PLTMH Andungbiru Milik Warga, Bayar Listrik dengan Ayam, Bebek, Telur, dan Hasil Bumi

Namanya saja Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH, apalagi terletak di lereng Gunung Argopuro di Kabupaten Probolinggo. Tentu saja manajemennya tidak secanggih PT PLN, BUMN pengelola listrik.

OLEH: IKHSAN MAHMUDI

isa-mikro-hidro1-251

GN/ISTIMEWA BAYAR LISTRIK: Warga membawa ayam, bebek, dan hasil bumi untuk membayar tagihan listrik.

PLTMH di Desa Andungbiru, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo hanya dikelola Kelompok “Tirta Pijar”. Karena itu jangan dibayangkan managemen kelompok yang diketuai M. Rosyid itu sudah komputerisasi.

Begitu sederhananya, sekitar 600 kepala keluarga (KK) dari 4 desa yang dilayani PLTMH yakni, Andungbiru, Tiris, Sumberduren, dan Roto setiap bulan bisa membayar tagihan listrik dengan beragam cara. Yang punya uang, tentu saja bisa membayar rekening listriknya dengan mata uang rupiah.

“Yang tidak punya uang bisa membayar tagihan listrik dengan ayam, bebek, telur, atau hasil bumi seperti singkong, pisang, atau kopi,” ujar Rosyid, Senin (25/1/2016).

Meski serba sederhana, yang jelas, PLTMH berkapasitas 40 kilo Watt itu sangat bermanfaat bagi warga setempat. Pembangkit ini merupakan bantuan dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Rosyid menceritakan, sekitar 1990-an, desa-desa di segi tiga tapal batas (Probolinggo, Situbondo, Jember) ini ketika malam gelap gulita. Maklum tidak ada lampu penerangan listrik.

Ternyata di sebagian wilayah yang tidak terjangkau jaringan listrik PLN itu, memiliki potensi alam dalam bentuk air yang melimpah dan bahkan konstan di musim kemarau. Karena kontur tanah pegunungan, aliran air itu di sejumlah tempat membentuk terjunan air. “Terjunan air itulah yang kemudian kami manfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH),” ujar Rosyid.

Keinginan membangun PLTMH itu muncul ketika Rosyid belajar pertanian di lereng Gunung Semeru, Lumajang, 1998 silam. “Kalau di Lumajang terjunan air bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, mengapa di Andungbiru tidak?” kenang petani sawah dan perkebunan itu.

Ternyata biaya pembuatan PLTMH terutama mesin turbin relatif mahal, hingga mencapai ratusan juta. “Akhirnya dengan modal pas-pasan, pada September 1999, saya beli turbin second (bekas) seharga Rp 30 juta,” ujar Rosyid.

Baru dioperasikan sekitar tiga bulan, mesin turbin itu terbakar. Lagi-lagi Rosyid merogoh koceknya, Rp 2,5 juta untuk memperbaiki turbin bekas itu. “Itu baru untuk turbin, belum lagi untuk biaya penyaluran air dari Kali Pekalen menuju rumah turbin sepanjang 30 meter. Agar ngirit, saya menggunakan 35 tong (drum) bekas yang disambung dengan cara dilas,” ujarnya.

Upaya Rosyid berhasil, sebanyak 70-75 kepala keluarga (KK) di dua dusun, Sumberkapung dan Sumberduren bisa menikmati listrik PLTMH. Hanya saja pasokan listrik 220 Volt berdaya sekitar 20 KVA (20.000 Watt) itu tidak stabil.

isa-mikrohidro-251Pada tahun 2000, guna meningkatkan daya, posisi mesin turbin dengan Kali Pekalen ditinggikan 1,5 meter. “Saya menambah 5 tong untuk pipa penyaluran ke rumah turbin,” ujar Rosyid.

Tetapi baru sebulan dioperasikan, bendungan di Kali Pekalen yang memasok air ke rumah turbin jebol. Rosyid kembali mengeluarkan uang Rp 7 juta untuk memperbaiki bendungan sederhana itu.

Karena permintaan warga terhadap listrik terus meningkat, pada 2004, Rosyid terpaksa harus merogoh kantungnya lebih dalam. “Mobil yang saya beli dari hasil penjualan kopi saya jual, uangnya Rp 75 juta saya belikan mesin turbin,” ujarnya.

Hasilnya PLTMH berdaya 30 KVA bisa menjangkau sekitar 300 KK di Andungbiru. Karena keterbatasan daya, masih ada sekitar 250 KK yang belum terjangkau listrik PLTMH itu.

Di tengah kekurangan pasokan listrik, warga Desa Andungbiru tidak menyangka bakal mendapatkan “durian runtuh”. PT PGN melalui community social responsibility (CRS)-nya membangun PTMH baru untuk warga di lereng Gunung Argopuro itu.

Demi mewujudkan PLTMH, PT PGN menggandeng Lembaga Pusat Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Unibraw Malang. “Saat Pak Mahtuh (Ketua LPPM Unibraw, Malang, Red.) melakukan survei di Andungbiru, awalnya saya tidak seberapa ngreken (merespon, Red.). Bahkan saat bertamu ke rumah, hanya saya kasih mie instan,” ujar Rosyid.

Melalui survei pada 2011 itu, setahun kemudian berwujud PLTMH baru bersanding dengan PLTMH lama. “Akhirnya kami punya dua PLTMH, PLTMH Andungbiru I dan PLTMH Andungbiru II. Listrik pun tidak hanya dinikmati warga Andungbiru tetapi juga sejumlah desa lain seperti, Tiris, Sumberduren, dan Roto,” ujarnya.

Kucuran CSR sebesar Rp 380 juta tidak hanya digunakan untuk pengadaan generator berkapasitas 16 KVA. “Juga digunakan untuk memperbaiki bendungan, bak penenang untuk menampung air sebelum masuk ke power house, stabilisator beban listrik, hingga sambungan ke rumah-rumah warga, dan lain-lain,” ujar Maftuh.

Akhirnya tidak hanya rumah tangga yang mendapatkan pasokan listrik. Sejumlah masjid, puluhan musala, SD dan madrasah ibtidaiyah (MI) juga dipasok listrik. “Listrik PLTMH juga dimanfaatkan warga untuk usaha selep (penggilingan) tepung, jagung, kopi, padi. Bahkan untuk usaha sound system dan bengkel las,” ujar Rosyid.

Tarif listrik PLTMH juga lebih murah dibandingkan listrik PLN. Listrik PLN untuk pelanggan rumah tangga golongan R1 (450 VA) sebesar Rp 532/kWh ditambah biaya langganan Rp 7.500. “Pelanggan PLTMH dikenai biaya Rp 15-20 ribu untuk pemakaian rata-rata flat. Itu pun ada warga yang membayar listrik dengan telur atau ayam, ya tetap kami terima,” ujar Rosyid.

Rekayasa membendung Kali Pekalen untuk PLTMH juga menuai nilai tambah di bidang pertanian. “Kali Pekalen dibendung dialirkan ke pembangkit, kemudian air dikembalikan lagi ke kali. Akibatnya sawah yang sebelumnya seluas 10 hektare sekarang bertambah menjadi 60 hektare yang bisa diairi,” ujarnya. *