Rencana Penambahan Runway Lapter Harun Tohir Bawean Belum Diusulkan

GN/ASEPTA Y PERMANA LAPTER HARUN TOHIR: Tampak salah satu pesawat kecil berkapsitas 15 seat sedang mencoba runway lapter Harun Tohir, di Bawean, Gresik, kemarin.

GN/ASEPTA Y PERMANA
LAPTER HARUN TOHIR: Tampak salah satu pesawat kecil berkapsitas 15 seat sedang mencoba runway lapter Harun Tohir, di Bawean, Gresik, kemarin.

Mimpi warga Gresik, khususnya di wilayah Bawean untuk memiliki lapangan terbang (lapter) sendiri akhirnya tercapai. Namun, sayang lapter Harun Tohir yang mulai dioperasikan pekan lalu ini, belum bisa dilintasi pesawat ukuran besar.

Oleh: Asepta Y Permana

LAPANGAN Terbang (Lapter) Harun Tohir di Bawean, Kab. Gresik resmi dioperasionalkan mulai pekan lalu, dengan rute Surabaya (Bandara Juanda) ke Bawean, dan sebaliknya. Penerbangan dijadwalkan setiap hari Selasa dan Kamis.

Sayang pesawat yang mendarat di lapter yang berada di Kecamatan Tambak itu masih kecil, berkapasitas 15 seet. Saat ini pesawat yang melayani adalah Airfas Indonesia, tipe DHC 6 Twinn Otter Serie 300. Ini karena panjang landasan atau runway lapter cuma 900 meter, butuh sekitar 1.300 meter agar pesawat dengan penumpang di atas 40 orang bisa lepas landas.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kab. Gresik memastikan, jika anggaran pembebasan lahan perpanjangan runway lapter tahun ini, sudah dianggarkan di Bagian Administrasi Pemerintahan Pemkab Gresik. Tapi hingga sekarang Dishub belum menyerahkan dokumen perencanaannya.
“Memang ada anggaran Rp15 miliar untuk pembebasan lahan. Tapi itu masih global,” ujar M Jusuf Ansyori, Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Pemkab Gresik, baru-baru ini.

Global yang dia maksud, kata Jusuf, karena anggaran tersebut disiapkan tidak hanya untuk pembebasan lahan Lapter Bawean, tapi juga untuk pembebasan lahan tanggul Kali Lamong, pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Panceng, dan rencana pembangunan tempat uji Kir kendaraan.

“Tapi hingga saat ini saya belum menerima dokumen perencanaan keempatnya,” ungkapnya. “Dokumen perencanaan mana yang lebih dulu masuk, itu yang akan kita proses dulu, termasuk penggunaan anggarannya,” imbuhnya. Dokumen perencanaan ini yang membuat adalah Satuan Kerja (Satker) terkait. Untuk Lapter Bawean, maka yang membuat adalah Dishub.

Dokumen perencanaan, lanjut Jusuf, akan digunakan dasar untuk mengeluarkan anggaran. “Melalui dokumen perencanaan itu bisa kita ketahui berapa lahan yang dibutuhkan. Katanya Lapter butuh menambahan 300 hingga 400 meter, tapi kan lebarnya kita tidak tahu. Dan sisi mana saja yang harua dibebaskan,” terangnya.

Dokumen perencanaan ini, tambah Jusuf, menjadi dasar pihaknya melakukan inventarisasi lahan-lahan mana saja yang akan dibebaskan. Kemudian diukur dan dilakukan appraisal. “Jika melihat catatan sebelumnya, harga lahan di sana Rp60 ribu per meter persegi, tapi itu dulu pada tahun 2011.

Dan pada appraisal berikutnya pasti ada kenaikan harga dibanding empat tahun lalu,” terangnya.
Sebelumnya, Kepala Dishub Gresik, Andhy Hendro Wijaya mengatakan, jika runway rencananya akan diperpanjang dari 900 meter saat ini, menjadi 1.300 meter. Peran Pemkab Gresik adalah pembebasan lahan sedangkan pembangunan fisiknya adalah anggaran dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Perpanjangan runway ini agar pesawat yang bisa mendarat lebih besar. Saat ini hanya pesawat dengan kapasitas 15 penumpang, jika runway sudah diperpanjang, maka pesawat dengan kapasitas 45 penumpang bisa mendarat di Lapter Bawean. *