3.736 Kelompok Penari Seluruh Indonesia Ikuti ‘Solo 24 Jam Menari’

GN/TOTOK SUWARTO Penari "Solo 24 Jam Menari", Samsuri dan Pudjo Setiyo menari sebelum kegaiatan dimulai.

GN/TOTOK SUWARTO
Penari “Solo 24 Jam Menari”, Samsuri dan Pudjo Setiyo menari sebelum kegaiatan dimulai.

SOLO (Global News)-Pagelaran seni tari akbar yang melibatkan ribuan orang “Solo 24 Jam Menari” untuk merayakan Hari Tari Dunia atau World Dance Day 2016, Kamis (28/4/2016) petang dimulai dengan sebuah karnaval tari dari berbagai daerah.

Karnaval yang mendahului penari 24 jam, Samsuri dari ISI Surakarta dan Mudjo Setiyo dari Wayang Orang Bharata Jakarta sebelum memulai aksinya itu, di antaranya barisan karnaval tari Barong Thir-Thur Sogok dari Blora, tari Buthonan Banyuwangi dari Jawa Timur, tari Lengger dari Banyumas, tari Baleganjur dari Bali dan lain-lain.

Perayaan “Solo 24 Jam Menari” ke-10 tahun 2016 dengan tema “Menyemai Rasa, Semesta Raga” yang digelar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tersebut, menampilkan dua penari berbeda latar belakang, yakni Samsuri merupakan penari akademisi dan Mudjo Setiyo, seniman profesional pemain Wayang Orang Bharata Jakarta.

Berbeda dengan pagelaran “Solo 24 Jam Menari” yang sudah berlangsung sembilan kali, pada pagelaran yang ke-10 ini diikuti sebanyak 3.736 kelompok penyaji yang mewakili hampir seluruh wilayah Indonesia. Selain dua penari 24 jam non-stop, pertunjukan tari dari kelompok-kelompok tersebut digelar hampir selama dua hari penuh, Kamis dan Jumat, kemarin.

Dalam pagelaran “Solo 24 Jam Menari” ke-10 ini, empu tari gandrung khas Banyuwangi, Nyi Poniti, di usianya yang telah senja menampilkan sebagian karyanya di Pendapa ISI Surakarta. Selain penari gaek dari ujung timur Pulau Jawa itu, juga tampil empu tari “Kebyar Duduk” dari Bali, Ida Bagus Oka Wirjana.

Rektor ISI Surakarta Prof. DR. Sri Rohana mengungkapkan, pada pembukaan “Solo 24 Jam Menari” 2016 meluncurkan sebuah buku berisi catatan selama satu dasa warsa perjalanan hajadan akbar “Solo 24 Jam Menari” yang digelar pertama kali pada 2006.

“Perayaan Solo 24 Jam Menari yang sudah 10 kali merupakan laku kebudayaan dalam rangka menelusuri manusia dan semesta dengan perantaraan karya seni tari. Dalam menyemai rasa semesta raga, perayaan Solo 24 Jam Menari telah menghasilkan capaian yang menjadi awal untuk pencapaian tahun berikutnya,” tuturnya yang diucapkan secara puitis.

Menurut Ketua Panitia “Solo 24 Jam Menari”, Joko Asmoyo, dalam perayaan “Hari Tari Dunia” di Kota Solo tahun 2016 ini, peserta yang terdaftar sebanyak 221 grup, termasuk grup tari luar negeri, seperti China Conservatory of Music, Beijing dan lain-lain.

Penari gaya Solo gagah dan koreografer, Samsuri, sebelum memulai menari 24 jam non-stop menyatakan kepada wartawan, keraguan yang semula menghantui dirinya sirna setelah melihat antusiasnya masyarakat terhadap pagelaran “Solo 24 Jam Menari” ke-10 petang. Dia yakin mampu menuntaskan tugas menari selama sehari semalam tanpa henti, setelah semangatnya bangkit olah dukungan berbagai pihak.

“Selama dua bulan saya mempersiapkan diri dengan berolahraga untuk meningkatkan stamina. Sebagai penari, saya dituntut selalu siap menari sepanjang waktu. Sekarang saya siap dan semoga dapat menyelesaikan tugas menari 24 jam dengan baik,” ujarnya (Tok Suwarto).