Potensi Diretas, UNBK Tak Sepenuhnya Aman dari Kecurangan

GN/Istimewa SIMULASI: Para siswa kelas SMPN 51 Balas Klumprik Surabaya mengikuti ujicoba ujian nasional berbasis komputer (UNBK) di sekolah mereka. Pelaksanaan UNBK dinilai belum sepenuhnya menghilankan potensi kecurangan. Termasuk salah satunya gangguan para hacker yang coba-coba mencari keuntungan dari pelaksanaan UNBK.

GN/Istimewa
SIMULASI: Para siswa kelas SMPN 51 Balas Klumprik Surabaya mengikuti ujicoba ujian nasional berbasis komputer (UNBK) di sekolah mereka.

JAKARTA (Global News)–Penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tidak hanya berpotensi menghadapi gangguan teknis. UNBK juga dikhawatirkan rawan dari gangguan hacker (peretas)yang coba-coba mencari keuntungan atau hanya mengganggu kelancaran pelaksanaannya.

Pakar Teknologi Informasi dari UIN Syarif Hidayatullah, Abimanyu Wachjoewidajat mengingatkan agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) percaya diri secara berlebihan dalam pelaksanaan UNBK. Pelaksanaannya perlu diantisipasi terutama dari ancaman gangguan peretas.

“Semua yang berbasis online termasuk UNBK rentan sama hacker, sangat mungkin disusupi. Baik untuk bertujuan iseng, atau mengambil keuntungan,” kata Abimanyu, di Jakarta, Selasa (29/3/2016). Ada berbagai celah yang dapat dijadikan pintu masuk oleh peretas. Di antaranya melalui keberadaan petugas teknis yang menjalankan sistem UNBK. Selain itu, peretas juga mungkin menyusup dalam bentuk “barang”.

“Barang maksudnya bisa berbentuk data dimana saat masuk ke dalam sistem dapat membuat suatu program membaca data-data termasuk password,” papar Abimanyu. Selain itu, UNBK juga rentan gangguan teknis seperti listrik dan gangguan teknis komputer itu sendiri.

Gangguan listrik tidak hanya pemadaman listrik, namun listrik yang tidak stabil juga akan memberi gangguan yang sangat signifikan. Begitu juga gangguan-gangguan teknis yang berasal dari persoalan teknis komputer itu sendiri. Mulai dari CPU macet, gangguan keyboard, dan gangguan tampilan pada layar.

“Sementara di setiap sekolah belum tentu ada petugas teknis khusus yang disediakan untuk mengantisipasi gangguan semacam ini. Dan ini tidak menjadi persyaratan oleh Kemdikbud,“ ujarnya. Abimanyu mengatakan, UNBK juga tidak sepenuhnya aman dari kecurangan atau kegiatan mencontek. Dengan sistem online, cara mencontek justru akan lebih canggih.

“Kalau dulu mencontek ditulis di tangan, tengok kanan kiri, sekarang tinggal di print screen lalu disimpan di flashdisk, bisa disebar kemana-mana sebagaimanapun panitia mengacak soal,” sebut Abimanyu. Untuk itu, ia meminta panitia UNBK agar melakukan persiapan dan langkah antisipatif yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Terlebih lagi tahun ini jumlah sekolah dan peserta UNBK 2016 semakin bertambah.

Untuk diketahui, penyelenggaraan UNBK pertama kali digelar pada 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia di singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Selanjutnya secara bertahap pada 2015 dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 555 sekolah. Sedangkan tahun ini jumlahnya mencapai lebih dari 4.000 sekolah. Penyelenggaraan UNBK menggunakan sistem semi online, dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan ke server lokal.

Telah Diperhitungkan

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Kemdikbud, Nizam menyatakan, Kemdikbud telah memperhitungkan segala celah yang dapat mengganggu penyelenggaraan UNBK, termasuk apa yang disebutkan oleh Abimanyu. Nizam meluruskan, bahwa sistem yang digunakan UNBK bukan online.

UNBK menggunakan sistem sinkronisasi data dalam bentuk terenkripsi, sehingga sistem hanya akan berjalan pada server yang sudah dikenali dari pusat. “Dan masih banyak lagi feature keamanan dan pengamanan yang Kami persiapkan untuk mengantisipasi gangguan tersebut,” tegas Nizam.

Kalaupun ada yang mencuri server sekalipun maka tidak ada gunanya. Karena soalnya belum ada dan tidak bisa dibaca, setiap siswapun nantinya akan mendapat set soal yang berbeda-beda.

Ia juga menegaskan, untuk menghindari gangguan teknis, panitia menerapkan syarat yang ketat. “Sekolah hanya boleh menyelenggarakan UNBK bila telah betul-betul siap, dari infrastrukturnya, dari sumber daya manusianya (teknisi dan proktor), siswa, guru dan orang tua siap,” tandas Nizam.

Sebelum benar-benar diujikan, Kemdikbud juga melakukan serangkaian pelatihan dan uji coba berkali-kali untuk memastikan teknisi dan proktor siap menyelenggarakan UNBK. “Tidak tiba-tiba melakukan UNBK tanpa pelatihan dan persiapan. Kalau sekolah belum siap justru tidak kita bolehkan ikut UNBK,“ pungkasnya. (kja/zis)