnya ke arah barat daya dari lokasi semburan pertama, juga muncul semburan serupa, bahkan lebih besar,” paparnya.

Menurut Hari, Tim BLH sudah turun ke lokasi untuk mengambil contoh semburan air bercampur lumpur untuk dilakukan uji laboratorium di Mojokerto. “Saya mencium bau minyak, ketika mendekat ke arah lokasi,” ucapnya.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Andik Sudjarwo mengimbau warga tidak mendekat ke arah lokasi semburan, karena ada gas beracun H2S yang bisa membahayakan manusia. “Bagaimanapun juga warga sebaiknya tidak medekat ke arah lokasi semburan, sebab mengeluarkan gas beracun,” ucapnya.

Sementara itu Ahli tektonik dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, DR Jatmiko Setiawan, menyatakan, semburan lumpur bercampur air di Desa Jari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dinilainya tidak berbahaya.

“Disimpulkan bahwa yang keluar di kawasan tersebut sebenarnya hanya gas dan tidak akan terjadi seperti kejadian di Lapindo Sidoarjo,” katanya, dari Bojonegoro, Senin.

Ia yang pernah melakukan peninjauan lapangan di lokasi di Kecamatan Gondang itu menjelaskan gas yang keluar mengandung belerang dan H2S (hidrogen sulfida) yang tidak terlalu besar (konsentrasi partikel 1 ppm), karena dekat dengan intrusi andesit yang banyak mengandung besi.

Dengan demikian, kalau tidak dalam kondisi musim hujan, maka yang keluar hanyalah gas, tanpa air dan lumpur.

“Dimungkinkan keluarnya gas hanya kecil dan bisa jadi Kahyangan Api ke-2 di Bojonegoro jika disulut api dan selalu keluar gas, maka api tidak pernah akan padam,” ujar dia.

Ia juga mengemukakan gas yang keluar berasal dari reservoir Formasi Seloreja ataupun Formasi Wonocolo yang hanya tipis di atas intrusi Andesit. Formasi Wonocolo dan Formasi Seloreja adalah reservoir yang terlipat membentuk antiklin Selo Gajah, yang bisa dipakai untuk perangkap gas.

Oleh karena itu, lanjut dia, lumpur dan air yang keluar hanyalah sedikit dengan debit sekitar 1 liter per detik, karena melalui batu lempung Formasi Kalibeng yang sudah padat.

Secara ilmiah, menurut dia, terjadinya kawasan Bojonegoro, disebabkan lempeng India-Australia, menumbuk Jawa, sekitar 3 juta tahun lalu. Akibat tumbukan itu, terbentuklah lipatan-lipatan di Bojonegoro, salah satunya antiklin Selo Gajah.

Bersamaan dengan terbentuknya lipatan tersebut terjadilah intrusi andesit, yang selanjutnya tertutup secara tidak selaras oleh batu lempung Formasi Kalibeng. Formasi Kalibeng juga terkena tektonik Ple

istosen, sekitar 1,6 juta tahun lalu dan terlipat serta secara keseluruhan Bojonegoro akhirnya yang semula laut berubah, menjadi daratan. “Pada titik perpotongan tersebut terjadilah kebocoran gas yang terjadi saat ini,” ujarnya.(ant/faz)