Bengawan Solo Meluap Seorang Tewas Saat Kerja Bakti di Sungai

ISTIMEWA Luapan air sungai Bengawan Solo membuat sebgian kota Solo terbenanm genangan air.

ISTIMEWA
Luapan air sungai Bengawan Solo membuat sebgian kota Solo terbenanm genangan air.

SOLO (Global News)-Sejak Kota Solo ditetapkan dalam status siaga bencana, Bengawan Solo dengan anak sungainya meluap. Akibatnya, ratusan rumah di bantaran Bengawan Solo pada Rabu (10/2/2016) malam terendam banjir dan warga penghuni bantaran Bengawan Solo terpaksa mengungsi.

Di Klaten dilaporkan, Suyanto(47) warga Desa Bapangan RT 05 RW 08, Kec. Karangtalun, Klaten, tewas terseret arus Sungai Bapangan saat ikut kerja bakti di sungai tersebut Kamis (11/2/2016). Jenazahnya ditemukan pukul 11.30 sekitar 10 meter dari lokasi kerja bakti.

Keterangan yang dihimpun Global News, menyebutkan, pagi itu korban bersama warga Desa Bapangan sedang kerja bakti membersihkan bambu yang menghambat aliran air sungai. Akibat derasnya aliran air sungai, korban terseret arus sehingga langsung tenggelam.

“Tim SAR bersama warga menemukan jenazah korban di rerumpun bambu, kurang lebih 10 meter dari korban terakhir berdiri” ujar Deni (35) anggota SAR Klaten.

Sementara itu, hujan lebat dalam waktu lama yang mengguyur wilayah Surakarta,  mengakibatkan permukaan air Bengawan Solo naik. Sekitar pukul 22.00 terjadi genangan di berbagai lokasi dan lewat tengah malam banjir masuk ke sejumlah rumah penduduk.

“Permukaan air naik sekitar pukul 22.00 dan memasuki rumah-rumah warga. Pada sekitar pukul 03.00 Kamis dinihari ketinggian air ada yang mencapai satu meter namun pagi harinya berangsur-angsur surut,” ujar Budi Utomo, Ketua RT 01 RW 02 Kampung Sewu, Solo.

Di Kelurahan Sangkrah dan Kel. Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, menurut pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Solo, terdapat 252 kepala keluarga (KK) yang rumahnya terendam banjir. Ketinggian air di tempat itu bervariasi antara 30-an sentimeter sampai satu meter.

“Sejak pukul 00.00, sirine pemantau ketinggian air Bengawan Solo sudah mulai berbunyi karena sudah menyentuh level kuning,” ujar Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD, Gatot Sutanto.

BPBD mencatat,  tinggi muka air (TMA) Bengawan Solo di pos pemantauan Jurug pada pukul 05.00 menunjukkan angka 8,30 meter. Ketinggian air sekitar satu jam kemudian mulai surut dan akibat derasnya arus air, beberapa batang pohon di Taman Jurug sisi selatan ada yang roboh terseret air.

Meluapnya Sungai Bengawan Solo tersebut, selain menggenangi permukiman, juga merendam Instalasi Pengolahan Air (IPA) Jurug milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Solo. Akibatnya, pasokan air ke 8.000-an sambungan rumah (SR) di wilayah Kel. Jebres, Jagalan, Pucangsawit, Sewu, Petoran dan Sudiroprajan terganggu dan terpaksa dilakukan droping air menggunakan mobil tangki.

Kepala Urusan (Kaur) Wilayah Utara IPA Jurug, PDAM Kota Solo, Sugiarto, mengatakan, IPA tidak dioperasikan dengan menutup pipa dan distribusi air dihentikan. Menurut dia, meluapnya  air Sungai Bengawan Solo yang masuk ke dalam reservoar atau kolam penampungan air berakibat mesin pengolah air terganggu.

“Air Bengawan Solo masuk ke instalasi pukul 24.00 tengah malam. Sebagai antisipasi IPA dimatikan, agar air yang diolah tidak kotor akibat bak penampung kemasukan air sungai,” jelasnya. Sambil menjanjikan, setelah kondisi IPA normal akan dioperasikan meskipun pasokan ke pelanggan belum dapat pulih (tok).