Dikira Sakit Ginjal, Ternyata Sakit Pinggang

GN/Ilustrasi

GN/Ilustrasi

Anda termasuk yang sering mengalami sakit pada bagian pinggang? Jangan terburu menganggapnya akibat sakit ginjal. Siapa tahu itu hanya sakit akibat otot atau sebab lainnya. Lantas bagaimana cara membedakannya?

Arif, karyawan sebuah kantor swasta di Surabaya, beberapa hari belakangan merasa gelisah. Selama lebih dari satu minggu, ia merasakan sakit pada bagian pinggangnya. Meski belum pasti betul, namun pria yang baru saja menginjak usia kelapa empat ini sudah menyimpulakn terlenih dulu. Ia merasa ada yang salah dengan ginjalnya yang menyebabkan pinggangnya terasa sakit.

Begitulah umumnya, masyarakat Indonesia memang masih dengan mudah menganggap sakit pinggang disebabkan oleh sakit ginjal. Dari segi gejala dan intensitas nyeri agak sulit membedakan sakit pinggang yang diderita memang benar sakit pinggang, atau karena ginjal.

Yang perlu diketahui, sakit pinggang bisa terjadi karena banyak faktor seperti masalah otot, tulang, atau syaraf. Namun, jika sakit pinggang yang disebabkan oleh ginjal maka ia tidak akan berubah atau hilang intensitas nyerinya karena perubahan posisi. Contoh kasusnya, apabila pasien merasa nyeri pada pinggangnya itu berkurang pada saat ia duduk atau terbaring, kemungkinan itu hanyalah sakit pinggang.

Dokter  Spesialis Urologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo DR. dr. Nur Rasyid, Sp. U mengungkapkan rasa nyeri yang diderita pasien sakit pinggang yang disebabkan oleh ginjal tidak akan berpengaruh jika ia berubah posisi.

Berbeda halnya apabila pasien yang mengalami nyeri pinggang karena ginjal, jika bagian yang terasa nyeri ditekan atau dipijat maka akan terasa lebih sakit.

Selain dari intensitas nyeri, pasien sakit pinggang karena ginjal akan mengalami demam. Namun, pastikan juga demam bukan terjadi karena infeksi pada otot pinggang. Karena apabila terjadi infeksi pada otot kemungkinan akan menimbulkan demam juga.

Kemudian ketika pasien buang air kecil, warna urine terlihat lebih keruh hingga yang terparah adalah kemerahan bercampur darah. Kalau sudah demikian, untuk penanganan lebih lanjut, sebaiknya dilakukan USG agar ginjal bisa dicek untuk mengetahui apakah normal atau ada kelainan misal melebar karena tersumbat hingga bengkak.

Namun, USG sifatnya hanya untuk mengetahui apakah anda gangguan atau tidak pada ginjal, apabila untuk masalah fungsi ginjal, maka itu akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium.

Supaya ginjal tetap berfungsi dengan baik dan sehat, maka tindakan preventif paling sederhana adalah minum air yang cukup. Kemudian kurangi konsumsi gula dan garam, banyaklah bergerak minimal jalan kaki, dan rutin berolahraga.

Terkait ukuran air yang harus diminum guna membantu kinerja ginjal, dr Tunggul D. Situmorang, SpPD mengungkapkan bahwa bukan berarti kita harus minum air berlebih untuk menjaga kesehatan ginjal. “Urin yang keluar dari tubuh sekitar satu liter sampai satu setengah liter, itu sama dengan sekitar tujuh gelas. Sedangkan, penguapan di tubuh dengan suhu tropis sekitar 700-800 gram. Tapi, ini bukan berarti mutlak harus minum air sebanyak 8 gelas per hari.

“Sebanyak apa minum air, sebaiknya disesuaikan dengan aktivitasnya. Jadi, kalau aktivitasnya lebih banyak, dengan penguapan tubuh yang lebih banyak, maka sebaiknya minum air lebih banyak,” jelasnya.

Apalagi, menurut Tunggul, kebutuhan cairan tubuh sudah diatur secara fisiologis. Ini ditandai dengan rasa haus yang muncul ketika tubuh mulai kekurangan cairan.

Selain itu juga tidak disarankan minum air berlebihan, karena justru dapat membuat beban pada ginjal saat filtrasi mengeluarkan racun di tubuh. “Anggapan minum air sebanyak-banyaknya akan menolong ginjal sebaik-baiknya, itu tidak betul. Misalnya, jangan sampai saking semangatnya, minum air 8 gelas langsung di pagi hari. Ini justru enggak baik untuk ginjal. Delapan gelas kan untuk sehari bukan sekali minum,” ujar Tunggul.(zis)