Museum Radya Pustaka Tak Bisa Bayar Gaji Karyawan

GN/Istimewa Museum tertua di Indonesia Radya Pustaka tutup.

GN/Istimewa
Museum tertua di Indonesia Radya Pustaka tutup.

SOLO (Global News)-Museum tertua di Indonesia “Radya Pustaka” yang berlokasi di kawasan Taman Sriwedari, Solo, dalam dua hari terakhir tutup. Penyebabnya, museum yang dirintis Keraton Surakarta itu terbelit masalah keuangan akibat bantuan dana operasional dari APBD Solo belum cair, sehingga gaji karyawan sejak bulan Januari belum dibayar.

Anggota Komite Museum “Radya Pustaka”, ST Wiyono, menyatakan kepada wartawan, Kamis (14/4/2016), para karyawan minta izin beberapa hari dengan alasan bepergian ke luar kota. Permintaan izin diajukan pada Rabu (13/4/2016) pagi dan sampai Kamis belum ada karyawan yang masuk kerja.

”Komite museum sebenarnya berniat tetap membuka museum, meskipun saat ini ada masalah keuangan,” ujarnya.

Menurut ST Wiyono, sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan keterangan tentang alasan para karyawan tidak masuk kerja. Dia menduga para karyawan mengambil sikap itu karena gaji yang belum dibayarkan.

Dia menambahkan, komita tidak punya dana untuk membayar gaji 12 karyawan museum. Sedangkan hasil penjualan tiket masuk dialokasikan untuk biaya perawatan rutin dan pembayaran biaya rekening listrik.

elaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo, Rakhmat Sutomo, menyatakann Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo telah memberi disposisi terkait proposal yang diajukan pengelola Museum Radya Pustaka. Saat ini Dinas kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) tengah memverifikasi proposal yang diajukan dan dia akan segera mencairkan biaya operasional.

”Prinsipnya biaya operasional tetap harus dicairkan. Tetapi prosesnya harus dipilah di Disbudpar yang merupakan leading sector,” jelasnya.

Kepala Disbudpar, Eny Tyasni Suzana, menuturkan, dalam proses pencairan dana bantuan secara administrasi harus lengkap. Tahun 2016 ini Komite Museum Radya Pustaka mengajukan biaya operasional sebesar Rp 300 juta. Pengajuannya dilakukan dalam tiga tahap melalui proposal yang kini tengah dalam proses (Tok Suwarto)