Institut KH Abdul Chalim Dirancang Jadi Universitas Kelas Dunia

 

GN/Djoko Pitono  Mahasiswa Institut KH Abdul Chalim

GN/Djoko Pitono
Mahasiswa Institut KH Abdul Chalim

SURABAYA (Global News)-Terbayangkah Anda bahwa ada institut swasta di Pacet, Mojokerto, yang dirancang menjadi sebuah universitas kelas dunia? Selevel dengan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, Universitas Harvard di AS, atau Universitas Sorbonne di Prancis? Mungkin tidak.

Tetapi itulah cita-cita besar yang dipatok oleh Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah. “Allah SWT menyukai umatnya yang mempunyai cita-cita tinggi, cita-cita besar,” kata Kiai Asep.

“Sudah waktunya kita umat Islam di Indonesia mengembalikan kejayaan ilmuwan Islam dalam ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dalam skala global. Itulah sebabnya kita mendirikan Institut KH Abdul Chalim,” tambah sang kiai.

Kiai ini memang bukan sembarang kiai. Sepuluh tahun lalu, pondoknya masih sangat sederhana. Sekarang pondoknya telah “disulap” menjadi ponpes megah dan terkenal dengan sekitar 7.000 santri.

Baru dibuka pada September lalu, Institut KH Abdul Chalim sudah mencatat sesuatu yang luar biasa. Dari sekitar 300 mahasiswa baru yang diterima, ada hampir 100 mahasiswa berasal dari 23 propinsi di Indonesia. Selain itu ada 19 mahasiswa dari dari enam negara asing: Afghanistan, Kazakstan, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Malaysia. Mereka tersebar di enam prodi dari tiga fakultas yang ada. Prodi baru akan segera ditambah.

Dalam tahun ajaran baru 2016-2017, persiapan dilakukan untuk menarik lebih banyak lagi mahasiswa asing. Dengan bantuan jaringan NU di luar negeri, terutama H. Marukhin dari Malaysia, belasan mahasiswa asing telah tertarik mengikuti kuliah dengan beasiswa. Mereka akan belajar hingga lulus sarjana, bahkan hingga melanjutkan di Program Doktor yang telah dirancang pula oleh pihak institut.

Gulim Konysbekova (16 tahun), misalnya, berasal dari Kazakstan. Seorang teman gadis ini yang juga dari Kazakstan adalah Ubish Aisha. Mimpi apa kamu Gulim, kok bisa kuliah di Institut KH Abdul Chalim di Indonesia? Gulim tersenyum saat mendapat pertanyaan ini. Dalam bahasa Inggris, Gulim mengatakan ayahnya seorang guru matematika, fisika dan permesinan. Dia memperoleh informasi tentang beasiswa institut yang baru dibuka di Pacet ini dari seorang bibinya yang tinggal di Malaysia. Sang bibi memberitahu orangtuanya dan Gulim pun segera setuju tawaran beasiswa tersebut.

“Saya ingin belajar di sini karena banyak kaum muslimnya. Saya ingin tahu Islam lebih banyak, selain ingin belajar bahasa asing lebih banyak lagi,” kata Gulim, yang menguasai bahasa Rusia dan Inggris, selain bahasa Kazaks.

Seperti Gulim, Ubish Aisha (19 tahun) juga fasih berbahasa Inggris dan Rusia. Dia juga mendengar adanya tawaran belajar di Indonesia dari Malaysia dan dia pun langsung senang. “Kesempatan belajar di sini adalah peluang untuk belajar banyak bahasa asing, budaya dan tradisi bangsa dan negara lain,” kata Aisha.

Aisha mengatakan, juga punya banyak impian. Selain belajar agama, dia ingin melakukan perjalanan ke berbagai bagian dunia.”Mimpi terbesar saya adalah travelling, karena di dunia ini begitu banyak tempat-tempat yang tidak biasa dan menarik,” kata Aisha.

Dari Kazakstan juga ada Nursulton, yang meskipun tak bisa berbahasa Inggris, bahasa Arab maupun bahasa Indonesia, tetapi sangat percaya diri, gaul, dan rajin belajar.

Dari Afghanistan, ada Faril Q. Kukar. Keluarganya adalah keluarga cendikiawan terkemuka. Kakeknya adalah imam di sebuah masjid besar di Kabul. Ayahnya, Dr. Fazil Ghani, adalah pakar hukum Islam dan juga Direktur Nahdlatul Ulama Afghanistan, sebuah organisasi masyarakat di negara itu. Organisasi tersebut punya hubungan baik dengan NU di Indonesia. “Jadi saya kuliah di sini juga mewakili Nahdlatul Ulama Afghanistan,” katanya.

Pemuda tampan dan tinggi besar ini mengatakan, dirinya ingin belajar lebih banyak lagi tentang Islam di Indonesia yang terkenal damai dan toleran.

Lain lagi dengan Ahmat Nurullah dari Vietnam. Anak pertama dari enam bersaudara ini mengatakan tak menyangka dirinya bisa belajar agama Islam di Indonesia. Warga Vietnam yang beragama Islam sangat sedikit, termasuk di daerah kelahirannya. Mereka yang beragama Islam pun jarang yang belajar agama sampai tingkat tinggi. “Bagi mereka, belajar agama tidak akan membantu mereka untuk memperoleh pekerjaan yang baik dan menjadi sejahtera secara ekonomi,” kata Nurullah.

Oleh karena itu, Nurullah mengatakan, dirinya ingin belajar secara serius dan menyelesaikan kuliahnya, serta kembali ke Vietnam untuk ikut memajukan Tanah Air.

Dalam bahasa Inggris, Nurullah juga mengatakan dirinya punya impian untuk mendirikan sekolah Islam di negeri sehingga pemahaman agama Islam kaum muslim di negerinya akan lebih baik. “Insya Allah, they will be better,” kata Nurullah.

Semua mahasiswa asing yang jumlahnya 19 orang kini diwajibkan mengikuti kuliah bahasa Indonesia sebelum mengikuti perkuliahan secara intensif semua mata kuliah di institut.

 

Pondok Megah dan Indah

Sebagian mahasiswa baru Institut KH Abdul Chalim berasal tempat-tempat dari propinsi di luar Jawa. Taslim Tupong, contohnya, berasal dari Alor, Kalabahi, NTT. Ayahnya seorang nelayan sederhana yang menggantungkan nafkahnya sehari-hari di laut. “Bapak saya hanyalah nelayan harian, yang tiap hari ke laut untuk mencari rezeki Allah yang disimpan di lautan lepas. Ayah saya tak pernah mengeluh meskipun pulang dari laut tidak mdi NTTembawa rezeki Allah,” katanya.

Dia sejak awal menyadari tidak akan mampu kuliah karena keadaan ekonomi keluarga tak memungkinkan. Tapi dia gembira saat ditelpon gurunya, yang juga pengurus NU di NTT bahwa ada tawaran beasiswa kuliah di Jawa. “Saya sampaikan pada bapak saya dan bapak langsung menangis serta memeluk saya,” kata Taslim Tupong.

Taslim menambahkan, ayahnya berpesan agar dia belajar sungguh-sungguh agar dapat mengangkat derajat keluarga. Agar orang-orang tidak memandang sebelah mata.

Mahasiswa lain dari luar Jawa adalah Edy Kurniawan. Asal Tanabau, Selayar, Sulawesi Selatan. Ayahnya adalah pekerja sederhana dan tak mampu lagi untuk menyekolahkan anaknya ke tingkat lebih tinggi. Oleh kar, yaena itu, Edy merasa sangat beruntung ketika memperoleh beasiswa untuk kuliah di Institut KH Abdul Chalim di Pacet.

“Tak terbayangkan saya bisa kuliah di Institut KH Abdul Chalim, sekaligus  mondok di Ponpes Amanatul Ummah. Pondoknya betul-betul megah dan indah, sejuk udaranya dan jernih airnya,” kata Edy.

Lain lagi Angga Arjunas, asal Tanjungagung, Waykanan, Lampung. Dia bercerita, semangat belajarnya terpacu oleh kerja keras ibunya yang membesarkan empat anak hingga besar karena ayahnya meninggal sejak lama.

“Semangat saya tambah terpacu ketika saya dapat kuliah di sini. Teman-teman saya amat banyak, bahkan dari luar negeri. Saya bertekad akan belajar keras hingga meraih gelar doktor, seperti harapan Pak Kiai Asep Saifuddin,” kata Angga.

Nur Azizah, gadis asal Lombok, mengungkapkan betapa bingungnya dia saat pertama kali datang di Pondok Amanatul Ummah di Pacet untuk menemui Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru. “Saya merasa begitu asing. Tak ada yang saya kenal sama sekali. Saya bingung. Namun setelah saya disapa seseorang, perasaan takut dan khawatir saya langsung hilang,” katanya.

“Tak terasa saya ternyata punya kawan yang begitu banyak. Mereka pun baik hati, sopan, ramah, dan penuh pengertian,” kata Azizah pula.

Seorang mahasiswi Tarbiyah dari Jawa Barat, Sopi Yuniarti Luthfiah, mengatakan terkesan pada pengarahan pertama Kiai Asep Saifuddin. Dalam pengarahan tersebut, Kiai Asep menyebut adanya persepsi masyarakat bahwa perguruan tinggi Islam sulit berkembang dan cenderung kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini memang membuat Kiai Asep prihatin.

“Tetapi Kiai Asep bertekad untuk mengubah persepsi itu. Caranya adalah mengelola Institut KH Abdul Chalim secara serius. Evaluasi intensif akan selalu diterapkan pada mahasiswa maupun dosen. Semua mahasiswa harus fasih bahasa Inggris dan bahasa Arab, paham akuntansi dan melek teknologi IT. Dalam waktu lima tahun, institut harus menjadi perguruan tinggi terbaik,” kata Sopi. Sopi mengatakan, tekad Kiai Asep tersebut sangat luar biasa. “Saya jadi sangat bersemangat kuliah di institut ini,” tambah Sopi. (Dr. H. Zakariyah)